Konsep berdagang sambil beramal mungkin bukan barang baru lagi. Bisa dibilang sudah mulai jadi tren malahan. Eh, salah juga kali ya kalo dibilang tren? Soalnya tren cenderung musiman dan temporary. Kesannya nge-pop culture banget yak? Hehehe. Padalah berdagang sambil beramal adalah sebuah kegiatan yang udah pasti berkelanjutan.


Nah, ini juga yang diterapin sama pemilik Bakmie Mangkok, Mas Baghit. Dalam kesempatan icip-icip tempo hari, aku sama temenku diundang ke warung mi ayam milik Mas Baghit yang ada di Tembalang sana. Sempet muter-muter nyari tempatnya, tapi ternyata letaknya gampang banget di jangkau karena ada di jalan Mulawarman Raya Semarang.


Bakmie Mangkok Tembalang


Bakmie Mangkok Tembalang


Bakmie Mangkok Tembalang


Warungnya sih cukup gede dengan dominasi warna pink. Eh, ada cerita lucu soal warna yang digunakan untuk mengecat sebagian interior warung ini lho. Sebenarnya yang dipilih oleh Mas Baghit adalah merah Magenta. Tapi karena mesin pencampur catnya ngaco (atau yang nyampur yang ngaco), hasil jadinya malah mendekati warna merah muda instead of Magenta. Hasilnya, ada beberapa pembeli – terutama para cowok – yang menyangka kalo warung Bakmie Mangkok ini hanya untuk pembeli cewek saja. Hahaha.


Nggak lah ya, semuanya boleh makan di Bakmie Mangkok. Selama punya duit dan laper boleh makan di sini. Uhm…bentar, yang nggak punya duit juga boleh dink!



Sharing Is Beautiful



Nah, ini nih yang tadi aku sebut sebagai konsep “Sharing Is Beautiful” tadi. Berdagang sambil berbagi. Mas Baghit yang pernah bekerja sebagai pegawai di sebuah bank swasta nasional ini terinspirasi dari konsep yang diterapkan di beberapa kafe di Vienna. Dari hasil browsing sana-sini, Mas Baghit nemu banyak cerita soal kafe-kafe di sana yang menyisihkan sebagian produksi kafenya untuk mereka yang pengen ngafe tapi nggak punya duit, kebanyakan sih pada homeless ya.


Konsep inilah yang akhirnya dibawa ke sini. Well, sebenarnya Bakmie Mangkok bukanlah yang pertama menerapkan “berbagi itu indah”. Sebuah warung angkringan di alun-alun Batang sudah lebih dulu punya kegiatan yang ditujukan untuk mereka yang ingin makan kenyang tapi nggak punya duit. Mereka memberikan nasi kucing cuma-cuma untuk yang lapar dan kehabisan uang. Mulai dari tukang becak sampai musafir, adalah sasaran dari warung amal ini.


Dan pastinya di Indonesia juga banyak yang sudah menerapkan cara seperti ini, meskipun dalam bentuk lain. Enggak bagi-bagi makan gratis buat yang membutuhkan, tapi menyisihkan sebagian keuntungan untuk didonasikan ke pihak yang membutuhkan.



Kalau di Warung Bakmie Mangkok ini, konsep yang dijalankan adalah mempersilakan siapa saja yang ingin menikmati semangkok mi ayam tapi tak punya uang. Mas Baghit enggak menerapkan syarat khusus. Jadi mulai dari peminta-minta atau bahkan mahasiswa yang kehabisan duitpun boleh makan di sini. Syaratnya cuma nggak perlu malu buat ngaku kalo perut laper tapi nggak punya duit.


Iya, syaratnya cuma itu. Mas Baghit nggak akan melakukan survey untuk mengecek kebenaran apakah kamu bohong apa enggak. Modalnya cuma percaya kalo kamu emang nggak punya duit. Masalahnya, jarang banget (terutama mahasiswa) yang mau ngaku kalo mereka kehabisan duit dan lebih memilih nahan lapar daripada datang ke warung Bakmie Mangkok.


Padahal Mas Baghit udah jemput bola mempromosikan konsep ini ke kampus di sekitar sana. Bahkan melakukan sosialisasi di masjid-masjid sekitar warung supaya mereka yang membutuhkan bisa datang dan menikmati semangkuk mi ayam enak.



Mas Baghit ngerasa perlu untuk melakukan ini karena ternyata modal yang digunakan untuk memproduksi bermangkok-mangkok mi amal tadi didapat dari donasi yang dilakukan oleh pengunjung atau siapa saja yang menitipkan dana untuk mereka yang butuh. Itulah kenapa Mas Baghit merasa kalau amanah ini perlu disampaikan kepada mereka yang berhak sesegera mungkin. Oh iya, sekaligus menjawab pertanyaan juga nih, kali-kali aja ada yang nanya : nggak rugi tuh bagi-bagi mi ayam gratis terus tiap hari?


