“Akhirnya!”, itulah yang terlintas dalam pikiran saya ketika Mbak Noorma dan Mbak Innayah mengajak saya untuk bergabung di sebuah trip ke Petungkriyono. Uhm, sebenarnya saya sih yang kegatelan pengen ikut, bukannya didatengin terus diajak. Hehehe. Bukan apa-apa, mengetahui kalo Blogger Pekalongan akan mengadakan trip ke Petungkriyono melalui twitter, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak nyamber. Dan begitulah awal mula kisahnya.


Nama petungkriyono bukan nama yang asing bagi saya. Inilah alasan kenapa saya ingin sekali bergabung dengan trip tersebut. Karena selama ini saya hanya bisa mendengar keindahan Petungkriyono hanya melalui cerita dari teman2 yang sudah pernah ke sana.


Saya pernah beberapa kali mengajukan rencana kepada salah seorang teman yang berdomisili di kota Batang. Saya bilang kalo saya pengen sekali ke Petungkriyono. Tapi si teman ini agak sedikit keberatan. Kenapa? Karena menurut dia Petungkriyono itu jauuuh sekali. Jalur menuju ke area tersebut pun kurang menyenangkan, begitu katanya. Saya hanya bisa membayangkan, seperti apa sih sebenarnya Petungkriyono ini?


Tapi Tuhan Maha Asyik. Kalau jodoh nggak akan lari kemana bukan? Setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya bisa ke sana juga. Bareng sama temen2 sekota yang asyik dan seru. Perjalanan saya dan teman2 blogger pekalongan ke Petungkriyono difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Kebetulan kurang lebih 1 minggu yang lalu, tepatnya tanggal 18 Desember 2016, PemKab Pekalongan meresmikan sebuah program wisata Eco Tourism di Petungkriyono dan mencanangkan wilayah ini sebagai Cultural Techno Forestry Park.


Program ini secara resmi diluncurkan melalui sebuah seremoni yang diadakan di salah satu spot populer yang bernama Curug Lawe. Bupati Pekalongan Bapak Asip Kholbihi meresmikan program yang ditujukan untuk lebih memajukan wana wisata Petungkriyono dengan pengelolaan yang lebih profesional.



Petungkriyono...


Nama Petungkriyono sendiri sebenarnya sudah sangat populer di kalangan wisatawan lokal. Area yang luasnya kurang lebih 7.358,523 ha ini adalah milik Pemerintah yang dikelola oleh Perum perhutani. Melalui sebuah kerjasama dengan PemKab Pekalongan, diharapkan pengelolaannya bisa jadi lebih baik ke depannya.


Bukan berarti dulu tidak dikelola dengan baik, tapi melalui program ini PemKab juga bisa membantu mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara dengan lebih banyak lagi. Konsekuensinya PemKab dan Pengelola Wana Wisata akan memperbaiki infrastruktur sarana dan prasarana yang ada di daerah tersebut.


Jadi kalo temen saya bilang "jalur ke sana itu aduhai banget jauh dan terjalnya", mungkin ada benarnya. Tapi sejak program ini dicanangkan, semuanya akan lebih ditata lagi. Pembangunan akses dari kota menuju ke Petungkriyono dan sebaliknya akan lebih digencarkan supaya perjalanan ke wana wisata juga lebih menyenangkan.


Melalui kerjasama dengan berbagai pihak PemKab Pekalongan punya target pembangunan yg akan dipenuhi mulai 2017 nanti. PemKab melalui Bupati Pekalongan berharap kalau langkah ini juga didukung oleh semua pihak yang terlibat, termasuk dari masyarakat sekitar.  Dengan keterlibatan ini diharapkan kesejahteraan mereka juga meningkat melalui program wisata Petungkriyono yang makin populer ke depannya.



