Minggu ini saya dapat tugas untuk menyulih suarakan buku berjudul Zadig yang ditulis oleh Voltaire sebagai salah satu materi yang akan diupload ke Listeno.


[ Baca juga : Cara Asyik menyimak buku via Listeno ]


Ini adalah buku yang sudah lama dipamerkan ke saya sama si Mami Jeci. Katanya bukunya bagus dan "saya banget". Penasaran, yang saya banget ini seperti apa ya? *garuk-garuk jidat*. Dan begitu bukunya nyampe setelah melewati perjalanan dari Jogja menuju Semarang via jasa paket, saya tak perlu menunggu lama untuk segera menyelesaikan tugas sulih suara.


20151204_182758


Di hari pertama saya bisa dapat 10 bab. Kalau saja tenggorokan dan pita suara bisa bertahan cukup lama sampai malam, mungkin buku ini sudah habis saya sulih dalam satu malam. Tapi saya butuh sekitar 3 hari untuk menyelesaikan total 21 babnya. Lama ya? Cepet malah itu. Hehehe karena biasanya 1 buku saya bisa sampai sebulan karena penyakit malas sering kambuh.


Oke, sebenarnya terlalu muluk jika saya menyebut tulisan ini sebagai review. Karena pastinya di tangan seseorang yang lebih terpelajar hasil reviewnya pasti akan lebih dalam dan detail. Substansi dalam buku ini bisa ditangkap dan dilucuti sampai habis. Tapi buat saya, ini lebih seperti kesan-kesan tentang novel ini.


Konon novel ini cukup langka di pasaran. Is it? Pantaslah kalau langka secara buku ini diterbitkan pada tahun 1747. Ditulis oleh seorang sastrawan bernama asli Farncois-Marie Arounet atau lebih dikenal dengan Voltaire. Notaris yang lebih menyenangi dunia kesusastraan ini menuliskan banyak literatur yang salah satunya adalah novel berjudul Zadig.


Seperti dituliskan dalam sinopsi di bagian belakang buku ini, novel Zadig ditulis dengan gaya penceritaan seperti kisah 1001 malam. Memanglah seperti itu. Berkisah tentang perjalanan hidup seorang pemuda bernama Zadig. Berlatar belakang Babilonia pada masa pemerintahan raja Moabdar, kisah dimulai dari kisah Zadig bersama dengan Semira calon istrinya.


Zadig adalah seorang pemuda tampan yang baik hati. Selain terpelajar dia juga menyenangi filsafat dan belajar tentang banyak nilai-nilai kehidupan. Kebijaksanaan yang dia pelajari dari kitab Zaratusthra digunakannya untuk menyelesaikan banyak permasalahan dalam hidup. Oh, atau justru malah sering menimbulkan permasalahan baru dalam hidupnya?


Zadig yang dengan segala hal baik dalam dirinya membuatnya menjadi pemuda yang diidamkan oleh banyak wanita, termasuk gadis tercantik di desanya. Sayangnya seorang kerabat dari salah satu menteri di kerajaan Babilonia juga menaruh hati pada Semira. Maka direbutlah wanita itu dari tangan Zadig melalui sebuah tindak penyerbuan yang melukai mata kiri Zadig.


Semira yang meskipun bersumpah akan selalu setia, ternyata tak mampu menerima kecacatan Zadig dan justru jatuh ke pelukan Orkan, si keponakan dari sang menteri. Ketika tabib menyatakan bahwa luka di mata Zadig tak akan sembuh, Tuhan masih memberikan kasih sayangNya dengan menyembuhkan mata Zadig. Meskipun begitu, luka di hatinya terlanjur membekas karena pengkhianatan Semira.


Gagal menikahi Semira yang datang dari keluarga bangsawan, Zadig pun menikahi Azora, seorang gadis yang dianggap sebagai gadis terbijak di desanya. Tapi belakangan Zadig menemukan bahwa Azora pun kurang baik budinya. Karena ingin menguji keteguhan hati Azora, Zadig merencanakan sesuatu bersama dengan sahabatnya Kador. Dan karena rencana itu akhirnya Zadig tahu bahwa Azora tak sebaik kelihatannya.


Dan dari sinilah perjalan Zadig sebagai lelaki bijak yang malang dimulai. Berbagai kejadian dialaminya hingga bertemu dengan Raja Moabdar dan Ratu Astarte. Keluguanlah yang menjebloskannya ke penjara, namun kebijaksanaan dan pengetahuannya lah yang membuat dia lolos dari tiang gantungan dan hukuman sula.


