Saya mau nulis gede-gede dulu ya, sebelum saya panjang lebar cerita soal film Deadpool ini :



Dear parents alias orang tua yang terhormat. Film ini KHUSUS DEWASA karena mengandung adegan KEKERASAN BERLEBIHAN yang SANGAT TIDAK COCOK untuk anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun yang merasa jantungnya lemah. Jadi tolong, biarkan diri Anda tertinggal jaman daripada harus mempertontonkan adegan yang sama racunnya dengan kisah drama dalam film Uttaran.


*menghela napas


Berawal dari suwung dihari Minggu ini yang konon kabarnya juga bertepatan dengan hari Valentine (valentine apaan?), saya jalan-jalan sendiri ke E Cinema nonton Deadpool. Biar kayak generasi kekinian? Enggak. Saya sudah tua, sudah nggak ngejar abg-abg yang masih suka manjangin tongsis sampai mentok cuma buat dapet foto kece badai di tengah-tengah lapangan Simpang 5 sambil cekikikan. Saya nonton cuma karena nganggur. Itu aja. Oh iya, biar ada bahan tulisan blog juga dink. :p




So, saya sendiri sebenarnya bukan die hard fans nya film-film superhero. Meski nonton trilogy X-Men dan turunan-turunannya, tapi saya nggak begitu mudeng dengan dunia pahlawan super rekaan Marvel atau DC Comic. Nonton ya nonton aja. Lha wong kalau dipikirin malah jadi tambah pusing, je! Gimana nggak pusing kalau lini masa film-film itu melompat-lompat nggak karuan? Apalagi jumlahnya banyak banget dan cross over satu sama lain. Jadi ya, nonton mah nonton aja.


Kenapa Deadpool? Ya karena The Boy udah nonton, The Revenant jamnya agak kemaleman menurut perhitungan ibu peri yang mengharuskan saya pulang dan bobo ganteng sebelum jam 12 malam. Akhirnya ya milih Deadpool aja deh yang masih agak sorean. Jadi saya masih bisa oles-oles losion penghilang raut muka kuli dan bisa terjun bebas ke alam mimpi lebih awal.



Plot


[caption id="" align="alignleft" width="261"]Deadpool www.wikipedia.com[/caption]

Deadpool bercerita tentang seorang pemburu bayaran bernama Wade Wilson (Ryan Reynolds). Tugasnya adalah melindungi gadis-gadis muda yang mendapatkan masalah dengan para cowok yang hobi meneror dan menguntit mereka. Suatu hari dia bertemu dengan seorang pelayan bar bernama Vanessa (Morena Baccarin) dan keduanya jatuh cinta. Sampai kemudian Wade didiagnosa menderita kanker yang akan membunuhnya dalam beberapa waktu lagi.


Terdorong oleh rasa cinta mereka, Vanessa berusaha untuk mencari obat penyembuh lewat berbagai cara. Tapi Wade memutuskan untuk menggunakan caranya sendiri, setelah dia bertemu dengan seorang pria yang berjanji akan menyembuhkan kankernya sekaligus merubahnya menjadi seorang manusia super. Wade dibawa ke sebuah tempat yang penuh dengan orang-orang sekarat. Orang-orang inilah yang direkrut untuk diuji coba sebuah serum yang dikembangkan oleh Francis Freeman (Ed Skrein). Serum ini konon diambil dari sampel dna Wolverine yang akan membuat penerimanya mampu memiliki kekuatan super dan bisa sembuh dengan sendirinya.


Wade pun mau diuji coba oleh Francis. Namun efek samping dari serum itu membuat wajah Wade rusak, dan dia pun menaruh dendam pada Francis karena telah membuatnya jadi buruk rupa. Setelah kalah bertarung dengan Francis yang juga seorang mutan, Wade bersumpah akan mencari dan membalas dendam pada Francis.


