Orang bijak berkata bahwa masa lalu adalah sejarah, masa depan itu misteri, dan saat ini adalah sebuah berkah. Apa yang terjadi di masa lalu biar saja berlalu. Apa yang akan terjadi di masa datang tak perlu diterawang. Yang ada saat ini sebisa mungkin harus disyukuri.


Tapi godaan untuk bisa kembali ke masa lalu kadang sama besarnya dengan keingin tahuan kita pada masa depan. Apakah Anda termasuk yang seperti itu? Pernahkah sekali saja dalam hidup (tolong diingat-ingat kalau tidak keberatan) apakah Anda pernah berharap andai saja waktu bisa diputar kembali karena ada hal-hal yang ingin Anda lakukan?


Fakta menemukan bahwa hal semacam itu tidak akan pernah terjadi.



Saya juga pernah. Sering malah. Kadang-kadang, ketika sedang lupa dimana saat ini saya berada saya sering membayangkan tentang teori “jika dan hanya jika”. Berandai-andai? Katakahlah begitu. Meskipun dilarang, tapi rasanya susah untuk tidak mengijinkan pikiran-pikiran semacam itu datang. Meskipun pada akhirnya sadar kalau semua hal yang sudah lewat relakanlah untuk lewat.



Tapi pernah nggak melihat banyak orang tua yang sadar nggak sadar mencoba mengarahkan, membentuk, dan menginginkan anak-anak mereka untuk melakukan sesuatu atau menjadi seseorang seperti yang mereka inginkan? Ini memang sudah tugas dan pastinya cita-cita semua orang tua yang menginginkan hal terbaik bagi anak-anak mereka. Tapi banyak juga yang ternyata menyisipkan semacam “remidi” atau perbaikan dalam prosesnya. Ada mimpi-mimpi orang tua yang dimasa lalu tak tercapai, dan ingin anaknya memenuhi mimpi itu kelak. Itulah kenapa banyak orang tua bilang “Ayah pengen kamu jadi orang yang lebih baik dari Ayah”, “Ibu pengen kamu jadi orang sukses, sekolah setinggi-tingginya, jangan seperti ibu yang cuma lulusan SD”. Sedikit contoh. Meski tak diucapkan, pasti diniati kan?


Memperbaiki masa lalu yang dirasa kurang sesuai mungkin terasa menyenangkan. Kalau saja ada mesin waktu yang melayani jasa perbaikan masa lalu, daftar tunggunya pasti bakalan panjang. Tentu saja kalau kita mau nekat mencoba.


Jika ditanya soal subjek ini biasanya finalis Miss Universe akan mengatakan bahwa mereka tidak ingin merubah masa lalunya karena semua hal yang terjadi selama ini bisa membentuk dirinya yang sekarang, dan mereka mengaku sudah cukup bahagia dengan apa yang mereka jalani dan dapatkan saat ini.


Kalau saya yang ditanya walaupun saya bukan kontestan miss-miss-an? Sudah pasti saya akan mengeluarkan kertas dan membacakan 1001 daftar isi dari hal-hal yang ingin saya perbaiki di masa lalu saya. Dan beberapa diantaranya adalah :




  1. Saya ingin belajar lebih baik ketika sekolah dulu


Saya akui saya bukan siswa cerdas, pintar, rajin, dan aktif seperti gambaran ideal anak sekolahan di Indonesia. Bisa dibilang saya cukup menyepelekan arti pentingnya belajar dan mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Dan karena itu juga saya seperti tak punya visi apapun tentang mau sekolah dimana saya kelak dan mau jadi apa. Ujung-ujungnya hanya bangun pagi, berangkat sekolah, menghabiskan waktu dari jam 7 pagi sampai selesai, pulang, makan, dan menunggu waktu untuk tidur. Sering ribut soal tugas rumah yang membuat orang tua senewen, bahkan hanya belajar semalam sebelum ujian nasional. Hasilnya? Saya rasa tidak cukup memuaskan.




  1. Berani mengungkapkan keinginan dan mempertahankan pendapat


Pernah sekali ketika SMP saya berkeinginan untuk sekolah di SMEA atau SMA jurusan bahasa jika sudah lulus nanti. Meskipun seakan tak memiliki target, tapi saya juga punya keinginan. Cita-cita saya dulu kalau nggak kerja jadi akuntan ya ingin jadi tour guide. Bisa ketemu bule dan jalan-jalan kemanapun. LOL. Jaman segitu, jaman ketika ketemu bule masih dianggap sebagai sesuatu yang WAH. By the way, keinginan itu hanya saya sampaikan pada tante saya, tidak pada orang tua. Dan ketika ayah saya mendengarnya keinginan itu ditolak mentah-mentah. Beliau bilang SMEA hanya untuk cewek, kalau cowok ya harus masuk SMK. Saat itu imej-nya memang begitu. Sementara ayah bilang kalo ke SMA kelak harus kuliah lagi karena lulusan SMA dinilai susah cari kerja. Akhirnya masuk SMK jurusan mesin tekstil? Kerja di pabrik? Enggak. Nyasar ke radio.