Dan Perjalananpun Ke Petungkriyono pun Dimulai…


Perjalanan kami dimulai dari pendopo kabupaten Pekalongan yang asrinya bukan main! Tanpa ke Petungkriyono pun saya pengen mendirikan tenda dan camping semalam di halamannya. Hahaha. Look, i'm serious. Pendopo Kabupaten Pekalongan yang terletak di Kajen ini luas dan asri. Nyaman sekali. Dari sinilah kami dilepas oleh Bapak Bupati Pekalongan Asip Kholbihi setelah sebelumnya ngobrol-ngobrol santai sambil ngeteh di pagi hari.


Setelah berfoto bersama kamipun naik bus milik PemKab menuju ke wilayah Doro. Doro memang menjadi meeting point bagi siapapun yang ingin menuju ke Petungkriyono. Oh iya, kalau melihat dari jalurnya, sepertinya pelancong yang akan menggunakan bis harus oper di wilayah Doro ini. Kalau mobil pribadi sih masih bisa lewat.




[caption id="attachment_4757" align="aligncenter" width="500"]Petungkriyono Pak Asip Kholbihi[/caption]

Nah, di Doro kami berhenti di terminal angkutan kota. Ternyata di meeting point ini sudah siap sekitar kurang lebih 300 orang dari jajaran PNS PemKab Pekalongan yang juga diajak jalan-jalan oleh Pak Bupati. Ini adalah rangkaian pertama dari sekian banyak rombongan yang akan dibawa oleh PemKab sebagai "Pengunjung Pertama" Petungkriyono setelah program Eco Tourism diresmikan. Selanjutnya juga akan didatangkan turis dari Korea Selatan lho? Selain berwisata, mereka juga direncanakan akan melakukan penelitian tentang kondisi alam Petungkriyono termasuk meneliti flora dan fauna di sana.



Anggun Paris


[caption id="attachment_4765" align="aligncenter" width="500"]Petungkriyono Anggun Paris[/caption]

Di terminal ini kami pindah ke sebuah angkutan bak terbuka yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi sebuah kendaraan wisata. Nama angkutan ini adalah Anggun Paris atau Angkutan Gunung Pariwisata. Tadinya ini adalah mobil-mobil yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar untuk mengangkut hasil tani mereka le pasar. PemKab Pekalongan memberdayakan pemilik sekaligus tenaga operasional dengan melibatkan mereka melalui program ini.


1 mobil Anggun Paris bisa diisi hingga 12 orang, termasuk penumpang yang duduk di kursi depan samping supir. Di mobil yang juga biasa disebut "DOPLAK" oleh orang sekitar ini kami bisa melihat pemandangan sekitar dan merasakan angin yang berhembus dari segala arah. Tentu saja mobil ini tidak memiliki air conditioner karena angin alam adalah pendingin alami terbaik yang bisa dirasakan selama perjalanan. Oh iya, mobil ini bisa disewa dengan tarif yang bisa ditanyakan ke supirnya. Menerima rombongan, tapi kalau berangkat berdikit orang juga bisa. Silakan diatur sendiri besaran tarif per orangnya.


By the way, Sebagai orang desa yang sudah lama tinggal di kota, berkali-kali saya dibuat kagum dengan keindahan alam Petungkriyono. Saking sepetnya mata dengan gedung2 pencakar langit di kota yang makin hari makin banyak, pohon-pohon hijau menjadi sebuah penyegar mata yang menyenangkan selama perjalanan.



Jalurnya...


Jalan menuju ke Petungkriyono memang berkelok-kelok. Itulah kenapa disarankan naik Anggun Paris daripada harus bawa kendaraan sendiri, apalagi jika Anda bukan penduduk sekitar situ. Bukan apa-apa, para supir ini sudah sangat hafal dengan medan yang cukup berat di Petungkriyono. Jadi demi alasan keamanan memang sebaiknya memanfaatkan moda angkutan gunung yang satu ini.


Rencana hari itu adalah kami akan mengunjungi 2 buah situs. Yang pertama adalah Curug Lawe, dan berikutnya adalah Curug Bajing. Lawe dan Bajing adalah beberapa Curug atau Air Terjun yang cukup terkenal di Petungkriyono. Perjalanan ini kami tempuh selama kurang lebih 2 jam dari Terminal Doro.


