[caption id="" align="aligncenter" width="447"]#hoarding hoarding[/caption]

Sebelum kita cari tahu apa itu hoarding, untuk Anda yang sekarang sedang membaca tulisan ini, coba berhenti membaca sejenak dan lihat sekeliling Anda. Kalau saat ini Anda sedang berada di sekitar meja kerja, ada di sekitar rumah, duduk di ruang tengah, atau sedang gegoleran sambil membaca tulisan ini, Anda juga boleh berhenti dan melihat kondisi sekitar.


Sudah?


Oke, sekarang coba ingat-ingat, ada berapa banyak benda yang SEBENARNYA TIDAK DIBUTUHKAN tapi saat ini berada di sekitar Anda? Sudah berapa lama ada di sana? Kenapa tidak terpakai? Kenapa tidak dibuang?


Oh, ternyata ada cukup banyak ya? Dan apakah di tengah-tengah tumpukan barang tak terpakai tadi, Anda membeli barang-barang baru yang pada akhirnya ditumpuk-tumpuk juga? Wah, hati-hati, jangan-jangan Anda sedang melakukan tindakan hoarding atau menimbun barang-barang yang tak terpakai. Bisa jadi saat ini Anda mulai menjadi seorang hoarder  atau penimbun.


Nah lho, apapula itu Hoarding dan Hoarder? Kenapa kok kedengarannya begitu menyeramkan?



Apa itu HOARDING?


Sedikit mengenai hoarding, menurut banyak keterangan, salah satunya dari Wikipedia dijelaskan bahwa HOARDING (sumber) ini adalah sebuah kegiatan menimbun barang dalam jumlah besar yang dalam hal ini bukan barang dagangan ya, hehe. Penimbunan ini diikuti dengan ketidak mampuan seseorang untuk membuang sebagian atau beberapa barang yang dimilikinya karena merasa benda-benda tersebut masih (akan) berguna, atau sayang dibuang karena memiliki riwayat sejarah dan kenangan tertentu. Ada semacam keterikatan antara seseorang dengan benda-benda yang dimilikinya, meskipun mereka tahu lama kelamaan benda yang menumpuk itu mengganggu kehidupan pribadinya.


Dan pelakunya disebut Hoarder.


Hoarding ini tidak bisa dianggap sepele lho karena masuk dalam gangguan jiwa kompulsif. Tindakan penimbunan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena pelakunya beresiko mengalami beberapa kerugian. Dari mulai gangguan kesehatan sampai hubungan antar personal. Selain itu hoarding juga berpotensi merugikan secara finansial karena pelakunya cenderung tidak mempedulikan pengeluaran karena merasa selalu membutuhkan barang tertentu, padahal barang tersebut berakhir dalam tumpukan barang lainnya. Alhasil rumah pun selalu dirasa kurang besar, gudang pun terlihat sempit, bahkan kamar tidur pun berubah fungsi menjadi ruang penyimpanan.




[caption id="" align="aligncenter" width="473"] www.hoarders.com[/caption]

Peneliti mulai melakukan riset pada kegiatan penimbunan ini sejak tahun 2013 lalu. Meskipun sampai sekarang masih belum terlalu jelas dimasukkan ke definisi gangguan jiwa yang mana, tapi beberapa hal menarik ditemukan bahwa hoarding sering muncul pada 2 hingga 5 % populasi orang dewasa. Selain itu ditemukan mereka yang melakukan tindakan penimbunan sering menunjukkan gejala depresi, kecemasan, kurangnya perhatian, dan gangguan hiperktif. Faktor lain dari terbentuknya kebiasaan hoarding ini adalah ketergantungan pada alcohol dan gangguan paranoid.


Parahnya, banyak hoarders ini yang tidak menyadari bahwa mereka ternyata memiliki masalah yang cukup berat, sampai-sampai dibutuhkan penanganan khusus untuk mengatasi gangguan ini.


Dasar saya menulis tentang hoarding ini adalah sebuah tayangan di channel Lifetime yang menampilkan para hoarder tingkat parah di Amerika. Koresponden yang terlibat dalam acara ini diminta untuk memperlihatkan kondisi rumah mereka yang penuh dengan tumpukan barang. Hasilnya? Bikin saya geleng-geleng kepala. Dan komentar saya cuma satu : LUAR BIASA…MENGERIKAN. Ya, kondisi yang terlihat memang mengerikan. Banyak tumpukan benda di dalam rumah sehingga tidak bisa lagi disebut rumah, tapi lebih mirip sebagai tempat pembuangan sampah.