Karena kebajikan dan kebijaksanaan itu pula dia mendapatkan posisi sebagai penasehat Raja hingga kemudian dia dan ratu Astarte saling jatuh cinta. Raja Moabdar yang marah merencanakan untuk membunuh keduanya. Atas bantuan dari sahabatnya Kador, Zadig melarikan diri menuju Mesir dan meninggalkan Asterta tanpa tahu kejelasan nasib wanita yang dicintainya itu.


Nasib Zadig sendiri bagaikan roller coaster. Kemalangan demi kemalangan menimpanya, namun sesering itu pula dia mengalami banyak kejadian yang membuatnya tetap menjadi orang bijak dan bersyukur. Hingga akhirnya dia kembali ke Babilonia untuk mengejar cinta sejatinya setelah mengetahui bahwa Raja Moabdar telah wafat. Zadig dan Astarte pun bertemu kembali dan mereka menjadi Raja dan ratu memimpin Babilonia menuju kejayaan.


Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa novel ini ditulis dengan gaya penceritaan seperti dalam kisah 1001 malam. Karena itu pula lah Voltaire sepertinya tidak terlalu menonjolkan keakuratan historis dari masa Babilonia sebagai latar belakangnya. Orang mungkin akan benar-benar mencari apakah Raja Moabdar ada? Apakah Zadig pernah memimpin Babilonia menuju kejayaan? Tapi bisa jadi mereka tidak akan menemukan fakta apa-apa tentang Zadig karena sebagian besar dari kisahnya mungkin hanyalah sebuah dongeng belaka.


Dan seperti banyak dongeng yang meskipun terkesan sederhana namun memberikan banyak kesan bagi siapapun yang menyimaknya. Begitupun perjalanan hidup Zadig yang malang. Melalui pengalamannya kita akan dibawa pada gambaran tentang hidup Zadig yang serba salah. Saya sendiri merasa kasihan pada tokoh Zadig yang meskipun bijak dan bajik, tapi sebagian besar kekuatan alam semesta seakan tidak mendukungnya, dan malah memberikan banyak ujian padanya.


Kebaikan dan kebijaksanaan yang dia miliki seakan hanya memberikan penderitaan yang berat untuk ditanggung. Jadi jahat tak bisa, tapi jadi baik pun malah menjadi korban dari kejahatan orang. Sejenak saya sendiri merasa geram pada perlakuan orang-orang dan alam semesta pada sosok baik seperti Zadig, tapi saya juga belajar bagaimana Zadig malang yang dengan ksatria dan tetap tenang menghadapi ujian yang diterimanya hingga mencapai keberhasilan. Mungkin kalau saya jadi Zadig, saya sudah mencak-mencak dan memaki Tuhan sambil bertanya "apa sih sebenarnya mauNya?"


Tapi begitulah tokoh Zadig diceritakan. Dia tetap tenang hingga garis akhir dimana buah dari perjuangannya berbuah manis.


Menyulih suarakan buku ini memang agak menantang. Karena selain gemas, kadang ada juga yang terasa lucu, terutama di bagian ke 12 yang berjudul Jamuan Makan Malam yang menceritakan tentang bagaimana Zadig mempersatukan orang-orang dari Mesir, india, Cina, Yunani, dan Kelt yang saling berselisih tentang kepercayaan mereka masing-masing akan konsep ketuhanan.


Salah satu yang membuat saya tertawa adalah bagian ini :


Dengan kemarahan yang masih meluap-luap, ia mengambil sepotong ayam rebus yang sangat lezat, dan si India sambil memegang tangan si Mesir berseru panik 'Apa yang kau lakukan?"


"Makan ayam rebus,"kata si Mesir


"Hati-hati," kata si India, "mungkin saja ruh bibimu terlahir kembali sebagai ayam yang mau kau makan itu. Kau tidak ingin memakan bibimu sendiri, bukan? Memasak ayam sama saja menghinakan alam semesta"


Ya sebenarnya sih biasa saja adegannya. Tapi demi membayangkan ekspresi orang-orang yang terlibat dalam jamuan makan malam itu membuat saya tidak bisa melanjutkan sesi take vocal karena saya terus menerus tertawa.

Si Mesir yang percaya pada keabadian bahkan setelah kematian, dan si India yang percaya pada konsep kelahiran kembali dimana mungkin saja manusia terlahir kembali menjadi ayam sesuai dengan karmanya.

