Tergelitik oleh sebuah pertanyaan di twitter tentang “bagaimana caramu makan bubur, diaduk atau tidak diaduk?” saya jadi pengen nulis sesuatu tentang ini. Menurut saya kita ini luar biasa, bahkan urusan makan bubur saja sampai dibahas. LOL. Mungkin karena sebenarnya ini memang penting banget buat dibahas ya?


Kebiasaan masing-masing orang memang berbeda, termasuk dari cara makannya. Ada yang senang makan dengan perlahan-lahan, tapi ada juga yang suka cepat-cepat. Saya punya teman dengan 2 tipe yang berbeda seperti ini. Yang satu makan lamaaaaaaa sekali. Bahkan jatah siaran 3 jam bisa dihabiskan untuk menikmati sepiring nasi rames. Dia ngambil nasi sebelum opening siaran, jeda siaran digunakan untuk makan sambil nonton TV, begitu terus sampai closing, belum juga habis. Selesai siaran masih dilanjut lagi makan sambil nonton TV. Sepiring lho. Cuma sepiring. Hahaha.


Tapi ada juga yang makannya serba kilat seakan-akan besok sudah kiamat dan sepiring nasi ini adalah makanan terakhir yang tersedia di muka bumi. Setelah bismillah dia langsung tancap gas. Sesendok belum habis dikunyah dan ditelan, sudah dijejali lagi sendokan-sendokan lainnya. Belum lagi ubo rampe macam tempe dan kerupuk. Semuanya dijejalkan dengan sukses tanpa gangguan.


 

Diaduk atau Tidak diaduk?



Lalu bagaimana dengan cara orang makan bubur? Perbedaan antara kubu diaduk atau tidak diaduk memunculkan perdebatan yang cukup sengit lengkap dengan penilaian masing-masing. Bahkan tak jarang penilaian itu berbau filosofis!


Kubu diaduk merasa kalo makan bubur ya enak diaduk, karena semua rasa nyampur jadi satu dan lagian buat apa nggak diaduk, lha wong di dalam perut nantinya juga nyampur? Sementara kubu nggak diaduk berpendapat, penyusunan elemen-elemen bubur ayam itu sudah ada maksudnya. Dari mulai mangkok disiapkan, bubur yang disendok, kuah yang dituang, sampai penambahan daun bawang, suwiran ayam, kacang kedelai, kerupuk, kecap dan bawang goreng, semuanya sudah diatur sesuai dengan urutannya. Seakan persiapan meracik bubur ini adalah sebuah ritual mistis nan kosmis (entah apa maksudnya), hasil karya seorang tukang bubur sudah sepatutnya dihargai. Jangan diaduk, nikmati pelan-pelan. Sesendok demi sesendok. Ditata sedemikian rupa bagai sedang menikmati jamuan bersama raja, dan semuanya diselesaikan sampai paripurna!


Kaum filsuf (lhoh) berpendapat bahwa susunan materi dalam semangkuk bubur ayam itu menggambarkan bagaimana strata manusia di dunia ini. Bubur ayam di bawah adalah strata proletar, yang meski kelihatan biasa saja tapi menjadi penopang dari susunan yang akan berada di atasnya. Kemudian ubo rampe macam kacang, daun bawang atau seledri, hingga suwiran ayam, adalah gambaran kelas menengah yang akan menjadi penghubung dan pemberi rasa bagi para proletar dan kaum atas. Entahlah. Lalu kecap dan kerupuk dianggap gambaran kaum elit dalam hidup ini. Secukupnya saja, katanya. Biar hidup tetap seru. Duh, saya malah lebih suka kalau bubur banyak kerupuk!


Nah, kalau semua elemen ini dicampur baur, maka tatanan hidup manusia akan kacau balau. Akan timbul chaos! Tidak ada keteraturan! Begitu katanya.


Lalu semuanya masuk perut dan strata manusia yang digambarkan dalam semangkuk bubur pun sudah tidak berarti apa-apa lagi. Ibaratkan perut sebagai singgasana Tuhan. Dan ketika di mataNya semua sama, kecuali ketaatan, dalam perutpun semuanya sama. Sama-sama nyampur.


