Suatu hari ketika saya masih kelas 5 SD, Bu Endang, Guru wali kelas saya waktu itu menugaskan saya untuk mewakili sekolah berangkat ke kompetisi menggambar tingkat kecamatan. Jujur saja saya kaget karena merasa sama sekali nggak kompeten untuk mengikuti kompetisi yang dimaksud.| Family Art Competition 2018





“Tapi saya nggak bisa nggambar, Bu!”





Bu Endang bersikeras. Beliau
bilang, “Nggak apa-apa. Yang penting ada yang mewakili sekolah.”





“Tapi kalau kalah gimana?”





Yo wes ben. Seng penting SD 1 ada yang berangkat.”





Maka setelah sekian jurus argumen
saya dipatahkan oleh beliau, saya berangkat juga ke lomba menggambar tingkat
kecamatan.





Antara terlalu percaya diri dan
nggak tahu diri, saya sama sekali nggak punya ide mau menggambar apa. Dan benar
saja, ketika seorang bapak-bapak mengumumkan tema lomba siang itu, saya mulai
berkeringat dingin.





Saya masih ingat betul temanya
adalah “Suasana di Pasar”. Saya cuma garuk-garuk kepala. Bingung mau menggambar
apa? Saya bahkan tidak bisa menentukan point
of view
dari gambar yang akan dibuat. Akhirnya cuma garis dan lingkaran
disana-sini. Gambar manusia yang saya buat mungkin lebih menyerupai
orang-orangan sawah dengan tangan dan kaki kerempeng. I didn’t know what to do!





Waktu yang diberikan selama 2 jam
sama sekali tidak berarti apa-apa. Bahkan selesai pun tidak. Kalah? Sudah
pasti. Mungkin para juri langsung membuang kertas gambar saya begitu melihat
apa yang ada di atasnya.





Since then, saya tahu kalau tidak ada sedikit pun bakat menggambar
dalam diri saya.





Seni bukan sekedar menggambar dan
menyanyi









Tapi di acara press conference yang diadakan oleh Faber-Castell dalam rangka mempromosikan program Family Art Competition 2018 tadi siang, Bapak Richard Panelewen, Product Manager dari Faber-Castell mengatakan bahwa sebenarnya seni itu tidak melulu tentang melukis dan mewarnai. Tapi bisa juga dalam bentuk lain seperti menyanyi, menari, bahkan menulis.





Dan semua orang punya sense of art, tinggal bagaimana mengasah dan mempertajam rasa tersebut.





Itulah kenapa Faber-Castell punya program seru yang diberinama #Art4All. Program ini memungkinkan semua orang dari segala kalangan usia menggali potensi dan sense of art dalam dirinya. Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang menggambar, mewarnai, membuat kerajinan, dan menulis.





#Art4All memberikan kesempatan siapapun untuk menikmati dan menjadi pelaku seni. Mulai dari anak-anak sampai dewasa, semua diajak untuk terlibat dalam kegiatan kesenian.





Yang menarik adalah Faber-Castell juga melibatkan banyak kalangan termasuk para guru dan manula. Untuk guru, Faber-Castell sering mengadakan pelatihan yang menggali kreatifitas para guru dengan harapan mereka bisa menginspirasi anak didiknya dan membuat mereka jadi lebih kreatif.





Sementara bagi manula, Faber-Castell menyelenggarakan kegiatan mewarnai bersama dengan harapan kegiatan ini mampu melatih otak para manula dan mengurangi potensi demensia atau pikun pada mereka.





Family Art Competition









Sejujurnya saya kagum dengan visi dan misi Faber-Castell dalam menggiatkan kesenian. Perusahaan asal Jerman yang sudah berdiri sejak 1761 ini tidak hanya memikirkan aspek bisnis semata, namun juga banyak hal penting yang mendasari kegiatan-kegiatan yang mereka adakan.





Salah satu yang menjadi perhatian
saya adalah dengan diselenggarakannya ajang Family Art Competition. Ini adalah
tahun kedua pelaksanaan, setelah sebelumnya Faber-Castell lebih konsen pada kompetisi
menggambar dan mewarnai.





Family Art Competition ditujukan
untuk lebih mengeksplorasi kemampuan anak-anak di bidang seni. Tidak hanya
menggambar dan mewarnai, tapi juga mengembangkan keterampilan mereka dalam membuat
barang kerajinan.





Berbeda dari lomba yang sebelumnya, kompetisi kali ini bisa diikuti oleh orang tua sebagai pendamping. Dan ini juga yang dilihat oleh Faber-Castell sebagai sebuah aktivitas positif untuk mempererat hubungan orang tua dan anak melalui kompetisi kreatif.









Hal senada juga diamini oleh Bapak Gunawan dari dinas Pendidikan kota Semarang yang melihat lomba Family Art Competiton sebagai suatu kesempatan bagi orang tua untuk menciptakan bonding yang baik dengan anaknya.





Semarang adalah kota kelima





Family Art Competition adalah event nasional yang masuk tahun kedua. Tahun
lalu ajang ini diselenggarakan di 32 kota di Indonesia dengan jumlah peserta mencapai
35 ribu orang. Dan tahun 2018/2019 target pesertanya bertambah menjadi 40 ribu
orang dengan penambahan 3 kota menjadi total 35.