Dalam acara itu ditampilkan proses pembersihan. Dan proses ini sebagian besar tidak mudah. Entah apakah ini settingan atau tidak, tapi pada kenyataannya para hoarder memang susah untuk melepaskan keterikatan mereka pada benda-benda yang mereka miliki. Dan inilah yang membuat jalannya pembersihan jadi terhambat. Ada pertengkaran, ada ketidaksetujuan, adu argument antara koresponden dengan host, sampai-sampai harus melibatkan ahli kejiwaan untuk menyadarkan bahwa kebiasaan koresponden ini salah.


Saya sendiri baru menyadari mungkin saya termasuk yang secara tidak sadar melakukan hoarding.  Kardus-kardus yang tidak dipakai disimpan dengan alasan mungkin suatu saat berguna. Mp3 rusak masih ada dalam tas dan tak mau dibuang karena alasan itulah benda favorit saya dulu, sebelum rusak dan tak bisa diperbaiki. Begitu juga dengan banyak baju yang walaupun sudah lama tidak (bisa) dipakai tapi masih penuh dalam lemari. Dan bisa jadi, saya bukan satu-satunya orang dalam keluarga yang melakukan tindakan hoarding ini. Saya perhatikan ibu saya, kakek saya dulu, bahkan adik saya, juga senang menimbun barang-barang tak terpakai. So maybe, it’s in our family.


Hoarding sendiri ada banyak macamnya. Ada yang senang menimbun buku-buku dan tentu saja sebutannya adalah book hoarding. Orang senang membeli buku dan menyimpannya sampai bertumpuk dan sesak, padahal hampir tak pernah dibaca. Tapi kalau diminta untuk menyerahkannya pada orang lain, rasanya berat. Ini saya banget.




[caption id="" align="aligncenter" width="500"]mengenal apa itu hoarding book hoarding - http://www.dcputnamconsulting.com/[/caption]

Lalu ada juga yang disebut Animal Hoarding. Kalau yang ini adalah gangguan dimana orang hidup dengan banyak binatang piaraan dan binatang tersebut tidak dirawat dengan baik. Tidak disediakan tempat hidup yang layak sementara jumlahnya semakin bertambah, dan membuat kekacauan di dalam rumah. Pernah melihat yang seperti ini? Tetangga Anda mungkin memelihara banyak kucing sampai-sampai rumahnya kotor dengan makanan kucing dan kotoran yang berserakan dimana-mana? Ya seperti itulah.




[caption id="" align="aligncenter" width="442"]#hoarding animal hoarding - www.sparefoot.com[/caption]

Beberapa jenis hoarding lain melibatkan benda-benda kecil dan cukup remeh dalam kehidupan kita. Surat-surat (tak berharga), amplop-amplop kosong, kertas-kertas tagihan atau struk belanja dan ATM, semuanya disimpan meskipun sudah tidak ketahuan apa fungsinya.


Untuk Anda para ibu rumah tangga yang sering barang keperluan dapur tapi jarang dipakai, bisa jadi Anda juga sedang melakukan kegiatan hoarding. Panci-panci yang menumpuk dalam lemari, piring-piring indah tak terpakai di dalam rak, atau wajan pecah yang masih disimpan karena itulah peninggalan nenek moyang? Wah, mungkin Anda sudah menjadi salah satu hoarder.


Terdengar menghakimi bukan? Tapi memang begitulah kita dan para hoarder. Bukankah banyak penimbun yang memang tidak menyadari gangguan ini?


Beberapa tanda jika penimbunan barang sudah mencapai tingkat parah adalah :




  • Kalau tempat tidur sudah tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya karena adanya tumpukan baju dan barang-barang lain di atasnya

  • Dapur yang tidak bisa digunakan untuk menyiapkan makanan. Kulkas yang penuh dengan bahan makanan yang bahkan sudah kadaluarsa. Atau kompor yang sampai mengerak karena Anda tidak pernah tahu kalau disana tertimbun banyak noda makanan.

  • Meja kursi yang tidak bisa digunakan untuk duduk dan berkumpul dengan keluarga, atau untuk keperluan makan misalnya

  • Kamar mandi yang penuh dengan kotoran karena banyaknya sampah disana. Tisu dan popok kotor yang sudah “tinggal” berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya

  • Bahkan dalam kasus animal hoarding, pemiliknya tidak pernah sadar kalau banyak hewan peliharaannya yang mati dan menjadi korban kanibalisme oleh hewan peliharaan lain


Parah banget kan? Untungnya banyak diantara kita yang mungkin tidak sampai ke tahap itu. Atau mungkin belum?


