Sehari menjelang Ramadhan tepatnya tanggal 24 April 2020 lalu akhirnya adik saya menjalani operasi pengangkatan payudara karena kanker. Sedikit cerita soal awal diagnosanya sudah saya tulis di sini.

Operasi ini dilakukan setelah melalui sesi kemoterapi selama 4 kali dengan jadwal sebulan sekali. Selama itu dia harus bolak-balik Salatiga - Bergas Ungaran untuk medical check up rutin, ketemu dokter dan konsultasi, serta melakukan kemo.

Selama menjalani prosesnya saya merasakan semangat yang tinggi dari dia. Semangat untuk sembuh dan menjalani hidup bersama keluarganya. Semangat yang mungkin saya pun nggak akan sebesar itu jika harus mengalami hal yang sama.

Jarak antara rumah dengan rumah sakit tempat dia menjalani sesi kemo dan operasi kurang lebih 17 kilometer. Mungkin bagi banyak orang jarak segitu nggak terlalu jauh, tapi menurut saya perjalanannya cukup melelahkan apalagi buat orang yang kondisi tubuhnya sedang tidak fit.

Terlebih lagi di masa pandemi seperti sekarang. Wah! Sungguh sangat merepotkan sekaligus menantang.

Putar Otak Karena Corona

4 bulan lalu ketika Corona masih belum masuk kategori darurat kesehatan di Indonesia adik saya masih cukup santai melakukan perjalanan dari rumah ke rumah sakit.

Naik kendaraan roda 2 bersama dengan suami dan anaknya yang paling kecil, menempuh perjalan belasan kilo meter, sampai harus sabar menunggu dokter datang dan nggak jarang pulang sampai tengah malam, dijalani dengan suka cita.

Itupun tidak selalu bisa dilakukan. Ada kalanya dia harus berangkat ke rumah sakit sendiri karena kebetulan suami harus berangkat kerja. Tugasnya sebagai petugas keamanan di sebuah pabrik di Salatiga mengharuskan dia bekerja di jam kerja yang tidak selalu 8 ke 5.

Dan ketika suaminya harus bekerja, adik saya berangkat sendiri dengan menggunakan angkutan umum.

Tapi di masa pandemi seperti saat ini hal itu tidak mudah lagi dilakukan. Kekhawatiran mulai muncul ketika harus ke rumah sakit sementara suaminya kebetulan bertugas.

Keharusan untuk melakukan physical distancing membuat proses perjalanan ke rumah sakit jadi agak ribet. Ribetnya adalah kalau mau naik angkutan umum harus bercampur dengan orang lain. Sementara kalau naik taksi daring biaya yang harus dikeluarkan bisa bengkak sampai puluhan kali lipat.

Setelah mempertimbangkan banyak aspek, akhirnya diputuskan kalau opsi naik angkutan umum dicoret meski berpengaruh banget ke bujet. Yang penting lebih aman, begitu kurang lebih alasannya.

Nah, ini masih soal bagaimana dia harus ke rumah sakit untuk sesi konsultasi dan kemo. Ketika dia harus menjalani operasi malah lebih ribet lagi. Pasalnya, saya harus mendatangkan ibu saya dari luar kota ke Salatiga untuk membantu menjaga 2 anaknya yang masih kecil selama adik berada di rumah sakit.

Saya tahu mungkin ini termasuk pelanggaran aturan. Tapi mau bagaimana lagi? Saya nggak punya pilihan karena saya sendiri nggak bisa hadir di sana karena harus bekerja. Bagi kami yang penting protokol kesehatannya dipenuhi. 

Merencanakan perjalanan dari Pekalongan ke Salatiga juga bukan perkara gampang. Karena Corona jadwal kereta jadi berubah-ubah bahkan dibatalkan beberapa kali. Untungnya masih ada jadwal perjalanan yang tersisa sehingga ibu saya pun bisa pergi.

Apa sudah selesai sampai di sini? Tentu belum.

Ibu saya masih harus transit ke Semarang dulu karena kereta tidak ada yang langsung ke Salatiga. 

Perjalanan dari Semarang ke Salatiga juga harus direncanakan dengan baik karena saya juga nggak mau kalau ibu harus naik angkutan umum di masa pandemi seperti sekarang. Lagipula, jumlah angkutan umum yang beroperasi pun jauh berkurang.

