Sebenarnya saya ini bukan penikmat lari yang sejati. Satu-satunya kegiatan lari yang bisa membuat saya bertahan dalam lintasan adalah lari dari kenyataan. Itulah satu-satunya hal yang terpaksa dan mau tak mau saya lakukan #yaksip Itulah kenapa ketika ada tawaran untuk ikut event Javana Candi Ke Candi sesungguhnya saya agak ragu. Tapi karena bujuk rayu salah seorang teman yang meyakinkan saya untuk ikut supaya bisa foto-foto cantik, saya pun setuju untuk ikut. Lagipula khusus untuk yang ini saya tidak perlu bayar.


20151129_074852


Maka berangkatlah saya menumpang mobil Mas resi (koordinator tim Fakerunners cabang Semarang) menuju ke Jogja pada Sabtu minggu lalu. Yang menyebalkan adalah si teman saya ini malah nggak jadi ikut karena sakit. Kelakuan! Kalau punya rencana selalu saja bubar jalan.


Walaupun saya bisa lari, dan pernah berlari lebih dari 5 kilo meter tanpa berhenti, tapi pace rata-rata saya masih 8 meski pernah juga meraih pace terbaik di angka 7. Masih belum apa-apa dan sepertinya itu tidak cukup untuk sebuah event lari rame-rame macam ini. Sepanjang perjalanan saya terus memikirkan keputusan saya. Apakah saya benar-benar serius mau ikut lari 5 kilometer? Bagaimana kalau sepanjang lintasan saya malah jalan kaki? Bagaimana kalau tiba-tiba pingsan di tengah jalan dan kemudian jadi pusat perhatian? Beuh! Rasanya saya lancang sekali memutuskan untuk ikut.


Tapi teman-teman lain meyakinkan saya kalau mereka juga lari tanpa target dan hanya sekedar senang-senang. Dan Oh, teman-teman saya ini berhasil mencapai garis finish dan mendapat medali, sedangkan saya tidak. Dan Oh, sepertinya mereka adalah pelari-pelari yang berdedikasi dan serius dengan kegiatan ini. Mereka bicara pace, mereka bicara target dan pencapaian, jadwal rutin, metode lari yang tepat, model latihan yang oke untuk lari jarak jauh, bahkan berencana untuk ikut Half Marathon dan Full Marathon. Sedangkan saya? Cuma bisa senyum-senyum.


...kok saya nggak bisa gitu? Ah, saya terlalu cinta sama kasur dan sebaliknya. Kasur posesif sama saya.


Minggu pagi saya pun bangun pagi-pagi buta untuk persiapan. Mandi, bongkar race pack dan memakai baju serta nomor dada, siap dengan sepatu merah saya. Saya tampak percaya diri dan kawatir di waktu yang sama. Tapi ya sudahlah, saya sudah sampai Jogja dan tidak ada kesempatan untuk mundur dan pulang ke Semarang saja.


Jam 5 sampai di Prambanan, menunggu giliran untuk diberangkatkan.Saya melihat banyak pelari-pelari yang serius mempersiapkan diri. Pemanasan dan latian lari kesana kemari. Sementara banyak kelompok-kelompok lari yang begitu kompak berlatih lengkap dengan coach masing-masing. Nyali saya pun ciut.


*kenapa tadi saya nggak bawa peralatan pom-pom aja sih sekalian?


Dan setelah menunggu hampir 1 jam, sirene pun berbunyi. Rombongan lari 5K berangkat setelah yang 10K dilepas terlebih dulu. Yak sip, saya mulai lari pelan-pelan sekalian pemanasan. Pokoknya nggak boleh berhenti buat jalan apapun yang terjadi.


Sekilo...lancar...napas sudah mulai enak. Pace juga mulai agak cepet. Dua kilo....masih kuat...nyalip banyak orang yang ternyata lebih dari sekedar penggembira dibanding saya. Agak bangga sekaligus jumawa walaupun masih kalah cepet dibanding yang lain.