Kenapa hoarding membahayakan? Karena beberapa pelakunya merasakan stress yang tidak terdeteksi, biasanya mereka akan melakukan beberapa hal berikut :




  • Tidak mengijinkan orang lain untuk datang ke rumah karena malu di rumahnya kacau balau

  • Tidak mampu mengembalikan barang yang dipinjam karena merasa sudah terikat. Bahkan ada kecenderungan melakukan tindak pengutilan terhadap barang milik orang lain

  • Mereka akan cenderung menutup diri dan menunjukkan gejala depresi dan kecemasan karena tumpukan sampah yang ada di dalam rumah


Itulah kenapa para penimbun ini harus melakukan konseling dan mendapatkan perawatan dari para ahli mengingat kebiasaan mereka ini ternyata sangat membahayakan. Bayangkan saja tumpukan barang yang ada di rumah justru menghambat petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api dan menyelamatkan penghuni jika terjadi kebakaran? Para ahli berusaha membantu para hoarder ini dengan mencari tahu apa sebab musabab kegiatan hoarding ini dilakukan. Apakah dipicu oleh sebuah masalah? Dan inilah yang harus dicari pemecahannya.


Tidak hanya konseling dan tindakan pembersihan total, tapi ternyata beberapa hoarder juga membutuhkan pengobatan secara medis untuk mengatasi gangguan mereka. Memang tidak bisa disembuhkan secara total, tetapi pemberian obat antidepressant ini dinilai mampu mengendalikan gangguan yang diderita. Dan tentu saja pemantauan secara kontinyu dibutuhkan supaya kegiatan hoarding tidak dilakukan lagi dimasa datang.


Jadi bagaimana? Apakah Anda seorang penimbun?


Jangan buru-buru menyimpulkan, tetapi mungkin kita perlu khawatir jika sampai saat ini kita masih belum bisa melepaskan banyak benda tak terpakai yang ada di sekitar kita dengan alasan siapa tahu berguna, atau sayang karena ada sejarahnya.


Coba cek di lemari, apakah ada baju dan celana yang bisa disumbangkan? Apakah ada barang-barang yang bisa dijual? Apakah ada sampah-sampah yang seharusnya memang dibuang? Karena seperti kata orang bijak “Less Is More”. Sepertinya meja kerja akan terlihat lebih menyenangkan jika diisi benda yang hanya digunakan. Rumah juga bakalan lebih nyaman jika hanya diisi barang yang memang benar-benar berfungsi.


Lalu bagaimana dengan mantan dan kenangannya? Perlu dibuang juga? Tergantung apakah menyimpan kenangan dengan mantan akan memberikan Anda benefit jangka panjang atau tidak. Lagipula, bukankah kita dianjurkan untuk "membuang mantan pada tempatnya?"


Selamat bersih-bersih…

22 Comments

  1. serem juga yah..

    titin penimbun juga sik, meski bukan dalam jumlah besar. yang jelas buku diary kelas 2 SD masih ada. buku2 SD juga masih sebagian ada :D.

    malah kalo punya rumah png punya ruangan khusus ngumpulin souvenir2 yg suka dikasih orang2

    *calon hoarderkah? --' :))

    eiya, tapi klo mau mbuang cuma mikir. hidupku jg baik2 saja ko tanpa barang2 itu. wis. rampung. buang. end :D

    ReplyDelete
  2. kak aku sayangan orangnya
    mau bersih2 tapi itu terlalu banyak kenangannya *buang-gak-buang-gak*

    ReplyDelete
  3. Buang di t4 sampah khusus organik ya Kak...*dikeplak

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya saya juga lho! masih punya jurnal2 jaman SMA! Hahaha...tapi ibu di rumah lebih parah, mau buang juga suka kuat-kuatan sama beliau....tapi biasanya sih nurut sama anak lanangnya ini..hihihi...Kayak kmrn habis bersih2 gudang setelah sekiaaaaaan lama selalu berargumen "Kan iseh dienggo"..padahal sudah karatan dan lumutan tuh barang2...

    ReplyDelete
  5. ibu titin penimbun barang anyar.

    apa2 sayang dipake, sampe sampe gak up to date lagi.

    makanan jg nunggu anak2nya pulang baru dimakan, sampe hampir exp :D

    ReplyDelete
  6. Seru artikelnya, mba. Aku tergolong penimbun buku. Cuma ada sebagian yang ingin disumbangkan.Hehhe

    ReplyDelete
  7. Ibu2 kita memang luar biasaaa yaaa..haha

    ReplyDelete
  8. Terima kasih Mbak. Bagus kalo rela menyumbangkan...berarti blm jd hoarder. Haha...btw, saya Mas2 lho...hihi

    ReplyDelete
  9. itulahh...
    daripada beli barang mending duitnya buat jalan-jalan atau jajan....jadi gak menuhin rumah


    tapi menuhin perut T_T
    *tujes-tujes*

    ReplyDelete
  10. Itu namanya memelihara "anaconda" di dalam perut...

    ReplyDelete
  11. Mamaku suka menyimpan barang yang gak kepake dengan dalih siapa tahu suatu hari nanti dibutuhkan huhuhu...