Syukur alhamdulillah masih ada layanan travel yang punya rute Semarang - Salatiga.

Dan begitulah. Corona bikin ribet semuanya sampai kami harus putar otak mencari cara supaya semuanya bisa dilakukan dengan aman.

Corona Mengubah Banyak Hal Dalam Hidup

Dalam kurun waktu kurang lebih 4 bulan saja virus Corona mengubah banyak hal dalam hidup kita. Sesuatu yang selama ini kita anggap sepele ternyata bisa berperan sangat penting bagi kesehatan kita.

Seperti misalnya kita yang jarang cuci tangan setelah beraktivitas di luar jadi rajin cuci tangan. Kalaupun dulu cuci tangan hanya dengan air mengalir saja sudah merasa cukup, sekarang harus pake sabun dan caranya pun harus benar.

Menggunakan masker saat keluar rumah pun sekarang jadi sesuatu yang jamak kita jumpai. Kalau dulu kita mungkin menganggap bahwa mereka yang menggunakan masker saat berada di luar hanya sebagai gaya-gayaan, sekarang kita tahu kenapa masker penting dikenakan demi alasan kesehatan.

Cara kita bersosialisasi pun jadi ikut berubah. Kalau dulu berdesak-desakan di angkutan umum sudah jadi hal biasa, sekarang kita pasti merasa risih jika jarak antara kita dengan orang lain kurang 1 meter. Ya kan? Karena kita nggak pernah tahu siapa di antara kita yang membawa virus tersebut.

Belum lagi kalau misalnya ada orang yang mulai batuk-batuk atau bersin di dekat kita. Wah! Pikiran pasti sudah kemana-mana.

Itulah yang dirasakan juga ketika adik saya harus pergi ke rumah sakit untuk keperluan cek kesehatan. Bingung!

Hal-hal tersebut masih sebagian saja. Pastinya ada banyak yang berubah dari kehidupan kita karena Corona. Dan konon kabarnya perilaku ini akan bertahan lama dan menjadi "normal yang baru" dalam kehidupan. Entahlah, tapi saat ini semuanya jadi tidak sama lagi.

Teknologi Jadi Sesuatu Yang Memudahkan di Masa Pandemi

Kalau dihitung-hitung, sudah sebulan lebih kita melakukan social and physical distancing dengan di rumah saja. Bekerja dari rumah dan membatasi aktivitas di luaran hanya untuk sesuatu yang penting saja. Durasinya pun kalau bisa singkat-singkat saja.

Karena berada di luar dan bertemu dengan keramaian atau berkumpul dengan banyak orang, adalah sesuatu yang cukup beresiko pada saat ini. Terlebih jika ada kondisi-kondisi tertentu yang bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih parah.

Jadi ya meski kadang membosankan, bertahan di rumah saja selama pandemi memang jadi sebuah keharusan kan?

Ngomong-ngomong sadar nggak sih kalau selama di rumah kita jadi berteman dengan teknologi? 

Kita jadi belajar dan melakukan hal-hal baru dengan kemudahan yang diberikan olehnya. Dan salah satu kemudahan itu kita dapatkan melalui gawai telepon pintar yang selama ini selalu dekat dengan kita.

Kalau selama ini belanja daring jadi sesuatu yang "agak mewah" karena biasanya dilakukan saat masa gajian tiba, sekarang tidak lagi. Karena pembatasan kegiatan di luar kita memilih untuk melakukan kegiatan berbelanja melalui layanan daring.

Tidak hanya untuk barang consumer goods saja, bahkan untuk membeli obat dan vitamin pun tak perlu harus keluar rumah.

Saya termasuk yang merasakan manfaat belanja daring selama pemberlakukan kegiatan di rumah saja. Apalagi saat ini Semarang sedang menerapkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang membuat aktivitas di luar jadi terbatas.

Banyak toko-toko yang ada di mal tidak beroperasi dan memilih membuka layanan penjualan secara daring.

Beberapa hari lalu saya sempat berkeliling ke beberapa toko obat untuk mencari produk multivitamin. Sayangnya produk yang masih tergolong varian baru ini masih agak susah dicari. Kalau saja tidak ada Pembatasan Kegiatan Masyarakat mungkin saya sudah menjelajahi lebih banyak toko di Semarang untuk mendapatkan produk tersebut.