  1. Mengambil keputusan yang lebih baik


Banyak keputusan tentang sesuatu yang saya ambil dirasa salah dan kurang bijaksana. Setidaknya belakangan itu yang saya rasakan. Banyak hal yang terlalu saya pikirkan hingga terlambat mengambil kesimpulan. Atau justru terburu-buru, dan ternyata itu bukan keputusan tepat yang layak untuk diambil. Bisa jadi karena faktor muda usia dan belum siap menjadi dewasa sampai-sampai keputusan pun terlambat diambil karena khawatir, atau justru malah salah perhitungan.




  1. Bijaksana dalam membelanjakan uang


Saya sadar sekarang bahwa saya sudah merasakan banyak kesenangan karena pendapatan yang meningkat. Tapi pada akhirnya saya merasa khawatir karena saldo tabungan tidak sesuai dengan apa yang selama ini saya bayangkan. Dan uang-uang itu pun menguap tanpa menjadi sesuatu yang bisa saya pegang. Well, some of them do exist. Tapi mostly nggak terlacak. Dan saya sadar sekarang bahwa keamanan finansial sangat diperlukan dan seharusnya sudah sejak dulu-dulu meskipun saat itu saya cukup tahu. Saat ini saya berusaha untuk sedikit belajar menahan diri dan mengamankan sedikit dari penghasilan saya di tabungan yang bahkan saya sendiri pun tak bisa mengutak-atiknya sampai waktu yang ditentukan tiba. Saya rasa ini adalah langkah yang cukup aman meski banyak orang bilang itu bukan langkah yang menguntungkan. Well, saya mungkin tidak berbakat jadi orang kaya, tapi punya dana darurat saya rasa cukup menenangkan.


Hal-hal tersebut adalah yang paling ingin saya ubah selain banyak hal lain termasuk jadi orang yang lebih baik dalam aspek spiritual tentu saja. Tapi seperti orang bilang bahwa kita belajar dari banyak kejadian dan kesalahan. Barangkali memang tidak ada hidup manusia yang sesempurna itu. Kalau saja bisa memutar waktu dan memperbaiki kesalahan, bisa dikatakan saya sedang menciptakan kesempurnaan. And perfect is boring.


Lalu bagaimana dengan Anda? Anda bukan finalis Miss Universe lho? Kalau saja bisa kembali ke masa lalu, apa saja yang ingin Anda perbaiki?

16 Comments

  1. nomer 4 itu bener banget haha!

    1. pengen minta sekolah di bidang/jurusan yang aku suka
    2. pengen cari Masben di masa 10 tahun yang lalu biar ga perlu ngrasain banyak patah hati haha

    ReplyDelete
  2. Aku aku akuu nambahin! Hehehe. Kalo aku pengin juga ngelakuin hal-hal yang seharusnya bisa beneran dilakuin. Karena sekarang banyak mengulur-ulur waktu. Heheheh.

    ReplyDelete
  3. banyaaak. banyaak yg pengen diubah. ><

    ReplyDelete
  4. Penunda sejati. Sama lah kita mas. Toss! Terima kasih sudah mampir.

    ReplyDelete
  5. lulus cepet kerja cepet nikah cepet #eh

    ahahah

    ReplyDelete
  6. Jiahaha...mari kita Aminkan! Amiiin

    ReplyDelete
  7. Adududuh. Awal baca tulisan ini saya pede bilang ke duri sendiri gak ada Mas. Eh pas baca poin ke 2 kok langsung mikir iya, pengen juga ubah bagian itu, trus yang ketiga.. Trus... Aaargh.. Banyak ya Mas ternyata. Tapi ya gimanapun bersyukur aja sudah sampai di posisi sekarang ini. :D

    ReplyDelete
  8. :)) betul sekali...bersyukur jadi semacam pengendali biar pengen mengulang waktunya jadi nggak kebablasan..terima masih sudah mampir Mas. Salam kenal.

    ReplyDelete
  9. Eh iyaaaa. Salam kenal Mas. Adududuh tak sopan ya saya..

    ReplyDelete
  10. Kalau saya yang nomor 4 itu mas. Efeknya masih sampai sekarang.

    ReplyDelete
  11. Salah satu penyesalan paling dalam dari kehidupan manusia. Sembrono dalam keuangan. Sama seperti saya Mas. Bisa dibilang, hampir bangkrut. Tapi skrg lagi mencoba buat sedikit demi sedikit nabung dan baru bs sebatas nabung..hihihi

    ReplyDelete
  12. mau ganti jurusan kuliah xixixixixi , siapa tau skrng bisa jadi chef ( ngarep). Btw mas Nuno blognya cakep bener, ada sentuhan tangan mas Febriyan yang baik hati ya :).

    ReplyDelete
  13. Sekarang udah jadi chef handal lho...setidaknya di mata miswa.. senanglah mas suami wong tiap u pulang event selalu bawa panci :)) btw makasih...pujian saya oper ke Mas Feb...karena blog ini yg ngoprek beliaunya..haha.

    ReplyDelete
  14. Hi Mas Nuno.
    Entah kenapa poin-poin di atas mirip sekali dengan saya. Terutama poin nomor 1 dan 2. Rasanya nyesel dulu gak lebih speak up. Tapi gak boleh lama-lama nyeselnya juga sih. There will be another way :)

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.