    ReplyDelete
  12. Nah kan...kayaknya mayoritas para mama,emak,ibu,biyung, semuanya potensial hoarder deh.. :))

    ReplyDelete
  13. oalah, baru tahu ada istilah gitu. Kalau sy penumbun kertas nota haha

    ReplyDelete
  14. Gapapa nota...asal nota penjualan...dapet duit kan :D *salam kenal*

    ReplyDelete
  15. Eh.mbak wuri ini kan dulu pernah siaran di Radio Gajahmada fm bukan sih? Penulis cenat cenut reporter? Woogh....!!!

    ReplyDelete
  16. Aku ska nyimpen struk blnja, tiket dll hehe..kdg syg utk dibuang

    ReplyDelete
  17. sama lah kita..sampai2 dompet tebel sama nota..bukan duit..hahaha...

    ReplyDelete
  18. Tp ga disimpen di dompet sih..ganggu klo di dompet

    ReplyDelete
  19. Baru denger nih. Klo orang Malang bilangnya "nyusuh". Yg animal hoarding kasian banget

    ReplyDelete
  20. Yg ga kuat kalo kebayang baunya kayak gimana....jd ga doyan bubur ayam.. *lha apa hubungannya?

    ReplyDelete
  21. Terimakasih buat artikelnya. Bermanfaat sekali. Saya jadi tahu kalau saya itu termasuk hoarder dalam kategori (mungkin) parah. Memang rasanya sulit sekali untuk membuang barang2 yang sudah tidak berguna. Kalau saya bukan hanya menimbun pakaian atau buku, tapi sampai kantong plastik, kertas bekas, kotak sepatu yg sudah bertahun-tahun, sampai kertas ulangan jaman sd pun masih ada dan rasanya berat untuk membuangnya. Kondisi kamar saya juga memang sudah tidak layak. Kursi dan tempat tidur penuh dengan pakaian, bahkan hampir seluruh permukaan lantai tertutup oleh barang. Saya pun tidak pernah mengundang teman main kerumah, karena malu kalau sampai mereka lihat keadaan kamar saya.
    Sebenarnya pengen sekali untuk berubah tapi gak tau harus mulai dari mana.

    Sayangnya kebanyakan orang tidak mengerti apa yg ada di dalam benak para hoarder, mereka hanya bisa menilai bahwa kami ini hanya sekedar jorok dan malas..

    ReplyDelete
  22. Hai Mbak Prita,

    Ketika saya menonton tayangan tentang "hoarding" saya sampai bertanya-tanya apa yang ada di pikiran dan benak para hoarder ketika menimbun barang-barang yang sudah masuk kategori sampah (menurut ukuran orang lain). Memang ada sedikit rasa jijik, terutama ketika melihat animal hoarder. Bahkan kemudian merasa kasihan juga dengan hewan-hewan yang dipelihara karena mostly mereka tidak mendapatkan perawatan yang layak.

    Tapi kemudian saya mencoba mengerti ketika nara sumber, terutama dari praktisi psikologi, yang mengatakan bahwa kita memang nggak bisa menghakimi para hoarder karena kebanyakan dari kita hampir nggak pernah bisa mengerti tentang apa yang dilakukan oleh mereka. Itulah kenapa menangani hoarder memang butuh pendekatan secara psikologis karena mau nggak mau, kegiatan ini berhubungan dengan aspek psikologis seseorang. Yang bahkan akibatnya juga bisa menyerang kejiwaan seseorang.

    Personally saya sih tidak memandang para hoarder sebagai pemalas ya? Soal jorok saya rasa itu adalah kesan yang ditimbulkan akibat menumpuknya banyak barang - yang seperti saya sebutkan tadi, berkategori sampah buat orang lain. Lebih dari itu, ternyata para hoarder ini merasa bahwa barang yang mereka simpan mengandung sejarah, atau berhubungan dengan sesuatu yang terkait dengan sisi historis kehidupan mereka. Itulah kenapa Mbak bahkan masih menyimpan kertas2 jaman SD, karena merasa memori itu harus tinggal selamanya bersama Mbak. Dan tidak gampang untuk melepaskan itu bukan? Selain,karena alasan "siapa tahu nanti kepake" tentu saja. Hehehe.

    Yang dibutuhkan (mungkin) hanya kesadaran bahwa kegiatan ini sudah dirasakan mengganggu, terutama ke kehidupan sosial. Harapannya sih mau dengan sukarela mencari bantuan karena kadang dibutuhkan intervensi dari pihak lain, dengan dukungan dari keluarga juga sih.

    Semoga cepet ketemu solusinya ya Mbak. Bisa segera dengan rela melepaskan. Karena seperti banyak orang bilang "less is more". Banyak punya malah banyak beban. Memiliki sedikit tanpa kekurangan adalah sebuah kebebasan yang meringankan.

    Salam,

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.