Sebelum ke Curug Lawe dan Bajing rombongan sempat berhenti dulu di sebuah area wisata Rafting. Namanya Welo Asri. Di sini pengunjung bisa menikmati petualangan arung jeram dengan biaya 70 ribu per orang. Kalau hanya ingin menjelajah daerah tersebut atau hanya ingin sekedar berfoto di rumah-rumah pohon dan sungai jernih berbatu, cukup rogoh kocek 2000 rupiah saja. Murah bukan?




[caption id="attachment_4759" align="aligncenter" width="500"]Petungkriyono Rumah Pohon Selfie[/caption]

Petungkriyono



Curug Lawe


Selepas dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Curug Lawe. Kebetulan di Curug Lawe inilah Pak Bupati Asip Kholbihi meresmikan kegiatan Cultural Techno Forestry Park. Seperti yang sudah saya tulis di atas, ada beberapa isi pesan yang disampaikan termasuk kesiapan warga dalam menyukseskan program wisata ini. Siang itu warga yang hadir juga dihibur oleh hiburan orkes melayu. Rencananya ini juga akan jadi agenda rutin untuk meramaikan kegiatan wisata di Petungkriyono.


Di Curug Lawe kami beristirahat sejenak dan menikmati hijaunya alam dan segarnya udara hutan. Beberapa spot menarik juga sudah disiapkan untuk pengunjung, termasuk Hammock Area, di mana pengunjung bisa bersantai dengan kasur ayun yang ada di area tersebut.



Petungkriyono



Curug Lawe juga menyediakan area untuk berkemah. Kamu bisa tanyakan prosedur pemanfaatan area ini kepada pengelola. Selain itu kamu juga bisa menikmati pemandangan hutan Petungkriyono dari ketinggian melalui pohon selfie yang ada di beberapa titik. Buat saya yang agak takut dengan ketinggian, berada di atas pohon selfie demi mendapatkan foto yang ciamik adalah perjuangan yang luar biasa. Dari luar terlihat senyum mengembang, tapi di dalam takutnya bukan main. Tapi semua usaha saya terbilang "worthed" lah. Karena dari pohon selfie ini saya bisa melihat hamparan pepohonan di beberapa bukit yang ada di sekitar situ. Sungguh dibutuhkan kearifan lokal yang kuat untuk menjaga supaya area ini tetap asri dan nyaman.


Oh iya, bicara soal Local Wisdom, Pak Asip juga menekankan hal tersebut kepada masyarakat sekitar dan pengelola. Hal tersebut ditujukan supaya mereka juga bisa memberikan pengetahuan kepada pengunjung untuk ikut menjaga keasrianlingkungan dengan tidak melakukan corat-coret liar di sekitar tempat wisata, atau yang paling sederhana namun penting sekali adalah tentang menjaga kebersihan. Dan saya sendiri cukup kagum dengan usaha pengelola dengan menyiapkan beberapa kantong-kantong sampah yang terbuat dari plastik polyester di beberapa titik. Tujuannya supaya pengunjung tidak membuang sampahnya secara sembarang.


Sayang sekali ketika berhenti di Curug Lawe saya tidak sempat melihat air terjunnya. Karena keterbatasan waktu saya pun harus cukup puas dengan hanya berfoto bersama dengan teman-teman di pohon selfie.




[caption id="attachment_4766" align="aligncenter" width="500"]Petungkriyono credit by Innnayah[/caption]



Curug Bajing


Perjalanan pun berlanjut ke titik berikutnya yaitu Curug Bajing. Jalur menuju Curug Bajing kurang lebih sama seperti yang sebelumnya. Berkelok-kelok dengan beberapa tikungan tajam. Yang menjadikan Curug Bajing istimewa adalah karena Curug ini terletak di desa Simego yang konon kabarnya adalah tertinggi di area Petungkriyono. Dengan posisi kurang lebih 150 meter di atas permukaan air laut, Simego memiliki 2 buah curug yaitu Bajing dan Muncar.