Dan begitulah, Wade Wilson pun berubah menjadi Deadpool, seorang superhero cerewet yang membasmi kejahatan dengan memburu Francis, seorang mutan lain yang tidak bisa merasakan sakit. Dibantu Colossus dan Negasonic Teenage Warhead dari sekolah mutan profesor Xavier, diapun mencari Francis yang menculik Vanessa sebagai tawanan. Deadpool pun bertarung melawan Francis di sebuah galangan kapal dan berhasil membunuhnya.


Spoiler Alert huh? Gapapa. Wong bukan film dengan jalan cerita misteri yang layak untuk ditutup-tutupi karena faktor kejutan di jalan ceritanya. Lagian mana ada jagoan utamanya mati dan si Villain hidup bahagia selama-lamanya?


Gila lu, Ndro!



What i said


Dari adegan pembuka saja Deadpool sudah penuh dengan kekerasan yang luar biasa berlebihan. Berbeda dengan film superhero garapan Marvel sebelumnya, Deadpool ini penuh darah dan sadisme. Terakhir kali nonton film tentang hero yang agak sadis adalah Kick Ass 1 & 2. Nah, menurut saya, ini lebih sadis. Titik.


Tetapi cerdiknya, di opening credit Deadpool, semua sudah dijelaskan oleh si pembuat film, bahwa Deadpool adalah film bodoh yang dibintangi oleh aktor yang disebut hanya jual tampang sampai jadi Sexiest Man Alive, dan masih banyak lagi disclaimer yang membuat film ini layak dapat predikat film superhero yang absurd!


Menggunakan gaya naratif, Deadpool menceritakan tentang sepak terjangnya dan awal mula kenapa dia bisa menjadi mutan. Dan karena sosoknya yang cerewet dan konyol, diapun banyak melempar dialog-dialog lucu dan kasar yang bisa membuat orang lain tertawa (dalam hal ini penonton). Dan saking absurdnya, Deadpool digarap seakan-akan ini adalah sebuah film yang personal. Buat yang sudah menonton, coba hitung berapa kali kamu merasa dilibatkan dalam film itu ketika Deadpool berdialog dengan penonton seakan dia memang berbicara dengan kamu? Dan buat yang belum nonton, kamu akan merasakan pengalaman itu.


Dan beberapa cameo nggak jelas (seperti yang ditulis dalam opening credit) juga ditampilkan. Hugh Jackman yang muncul meski hanya dalam topeng dan sampul majalah, digambarkan sebagai Hugh Jackman, bukan sebagai Wolverine. Salah satu tanda bahwa film ini seakan digarap dengan semau gue dan asal-asalan.


Tapi tentu saja tidak. Bukan seperti itu. Kesengajaan ini memang bertujuan untuk melengkapi kemasan karakter dari Deadpool itu sendiri yang selebor, tidak serius, dan selengekan.


Bahkan ketika dia diseret oleh Colossus dan hendak dibawa ke sekolah milik profesor Xavier, dia bertanya "Xavier versi McAvoy atau Stewart?". Konyol!


Satu lagi yang cukup bertebaran di sepanjang film adalah umpatan-umpatan kasar yang keluar dari mulut Wade Wilson. Tidak heran jika di film X-Men Origins - Wolverine, mulutnya dijahit oleh William Stryker ketika dia dijadikan Weapon X yang digunakan untuk melawan Wolverine dan Sabbretooth.


Ketika menonton Deadpool saya berusaha untuk tidak terjebak dalam lingkaran lini masa yang pernah sekali saya alami ketika selesai menyaksikan X Men Days Of Future Past. Jika mau dirunut lagi harusnya Deadpool sudah mati di film X Men Origins Wolverine ketika kepalanya dipenggal oleh Logan. Tapi dalam film Deadpool ini dia hidup sehat walafiat di zaman modern ketika Instagram sudah menjadi sesuatu yang populer. Jadi tidak perlu dipikirkan soal itu. Superhero Marvel punya dunia dan aturan waktunya sendiri.