Diskusi yang menjurus pada perdebatan seru hingga nyaris gontok-gontokan ini (nggak sih, kalo yang ini enggak) sebenarnya tidak akan menghasilkan kesimpulan apa-apa selain ego yang terluka dari masing-masing pihak. Tapi kok ya sampai sekarang masih diteruskan, gitu lho. Hahaha. Bahkan para psikolog pun tertarik untuk meneliti kepribadian seseorang berdasarkan cara makan bubur. Bayangkan! Kepribadian seseorang dari caranya makan bubur, Saudara!


Tapi entah setuju atau tidak, benar atau kurang benar, inilah penilaian tentang kepribadian seseorang berdasarkan cara makan bubur.





  • Diaduk




[caption id="attachment_3830" align="aligncenter" width="700"]#diadukatautidakdiaduk www.nunoorange.com[/caption]

Sosok penikmat bubur dengan cara diaduk konon adalah orang yang cuek dan praktis. Buat dia, yang penting adalah cita rasa. Apalah arti bentuk makanan yang fancy kalau rasanya amburadul? Ditambah lagi kalau makan bubur cepat-cepat, bisa dikatakan penikmat bubur yang satu ini kurang bisa menentukan prioritas dalam hidupnya. Saking nggak bisanya, sosok ini lebih suka multitasking meski hasilnya nggak ada yang bener. Tapi orang macam ini punya sisi positif juga. Selain soal efisiensi, mereka juga dikatakan lebih senang menempatkan kepentingan orang lain, terutama mereka-mereka yang sangat disayangi, dibanding kepentingan diri sendiri.


Bagaimana? Setuju?





  • Tidak diaduk




[caption id="attachment_3831" align="aligncenter" width="700"]#diadukatautidakdiaduk www.nunoorange.com[/caption]

Mereka yang memilih berdiri tegar di kubu makan bubur tanpa diaduk, konon kabarnya punya kepribadian yang fokus pada sesuatu. Mampu menerima perintah kerja dengan baik, cenderung metodis dan teoritis. Apalagi kalau mereka suka makan bubur secara perlahan, bisa dikatakan orang-orang seperti ini cinta dengan rutinitas. Mereka tidak suka jika ada hal-hal yang berjalan di luar rencana. Kurang spontan dan struktural. Semuanya harus dijalankan sesuai dengan daftar yang sudah dibuat. Tapi sayangnya, tipe pribadi seperti ini cenderung kaku dan lebih condong untuk mementingkan kepentingan diri sendiri  dibanding orang lain, terutama kalau orang tersebut nggak ada hubungan personal dengannya.


Bagaimana? Setuju?



Kesimpulan


Setuju tidak setuju, tolong jangan marah. Wong penilaian ini dibuat juga tanpa dasar teori dan belum bisa dibuktikan secara empiris kok. Semuanya berdasarkan pengamatan dan penilaian terhadap banyak sampel.


Mau diaduk ataupun tidak, makan bubur ya tetap makan bubur. Yang penting, dinikmati tanpa harus berdebat kusir. Toh pertanyaan ini nggak akan ditanyakan malaikat di alam kubur kelak. Masa iya mereka mau nanya : Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Apa kitabmu? Kamu makan bubur diaduk apa enggak?



Ngoook!


Nikmati saja buburnya. Mau dikata jorok karena mencampuradukkan ubo rampe dalam semangkuk buburmu atau malah terlalu rajin menjaga supaya bubunya nggak jadi bubar, makan saja. Toh itu bubur kamu yang beli dengan uangmu sendiri. Orang ribut juga nggak usah diambil pusing. Bukankah perbedaan itu indah?


Ternyata bahasan perbedaan itu indah tidak hanya terbatas soal warna kulit dan kepercayaan ya? Soal makan bubur pun bisa..hihihihi.



Note : beberapa referensi tulisan ini saya sadur dari berbagai sumber bahan bacaan.

29 Comments

  1. ((((ubo rampe))))
    duh kak, diaduk atau gak diaduk itu gak penting
    yang penting : DISUAPIN x)))))
    *kemudian disuapin pake sekop*

    ReplyDelete
  2. Lebih penting lagi, habis disuapin, terus ngapain? *dikeplak #Content21tahun

    ReplyDelete
  3. Sama aja yg penting makaaaan hahahhahah

    ReplyDelete
  4. Hahahaha. Adaaa aja yang dijadikan bahan diskusi ya Mas. Diaduk ato nggak diaduk buat saya mah sama aja. Kalo pengen cepet makannya saya aduk. Kalo pengen menikmati tiap komponen ya saya makan teratur. Hihihihi. Dua-duanya enak kok.