Menurut cerita dari asisten driver yang menemani perjalanan kami siang itu, nama Curug Bajing diambil dari nama bukit yang ada di area tersebut. Konon kabarnya Bukit Bajing dulunya adalah tempat persembunyian para penjahat atau disebut juga sebagai Bajingan. Entah benar atau tidak, bukit itupun diberinama Bukit Bajing dan curug yang ada di sekitar situ juga bernama Curug Bajing.


Kami sampai di lokasi Curug Bajing. Karena tidak sempat melihat keindahan Curug Lawe saya pun bertekad ingin melihat air terjun dari dekat. Maklum, di kota adanya juga air mancur buatan di tengah kota. Pikir saya, buat apa jauh-jauh sampai ke Petungkriyono kalau pada akhirnya saya tidak bisa melihat satupun curug yang ada dari dekat dengan mata kepala saya sendiri. Anggap saya lebay, tapi memang begitulah keadaannya. Saya sekalipun belum pernah melihat sendiri dari dekat yang namanya air terjun. Sungguh, wong kuto seng ndeso tenan. Artinya, saya memang orang kota yang ndeso beneran.


Seni tradisional yang disebut klothekan menyambut kami di Curug Bajing. Setelah makan siang dengan menu ala kadarnya tapi nikmat luar biasa, saya dan beberapa temanpun berjalan kaki menuju lokasi curug. Ada beberapa yang tidak ikut karena sebelumnya sudah pernah mengunjungi curug ini. Ya maklum, karena beberapa dari teman-teman blogger pekalongan memang sudah akrab dengan Petungkriyono jauh sebelum bupati Pekalongan mencanangkan lokasi ini sebagai eco tourism.


Bahkan akhirnya saya sendirian yang dengan semangat jalan kaki sendiri menuju ke Curug Bajing. Niat banget, begitu kata temen-temen. Hahaha. Tapi nggak apa-apa, rasa lelah pun terbayar dengan melihat derasnya air terjun Curug Bajing yang ada di depan mata.


Aliran air di Curug Bajing memang cukup deras. Bahkan tidak seperti kebanyakan air terjun di tempat wisata yang memiliki sendang atau kolam di bawah alirannya, Curug Bajing ini termasuk yang sebaiknya tidak dijadikan tempat bermain air karena saking derasnya. Bahkan pengelola sudah memasang tanda peringatan supaya pengunjung berhati-hati. Saya pun tidak bisa terlalu dekat dengan Curug Bajing karena dalam jarak 100 meter saja hempasan air sudah terasa sampai ke sekujur badan. Dari muka sampai celana semuanya basah kuyup. Saya jadi agak kawatir karena saya bawa kamera dan HP saat itu. Jadi daripada rugi bandar elektronik rusak kenaa air, sebaiknya saya memang jaga jarak. Tapi saya cukup puas bisa mengabadikan indahnya Curug Bajing.




[caption id="attachment_4768" align="aligncenter" width="500"]Petungkriyono Curug Bajing[/caption]

Petungkriyono


Lalu bagaimana dengan Curug Muncar? Saya tidak bisa menulis banyak tentang air terjun yang satu ini karena rombongan kami memang tidak menuju ke sana. Tapi dari keterangan beberapa teman blogger pekalongan yang sudah pernah mendatangi tempat itu, Curug Muncar memang berada lebih jauh dari Curug Bajing. Tempatnya masih harus menanjak lagi dan akses ke sana lebih berat. Tapi konon Curug Muncar lebih indah dan lebih tenang dibanding Bajing. Wah, sayang sekali ya? Tapi tak apalah, saya sudah cukup senang hari itu. Apalagi hari sudah semakin sore dan tanda-tanda akan turun hujan sudah nampak.