Semarang adalah kota kelima yang menjadi tempat penyelenggaraan Family Art Competition 2018/2019. Bertempat di Sentraland Jalan Ki Mangunsarkoro, ada sekitar 850 pasang orang tua dan anak yang berpartisipasi dalam acara ini. Dengan jumlah peserta itu, so far Semarang menjadi kota dengan peserta terbanyak.





Untuk teknis lombanya sendiri
hampir sama di tiap-tiap kota. Pemenang akan dipilih berdasarkan kreatifitas
dalam membuat karya. Para juri yang memilih pemenang adalah mereka yang kompeten
di bidangnya dan sudah terlibat dalam kegiatan yang sama di tahun lalu.





Masing-masing kota akan memilih 3
pemenang utama dan juara harapan yang akan menerima hadiah berupa uang tunai
dan piala. Dari juara 1 masing-masing kota akan dikumpulkan karyanya di Jakarta
dan akan dinilai kembali oleh dewan juri.





Tahun ini akan dipilih 8 pasang pemenang yang akan menerima hadiah berupa jalan-jalan gratis ke Disneyland HongKong! Seru kan?





Kreatifitas tanpa batas dengan
Connector Pen





Family Art Competition
pic from faber-castell.co.id




Saya takjub melihat peserta lomba yang berusaha sekreatif mungkin dalam menciptakan sebuah karya. Dengan menggunakan produk Faber-Castell yang sudah kita kenal yaitu Connector Pen, peserta benar-benar menggunakan imajinasinya untuk membuat sesuatu berdasarkan kreatifitas mereka.





Connector Pen sendiri adalah
salah satu produk yang cukup populer di tengah masyarakat. Tidak hanya berfungsi
sebagai spidol warna, tapi juga bisa digunakan untuk membuat berbagai kerajinan.





Connector pen punya beberapa kelebihan di antaranya :





  • Aman untuk anak-anak karena tidak terbuat dari bahan beracun. Bahan dasar pembuatannya adalah air suling dan pewarnanya pun dibuat dari pewarna makanan.
  • Warnanya cerah
  • Tintanya mudah dicuci jika terkena baju
  • Penutupnya didesain untuk melindungi ujung pena. Jika lupa tidak menutup dengan rapat, maka tinta tidak akan mudah mengering
  • Pena bisa digabung-gabungkan menjadi sebuah barang kerajinan. Dengan konsep seperti ini juga mencegah pena tercecer dan hilang




Dengan kelebihan-kelebihan tadi, terutama soal keamanan untuk anak-anak, sepertinya layak kalau Connector pen dijadikan pilihan untuk berkreasi bagi keluarga.





Apakah kamu punya koleksinya?





Saya tetap menulis saja lah…





Iri juga sebenarnya lihat peserta Family Art Competition yang kreatif-kreatif gitu. Kompak pula dengan orang tua mereka. Pengin bisa menggambar dan mewarnai bagus seperti mereka.





Tapi seperti Pak Richard bilang, seni memang bermacam-macam bentuknya. Tak bisa menggambar, saya memilih untuk mewarnai saja. Itupun dengan teknik yang standar. Dasarnya saya memang agak kurang kreatif, jadi saya tinggalkan kertas sketsa dan pensil warna sejak saya kalah lomba tingkat kecamatan itu. Pada akhirnya saya tahu diri saja. Mungkin saya lebih pintar dalam mengolahkata-kata baik dalam lisan maupun tulisan.





Bagaimanapun juga saya cukup senang ketika mengetahui, saya masih punya senseof art itu kok. Hehehe. Tinggal diasah dan diolah.





Tapi, saya juga pengin ke Disneyland Hong Kong. Gimana dong?






https://www.youtube.com/watch?v=uwJDJQ0bfO0

8 Comments

  1. Ini gue bingit!
    Paling ga punya bakat tentang menggambar atau melukis.

    Pinjam istilahnya Mas, kalau untuk mengolah kata, masih bisa laa... ^^

    ReplyDelete
  2. Connector pen ini memang favorit banget, anak-anakku suka buat mewarnai, menggambar dan menulis juga ya

    ReplyDelete
  3. Hahaha. Sudahlah kita melipir saja ke mesin ketik atau laptop daripada pegang spidol dan kertas gambar ya Mbak. Terima kasih kunjungannya Mbak Rosa.

    ReplyDelete
  4. Tiap kali ke gramed suka nongkrong di bagian Connector Pen ini. Suka liat2 warnanya.

    ReplyDelete
  5. Jadi inget kalau saya punya gambar hasil karya sayabdr pewarna pastle kek gini..dan smp skg masih terpampang di dinding tangga rumah orang tua saya

    ReplyDelete
  6. WUIH! Nostalgic banget ya Mas! DUlu pastel jadi barang mewah tuh. Hahaha..

    ReplyDelete
  7. iya nih, kapan2 da tulis di blog oke kayaknya ya hahah

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.