Tiga kilo...busyet! ini pelari yang 10 kilo kok sudah pada nongol? Emang mereka terbang? Kok saya sampai bisa disalip? Makan apa sih mereka?


Mendekati 4 kilo, bertemu dengan pos minum. Hati dan pikiran mengatakan "jangan minum! jangan minum! terus lari! Terus lari!" Dasar tangan nggak mau sinkron, diambillah segelas air dari tangan si penjaga pos.


"Gleek...glek..glek..."


Lalu lari...


kok malah nggak kuat?


Lalu maksa pokoknya harus sampai...kurang sekilo lagi! Nah itu...kilometer 4 sudah kelihatan. Yes! Sampe ke 4 kilo. Tapi tunggu...kok malah napasnya abis? Kok perutnya malah jadi perih? Sial! Ini pasti gara-gara minum air tadi!


Dan beneran...lalu kilometer 4 sampai 4,5 jalan cepat. Si pelatih virtual ngomyang kalau pace saya terlalu lambat. "You can do it better! You can do it better!" begitu dia bilang. Dan saya bilang "kwarepmu! aku wis kesel!" dan napas sudah mulai satu-dua.


Tapi 500 meter terakhir saya mulai lari lagi. Pelan-pelan sampai ke garis finish.


Enggak, saya enggak puas. Saya enggak bangga. Biar kata masih banyak yang jauh tertinggal dibandingkan saya, tapi saya gagal melawan diri saya sendiri. Sampai garis finish cuma bisa tepuk tangan sendiri dan nggak dapat medali. Tapi lumayan, saya banyak keringetan. Lihat catatan di HP : durasi 45 menit (TKO) - 5kilo kok 45 menit. Najis tralala ini namanya.


Lalu pace terbaiknya di angka 7. Lumayan. Pace rata-rata 8. Memalukan! Kalori terbakar 500-an lebih, lalu terganti dengan 2 botol javana, semangkok soto ayam, dan makanan-makanan lainnya. 1000 kalori! Rugi bandar 500 kalori!


*Mana bisa langsing?


20151129_073658


Dan teman-teman yang lain hepi-hepi dengan medalinya, berfoto dengan bangga di gapura start finish, saya cuma bisa mesam-mesem, lalu melipir ke area candi prambanan, dan foto-fotonya disana saja.


Namanya juga penggembira.


Yang penting sudah datang dan menunaikan kewajiban.


Apakah saya tertarik untuk ikutan event beginian lagi? Entahlah. Karena kegiatan lari saya hanya sekedar rekreasi. Kalau nggak malas ya mari lari, kalau malas ya mending tidur.


Sekian.


Salam dari badut penggembira.

10 Comments

  1. Keren lah 5km 45 menit nuno. Kmrn ak7 juga ikutan 5 km 1 jam saja wkwkwk namanya pun tim penggembira.

    Dan yg nga nahan kalimat terakhir 2 botol javana dan semangkok soto ayam bubar semuaa... hehehehe

    ReplyDelete
  2. Lhoh? Kau penggembira juga kah? Toss kita lah! Haha

    ReplyDelete
  3. […] baca postingan sebelumnya tentang hura-hura lari Javana Candi Ke Candi belum? Kalau belum, baca dulu ya? […]

    ReplyDelete
  4. ini rute larinya kayaknya seru ya? tapi kok keliatannya panas banget ya kak? nanti maskaraku luntuuuuur *disambit botol*

    ReplyDelete
  5. Nggak kok..ngga panas..lha wong muternya ke sawah belakang prambanan dan di desa2nya gitu...rutenya simple sih...

    ReplyDelete
  6. Nuno, tolong ganti alamat ku di blogroll lu yach

    ReplyDelete
  7. Kerenlah mas Nuno. Ikutan lari 5km. Saya mahhh. Lari dr tempat tidur aja susah. Hahahaha.

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.