    ReplyDelete
  5. Tapi entah kenapa saya tetap tak bisa makan bubur tanpa diaduk. :)) #TeamDiadukGarisKeras

    ReplyDelete
  6. Wkwkwkw aku kok jadi mikir-mikir ya ._. biasanya sih aku nggak diaduk mas makannya, tapi kalau aku ngasih sambel banyak, ya aku aduk biar merata pedesnya. Ah, samaaaaaa aaja ah. sama enaknya :' yang penting makannya sama pevita pearce

    ReplyDelete
  7. masakan yg byk ubo rampenya yg diaduk cuma mie ayam.
    burjo, bubur ga diaduk. :D

    ReplyDelete
  8. ini nge replay febri yah jadinya? maap gak liat2 :D
    tapi itu yaaa.. teteuup pevita :))

    omg!

    ReplyDelete
  9. Waduh kak, aku makan sphagetti aja jatuhnya kayak mie ayam...saosnya semena-mena. Lha apalagi makan bubuuurr....campur baur..kacau balau...walau kata rupanya tak layak makan..hahaha

    ReplyDelete
  10. uidihhhh... makan bubur ayam aja filosofinya keren yo mas... terus gimana dong. Saya sukanya diaduk. pantas hidup jadi chaos ya? hahahaha.... eh tapi aduk gak aduk sih yang penting sama si dia....

    ReplyDelete
  11. Kalo ga sama dia, perasaan yg diaduk2 ya Kak? *kabur

    ReplyDelete
  12. Hahahhaha ngakak baca : ego masing2 pihak terluka. Huahahhahahahhaha ... Saya tim nggak diaduk, karena saya suka menelisik satu demi satu rasa tiap bagian *tsahh

    ReplyDelete
  13. Wah kalau aku tergantung mood, kadang diaduk, kadang juga gak diaduk, tergantung situasi. Tapi secara umum aku gak terlalu suka bubur ayam ataupun bubur nasi, soalnya selalu mengingatkan aku sama "makanan orang sakit". Aku lebih suka bubur kacang hijau dan ketan hitam, dimakan hangat-hangat pas hujan-hujan sedaaaaap :-)

    ReplyDelete
  14. mari bersama-sama kita Aamiini mas :')

    ReplyDelete
  15. AMIIIN! semoga terwujud yak! :))

    ReplyDelete
  16. enak diaduk, rasanya merata disetiap suapan hehehe. keren juga yach ada filosofi dari cara memakan bubur.

    ReplyDelete
  17. Diaduk ataupun tidak yang penting makan

    ReplyDelete
  18. Artikelnya menarik banget =’)) pembahasan filosofisnya itu lho =’)) saya pribadi sih sukanya diaduk terutama karena penginnya kerupuknya jadi lembek gitu malah lebih enak =’)) tapi kembali ke selera masing-masing aja dan asalkan ngga ngutang sama kang buburnya :’
    Thanks for writing this!

    ReplyDelete
  19. Hahahaha....kalau sampe ngutang bisa2 disiram kuah terus disambelin... :D #TeamBuburDiaduk

    ReplyDelete
  20. Hehe, itu filsufnya fasis ya..?
    Sebagai penganut faham demokrasi Pancasila, ane sih sukanya semua kelas sosial itu berbaur jadi satu tanpa ada perbedaan apapun, toh idealnya semua warna negara itu sama di mata hukum, sayangnya realita gak seindah itu, realita hidup itu random, chaotic, sama kayak bubur yg diaduk..
    Kesannya jorok, jelek, gak enak, tapi yaa itu yg bikin hidup lebih hidup..

    ReplyDelete
  21. Jadi kesimpulannya? Suka bubur diaduk atau enggak?

    ReplyDelete
  22. ahh bahas nya ke filosofi, memang agak2 gimana gitu ya netizen berdialog layak ya orang berilmu tinggi.

    aduk ga diaduk yg penting makan deh. saya lebih suka ga diaduk. rasanya menjadi sempurna dilidah dengan menyicip setiap komponen secara terpisah

    ReplyDelete
  23. :)) ya begitulah netizen. Dan tampaknya kita berbeda. Saya #TimDiaduk karena di lidah saya, semua komponen yang menyatu memberi sensasi tersendiri. Padahal mengaduk bubur sampai ketemu rasa yang pas itu butuh waktu lho. Haha

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.