Lalu teman saya menyarakan untuk mencari produk yang dimaksud melalui aplikasi HALODOC. Kebetulan dia adalah pengguna setia aplikasi tersebut untuk membeli obat-obatan yang diperlukan oleh kakaknya yang juga sedang dalam perawatan kesehatan.

Karena penasaran saya mengunduh aplikasi HALODOC di telepon pintar saya. Setelah melewati sesi pendaftaran yang tak butuh waktu lama saya segera mencari produk yang saya mau pada kolom pencarian. Dan ternyata ketemu dong! Tanpa pikir panjang langsung saya check out.

Prosesnya sangat mudah dan lebih mudah lagi karena untuk pembayarannya HALODOC sudah bekerjasama dengan salah satu penyedia jasa ojek daring sehingga pembayaran pun bisa dilakukan melalui layanan tersebut.

Produknya saya terima kurang dari 1 jam setelah saya melakukan pembayaran. Dan sejauh ini saya cukup puas sih dengan aplikasi ini.

Tentang HALODOC

Mungkin sudah banyak yang familiar dengan HALODOC ya. Apakah kamu sudah pernah menggunakan layanannya? Atau selama ini hanya sebatas mendengar namanya atau melihat iklannya di media sosial?



Sama sih. Selama ini saya baru sebatas tahu lewat iklan dan info dari teman saya tadi. Kalau dilihat-lihat sih HALODOC ini adalah layanan kesehatan terintegrasi yang memberikan kita kemudahan untuk mengakses segala kebutuhan yang berhubungan dengan kesehatan.

Saat ini HALODOC bisa diakses melalui website maupun aplikasi di telepon pintar. Layanan yang diberikan cukup lengkap termasuk konsultasi dengan dokter, melakukan janji temu kunjungan dengan dokter spesialis, sampai pembelian obat dan produk kesehatan lainnya.

Di Jawa Tengah sendiri HALODOC sudah bekerjasama dengan banyak rumah sakit ternama. Kalau kamu memerlukan informasi soal rumah sakit terdekat yang bisa dikunjungi untuk mendapatkan layanan kesehatan kamu juga bisa mencarinya di daftar rumah sakit di sekitar tempat tinggalmu.

Untuk penggunaan aplikasinya pun cukup mudah. Kamu hanya perlu registrasi di awal dengan mengikuti petunjuk di halaman depan dan setelah itu kamu bisa segera menggunakan aplikasi tersebut.

Bahkan saya pun bisa melakukan pembelian obat dan vitamin untuk adik saya yang ada di Salatiga saat saya sedang berada di Semarang hanya dengan mengatur lokasi yang ada di halaman muka aplikasi. Mudah bukan?

Menyesuaikan Diri di Tengah Pandemi

Cerita soal ribetnya mengatur ini dan itu menjelang operasi pengangkatan kanker payudara adik saya saat pandemi Corona seperti saat ini, mungkin hanya sebagian kecil dari cerita penyesuaian diri ketika wabah melanda. Karena kita berurusan dengan virus yang tingkat penularannya sangat tinggi maka kita harus waspada.

Kalau ada orang bilang penyesuaian yang kita lakukan saat ini akan jadi a new normal setelah Corona mereda yang entah kapan waktunya, mungkin hal ini bukan jadi sesuatu yang terlalu buruk untuk dilakukan.

Semua kebiasaan-kebiasaan baik selama penyesuaian ini bisa terus dilakukan seperti rajin cuci tangan dengan sabun atau bahkan ketika suatu saat kita mulai melonggarkan aturan jaga jarak dengan orang lain kita tetap memilih untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar.

Harapan semoga semua kembali seperti sedia kala sepertinya agak kurang tepat. Karena bagaimanapun Corona masih akan tetap ada. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri dengan tetap melakukan usaha-usaha yang baik dalam menjaga kesehatan.

Semoga vaksin dan obatnya cepat ditemukan sehingga pencegahan dan perawatan mereka yang terpapar bisa lebih mudah. Dengan begitu angka kematian pun bisa ditekan.

Mungkin itulah harapan yang saat ini paling masuk akal. Ya kan?

0 Comments