Jawabannya enggak, karena selain dari kantong sendiri, ada bantuan juga dari para donator. Jadi tenang, Bakmie Mangkok nggak rugi kok. Lagian, sejak kapan sih berbagi bikin rugi? :D



Mie Dinding




Seperti yang kamu lihat, ini adalah papan kupon yang berada di sebelah meja kasir. Jadi tiap kali ada yang menitipkan duit amal, akan dikonversikan ke dalam kupon-kupon amal ini. Kupon-kupon ini bertuliskan menu-menu mi ayam yang bisa dinikmati oleh mereka yang butuh. Gratis. Jadi tiap kali ada yang butuh bantuan makan mi ayam gratis, kupon-kupon ini akan diambil dari papan sesuai porsi yang keluar. Udah ada bayangan kan? Dan begitu seterusnya….



Seru ya?


Wah, panjang lebar juga aku cerita soal kisah awal konsep dari Bakmie Mangkok. Terus apa sih makanan yang bisa kamu nikmati di sini? Sesuai dengan namanya, Bakmie Mangkok emang menjual menu Mi Ayam. Awalnya aku pikir mi ayam ini akan ditempatkan di sebuah mangkok pangsit seperti mi ayam yang dijual di sekitaran Tlogosari Semarang. Tapi ternyata mi ayamnya ditempatkan di mangkok keramik. Emang sih, tadinya Mas Baghit berpikir begitu, tapi mengingat tenaga produksi belum memenuhi, sementara konsep mangkuk dari pangsit ini ditahan dulu.



Ada banyak menu mi ayam topping yang bisa kamu pilih. Loh, mi ayam kok topping? Hehe, jangan bingung saudara. Di sini ayamnya bisa macem-macem lho. Nggak cuma mi ayam dengan toping ayam bacem seperti yang biasa kamu lihat di lapak-lapak mi ayam biasanya. Di Bakmie Mangkok kamu bisa milih toping ayam sesuai selera.


Ada ayam lada hitam, ayam kriuk, ayam semur, sampai ayam asam manis. Banyak banget deh. Tapi kamu perlu nanya dulu ya, topping apakah yang tersedia pada hari itu. Karena varian topping ayamnya emang nggak sama setiap hari.


Siang itu aku sama Dian makan mi ayam kriuk dan mie ayam semur spesial. Nah kalo yang komplit ini lengkap sama bakso dan pangsit. Ada 2 jenis pangsit yang bisa dipilih, mau yang goreng atau yang basah. Harganya murah! Semangkok mi ayam komplit toping beginian harganya cuma 15 ribuan. Oh iya, kamu juga bisa nambah topping lho. Tapi tentu aja ada harga tambahan untuk ini.




[caption id="attachment_5051" align="aligncenter" width="660"] Mie Ayam Kriuk Spesial[/caption]

[caption id="attachment_5052" align="aligncenter" width="660"] Mie Ayam Semur Spesial[/caption]

Rasanya gimana?


Mi nya lembut lho…topping-nya juga enak…porsinya pas buat aku. Terlalu banyak enggak, sedikit juga enggak. Pokoknya pas! Dan sayuran hijaunya juga enggak pake caisim, tapi pake baby kailan yang manis. Kamu perlu nyoba sendiri deh, daripada penasaran.


Pokoknya kamu kudu coba Bakmie Mangkok ini dan nggak ada salahnya juga ikut beramal dengan menjadi donatur di sini. Percaya deh, pasti berguna buat kamu kok.




Bakmie Mangkok


Jalan Mulawarman Raya Semarang


Buka setiap hari mulai jam 11 siang.


Halal Food – GoJek Service Available


3 Comments

  1. Hmm, makanan yummy dipadu prinsip berbagi. THUMBS UP!

    ReplyDelete
  2. Beberapa kali saya kesana dengan anak-anak dan meeting bareng kolega, kadang kalo ada tamu trus di rumah blum ada masakan, nah jamuan Mie Mangkok pas banget .. Menu murah meriah tapi enak bagi kami. Mie ayam 7.000 plus minum es teh gelas guede 2.000 .. Seorang total keluar uang hanya 9.000 udah puas, bisa ngobrol lama, wifi juga tersedia. Hue he .. Semoga bisa ikut berbagi juga. Suip

    ReplyDelete
  3. Udah lama ga kesana, porsinya pas and topping nya lebih variatif, harga jg murah. Sukses terus buat mas Bhagit

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.