Dan benar saja, dalam perjalanan pulang hujan pun turun dengan cukup deras meskipun parsial. Artinya di satu titik hujan, sementara ketika lewat ke daerah lain terang benderang. Perjalanan pulang ini juga cukup seru. Meskipun wajah-wajah lelah sudah keliahatan tapi beberapa di antara kami masih cukup semangat. Apalagi saya sempat penasaran dengan penampakan Owa Jawa, salah satu hewan berjenis primata yang masih banyak terdapat di hutan Petungkriyono. Konon kabarnya mereka suka keluar menampakan diri setelah turun hujan. Tapi sayang saya tidak sempat melihatnya.



Tiba di Doro


Kami pun sampai di terminal angkutan di Doro. Seperti biasa, perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat dibandingkan waktu berangkat. Jam setengah 5 sore kami tiba saat bis yang siap mengantar kami pulang ke Pendopo sudah menanti. Dan kamipun kembali ke pendopo Kabupaten Pekalongan.


Sungguh sebuah perjalanan yang SUPER MENYENANGKAN. Terlebih bagi saya yang sangat jarang jalan-jalan. Entah karena merasa tak ada waktu, atau hampir ga pernah punya bujet buat liburan. Hahaha. Satu-satunya liburan yang selama ini saya lakukan hanya pulang kampung, makan, dan tidur di rumah. Membosankan? Sedikit. Itulah kenapa trip singkat ke Petungkriyono ini menjadi menyenangkan karena saya bisa sejenak melarikan diri dari aktifitas harian di kantor.


Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan dan Teman-teman dari Blogger Pekalongan yang sudah mengijinkan saya untuk ikut serta dalam perjalanan singkat melihat keindahan hutan petungkriyono. Sungguh, memang benar apa yang dikatakan Pak Asip, bahwa kearifan lokal sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hutan alam Petungkriyono. Keaslian dan keasrian wilayah ini adalah tanggung jawab bersama. Meski industri pariwisata akan terus digenjot demi kesejahteraan masyarakat sekitar, tapi diharapkan tidak akan merusak ekosistem yang sudah ada. Karena bagaimanapun Petungkriyono adalah aset bagi denyut nadi kehidupan masyarakat sekitar dan bagi dunia.



Ayo! Main ke Petungkriyono!

11 Comments

  1. waah..pemandangan di petungkriyono bagus yaa. pengelolaan juga udah jelas yaa mas
    KOk tumben ga ada foto makanannya mas?hehhee
    kyaknya ada foto2 yang ga nampil yaa

    ReplyDelete
  2. Ono sakjane, tapi udah tayang di IG. Urap owk..hahaha

    ReplyDelete
  3. ayeyyy...next kesana lagi. naik gunungnya atau ngopi syantiek di sibedug

    ReplyDelete
  4. Hayuuu...agendakan ngopi2 bareng di sana n melihat proses pembuatan kopi petung / kopi owa.. :)

    ReplyDelete
  5. ijo royo2 ya mas. rumah pohonnya asli di pohon berakar2 gitu ya. wah curugnya apik tenan. btw curug lawe yg terkenal itu bukan sih mas?

    ReplyDelete
  6. Wah, beneran ijo royo-royo sampai bikin aku terharu melihatnya. Soal curug lawe, ini emang yang terkenal itu. Akunya aja yang ga pernah sempet kesana. :D

    ReplyDelete
  7. Pekalongan berjaya yaaa, makin menunjukan taring nya pariwisata nya

    ReplyDelete
  8. Bener Om. Biar nggak terkenal dengan wisata belanja batiknya saja. Ayo Om Cumi main2 ke Pekalongan. Bergelayut manja di akar2 pohon hutang Petungkriyono lah...

    ReplyDelete
  9. itu kayaknya gak aman ya naik ke atas tanpa pengaman?

    ReplyDelete
  10. Yang di mana nya kak? Pohon selfie? Kebanyakan bukannya pohon selfie emang nggak ada pagarnya ya? Tapi ada juga sih yang berpagar. Kalo soal pengaman, ada tali yang bisa dipegang sih buat jaga2. Cuma ga kelihatan aja sama kamera. haha.

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.