Verdict


Yang pasti film ini penuh dengan adegan kekerasan dan dialog-dialog yang meskipun lucu, terselip sesuatu yang kasar. Sehingga amat disayangkan jika ada orang tua yang membawa putra-putrinya, yang bahkan sudah berusia remaja sekalipun untuk menonton Deadpool. Kenapa? Karena film ini sejatinya memang ditujukan untuk dewasa bukan remaja atau anak-anak. Tidak heran jika konon Tiongkok melarang peredaran film ini di negaranya, karena adegan kekerasan yang tidak lolos sensor. Dan kalaupun disensor, tentu saja akan menghilangkan sebagian besar esensi dari jalan cerita film itu sendiri.


Sebenarnya kita masih lumayan beruntung karena gunting sensor di negara kita masih cukup tumpul di beberapa kesempatan. Itulah kenapa dibutuhkan kebijaksanaan dari para penonton untuk bisa memilih apakah film yang akan ditonton sudah sesuai atau tidak. Jangan sampai memaksakan diri untuk memberikan tontonan bagi dewasa kepada anak-anak dengan membawa mereka ke gedung bioskop yang sedang memutar film yang secara rating tidak cocok dengan usia mereka.


Sebenarnya begini, kewajiban untuk mendapatkan informasi tentang film tidak hanya harus dilakukan oleh orang tua saja,tetapi ketersediaan informasi soal film-film yang beredar juga perlu terus diberikan, ya oleh kita-kita ini para pengguna media sosial. Taruhlah, kalau kamu ngepost di Path, atau ngetweet soal habis nonton film, berikan informasi yang cukup lengkap konten film tersebut. Jangan cuma bilang 'Filmnya bagus!" atau "Filmnya keren!", "Aktornya ganteng, Kyaaaaa!!!", tapi coba yang agak informatif dan objektif. Bolehlah sesekali memberikan informasi tentang "Warning, film ini mengandung kekerasan, kata-kata kasar, dan adegan bercinta penuh keringat, lengkap dengan lenguhan-lenguhan lebay antara tokoh utamanya." misalnya begitu. Sehingga orang-orang yang membacanya pun akan punya rujukan "Oh, jadi gue ga boleh ajak anak-anak nih nonton film ini."


Terus kalau misal orang tua masih nekat mengajak anak nonton film yang nggak sesuai dengan ratingnya, gimana donk?



should i say, orang tuanya egois?


Note : Saya bete, karena tadi nemu 2 pasang orang tua nonton sama anak kecil. 1 pasang keluar dan nggak kembali, sepasang bertahan sampai film selesai.

6 Comments

  1. Gemes dan elus-elus dada aja dech. Secara nga bisa ngomel-ngomel ke orangtua toh dia sudah merasa berhak dengan membeli tiket. hanya tetap nga ngerti apa yang ada dipikiran para bapak2 dan ibu2 koq bisa2nya bawa anak2nya ke bioskop nonton tontonan orang dewasa.

    ReplyDelete
  2. Iya sih, saya pernah ngajak nonton keponakan beberapa kali. Biasanya emang filmnya animasi. Cuma 1 yang agak kelewatan, Nonton The Hobbits. :)) Hanya karena dia lihat trailernya di TV dan pengen lihat Naga. Tapi belum apa2 dia udah bosen karena memang filmnya berjalan lambat. Alhasil kamipun keluar dan meninggalkan Ibunya nonton sendirian. Saya sama dia hunting DVD Ultraman di lapak2 deket bioskop. Hahaha...

    ReplyDelete
  3. Secara rating the hobit masuk ketegori dewasa kah? Karena nga pernah bawa anak2 nonton bioskop persoalan rating aku nga terlalu merhatiin.

    ReplyDelete
  4. hmmm jadi nie review deadpool ^^
    blom punya anak c ..nyimak aja...hoho
    padahal covernya seolah2 bisa ditonton utk anak kecil :D

    ReplyDelete
  5. Bukan review sih sebenernya. Curhat terselubung dalam tulisan yang kusebut review. Wekekek

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.