Memang ada banyak humor satir yang diselipkan dalam novel ini, salah satunya adalah tentang kepercayaan dan agama yang kerap kali justru menimbulkan perselisihan di antara manusia. Kita dengan ajaran yang kita percayai selalu merasa yang paling benar, padahal intinya kita menyembah pada 1 Tuhan.


Dari sekian banyak isu, agama dan ajaran tentang kehidupan memang mendapatkan porsi yang cukup besar untuk dituliskan di buku ini. Salah satu ajaran tentang kehidupan diceritakan di sebuah bab yang berjudul Si Pertapa. Dibagian ini lagi-lagi saya juga tertawa terpingkal-pingkal ketika Zadig menemukan bahwa teman barunya, si Pertapa, adalah sosok manusia yang sakit jiwa.


Bagaimana tidak? Si pertapa membakar rumah seorang bijak yang sudah memberi mereka tempat bermalam dan makanan enak. Si Pertapa juga mendorong keponakan dari seorang wanita yang juga telah berbuat baik pada mereka. Di tengah-tengah rasa jengkelnya Zadig pun menemukan bahwa si Pertama ternyata adalah sesosok Malaikat yang mengajarkan nilai tentang kehidupan. Dan bahwa apa yang dilakukannya tentu saja punya alasan yang kuat.


Hal menarik yang dibahas di bab ini adalah tentang hukum sebab akibat dan keseimbangan. Kita mungkin sering bertanya "kenapa ada kejahatan di dunia ini? Kenapa ada manusia-manusia jahat? kenapa dunia ini tidak diisi saja dengan orang-orang baik yang terus berbuat baik dan menciptakan kedamaian? Karena kejahatan hanya akan membuat kekacauan dan kerusakan" Apa yang terjadi andai hanya ada kebaikan tanpa kejahatan di dunia ini?


Tapi hal sepertiitu memang tidak mungkin. Si pertapa menjelaskan "...dunia ini akan menjadi dunia lain, kalau itu terjadi. Di dunia seperti ini rantai peristiwa akan menjadi sebuah tatanan yang bijaksana dan sempurna, dan itu hanya bisa ada di loka abadi tempat tinggal Tuhan Yang maha Esa, yang tidak bisa dicemari oleh kejahatan..."


Memang sejatinya tempat dimana tak ada kejahatan adalah Surga, tempat dimana Tuhan berada.


Dan memang begitulah kehidupan di dunia yang fana ini. Zadigpun mendapatkan pencerahan dan jawaban akan pertanyaannya selama ini tentang kenapa orang-orang jahat hanya membuat orang baik seperti dia terus bersedih. Dia memang tidak diperkenankan untuk menentang apa yang sudah menjadi garis keputusan Tuhannya.


Namun bagaimanapun sialnya hidup Zadig, pada akhirnya dia menemukan kebahagiaan dengan berkumpul kembali dengan Astarte kekasihnya. Sebuah gambaran dari happy ending bagi Zadig yang meski mengalami banyak kesialan dan dianiaya oleh orang-orang namun kebenaran dan kebaikanlah yang akan menang dan memberikan kebahagiaan. Digambarkan bahwa orang-orang yang telah melakukan tindak kejahatan padanya mendapatkan balasan setimpal, dan tentu tidak menyenangkan.


Tuhan telah membayar perjuangan dan keteguhan Zadig yang tetap memilih menjadi manusia baik yang penuh dengan kebijaksanaan.


Saya pun jatuh cinta dengan buku ini. Saat ini saya sedang merayu supaya buku ini bisa jadi hak milik saya untuk dibaca kembali kelak ketika saya membutuhkan bahan bacaan yang bisa memberikan saya pelajaran tentang kehidupan tanpa harus membuat saya pusing kepala.


Ah, Zadig memang istimewa.


Zadig adalah karya dari Voltaire dan diterjemahkan oleh Widya Mahardika Putra. Diterbitkan oleh OAK Publisher pada Oktober 2015. Ini adalah cetakan pertama.

2 Comments

  1. […] Bagaimana kesan Nuno setelah menyelesaikan audio Zadig ini? Nuno menceritakan secara detail disini […]

    ReplyDelete
  2. […] ada sejumlah kelucuan dari alur ceritanya. Bahkan dua orang narator Listeno: Jeci Gracietta dan Nuno Orange sudah me-review buku suara ini sebelumnya karena mereka juga sangat gemas dengan novel yang satu […]

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.