Sabtu kemarin saya datang ke resto steak bernama Obonk. Demi apa coba, hampir 12 tahun disini dan baru kali ini makan di Steak Obong? #ShameOnMe. Yang saya tahu dan sepanjang yang bisa saya ingat, resto steak ini sudah cukup lama ada di Semarang. Dulu ada 1 resto di wilayah Sampangan Semarang, dan 1 lagi di sekitaran Pamularsih.


Tapi sayang, keduanya sudah tutup.


Sedangkan resto yang ketiga ada di Majapahit Semarang. Itupun tinggal satu-satunya. Menempati sebuah bangunan 2 lantai, secara teknis Obonk menempati lantai 2, sedangkan lantai 1 digunakan untuk gudang penyimpanan kertas. Katanya sih masih milik dari pemilik resto.


Pengunjung harus jeli membaca tanda, meskipun ada papan nama cukup besar yang menandakan letak resto Obonk, tapi pengunjung harus sedikit berusaha untuk mencari jalan masuk ke resto. Tempat parkirnya ada di bagian dalam. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung 3 mobil dan beberapa motor.




[caption id="attachment_2842" align="aligncenter" width="620"]Menuju ke ruangan resto Menuju ke ruangan resto[/caption]

Untuk menuju ke resto kita harus naik melalui tangga yang ada di dalam bangunan. Pertama kali masuk ke tempat ini kesan saya adalah restoran ini agak suram (karena saya datang pas malam). Ada beberapa pengunjung lain yang datang malam itu.


Desain dalam ruangannya sendiri "agak lapang" kalau nggak mau dibilang kosong dan plain. Penataan bangkunya mengingatkan saya pada acara Restoran Impossible yang dipandu oleh Chef Robert Irvine di Food Network.




[caption id="attachment_2843" align="aligncenter" width="620"]kosong kosong[/caption]

Kalau ada yang belum tahu soal Restaurant Impossible, itu adalah program dimana Chef Robert mendatangi failing restaurant atau restoran-restoran yang mengalami penurunan omzet hingga diambang kebangkrutan. Bukan berarti Obonk juga masuk dalam kategori failing restaurant, maksud saya, dekorasi dalam restonya sendiri agak membosankan dan apa adanya. Sorry to say that... :(


Satu hal yang menurut saya cukup lumayan adalah resto ini menyediakan sebuah ruangan untuk sholat, dan cukup lebar juga bersih. Letaknya di dekat kasir, atau kalau Anda lihat foto pertama, itu tembok sebelah kiri di jalan masuk ke resto, itulah letak musholanya. Sedangkan toilet ada di seberang ruangan Mushola.




[caption id="attachment_2844" align="aligncenter" width="620"]musholla musholla[/caption]

Saya sendiri sebenarnya lumayan penasaran dengan resto ini dan pengen nyoba masakannya. Cuma memang selama ini cuma numpang lewat kalau pas melintas di sekitar daerah Majapahit.


20151121_200529


Menunya sih lumayan banyak. Well, hampir sama sebenarnya dengan menu2 yang ada di Waroeng Steak (nggak perlu berdebat siapa yang meniru siapa). Ada Steak tepung dan steak original. Ya karena saya nggak bisa memesan semua karena keterbatasan ruang di perut (bo'ong banget). Akhirnya saya memilih untuk memesan Beef Cordon Blue - setelah berkonsultasi dulu tentunya dengan si Mas Waiter tentang makanan apa yang perlu dicoba disini. Sedangkan teman saya memesan Delicious Rice.


Bagaimana rasa makanannya?




[caption id="attachment_2846" align="aligncenter" width="620"]Beef Cordon Blue Beef Cordon Blue[/caption]

Nah ini penampakan Beef Cordon Blue yang saya pesan. Bentuknya kayak pisang goreng parut keju ya? Hahaha. Pertama lihat juga saya mbatin begitu. Ini adalah daging sapi yang digulung dengan isian keju cheddar yang dipotong kotak dan panjang, lalu dibalur dengan tepung roti halus, lalu digoreng. Sausnya sendiri adalah saus barbeque dingin (mungkin botolan), dan ditaburi dengan parutan keju cheddar. Ada sayur sebagai pelengkap.


Rasanya sendiri sih tidak istimewa. Tepungnya cukup crispy. Sementara daging sapinya lumayan lembut, tidak alot. Hanya saja entah kenapa saya mencium aroma yang agak "penguk". Entah dari dagingnya, keju, atau tepung rotinya. Agak mengganggu sih baunya. Hihihi. Tapi ya tetep habis juga ini makanan. Harganya 27 ribu rupiah dan mungkin tidak akan bikin kenyang karena porsinya yang masih dalam kategori moderat. Dikit enggak, banyak juga enggak.


Lalu bagaimana dengan delicious rice-nya?




[caption id="attachment_2847" align="aligncenter" width="620"]delicious rice delicious rice[/caption]

Sepertinya ini menu yang cukup menarik. Nasi putih yang disajikan bersama irisan daging sapi yang dipotong dadu, dan diolah seperti semur dengan bawang bombay, ada irisan paprika merah sebagai pelengkap. Makanan ini disajikan di atas hotplate. Bagaimana rasanya? Lumayan. Ini adalah jenis makanan versatile yang bisa dinikmati oleh anak-anak maupun dewasa. Mungkin untuk pecinta pedas, makanan ini kurang mengundang selera,karena citarasanya cenderung manis-gurih, dan sama sekali tidak pedas meskipun sudah ditambah dengan merica. Mungkin lain kali bisa pesan custom dan dibuat agak sedikit pedas.


Buat saya kunjungan ke resto ini tidak terlalu berkesan. Memang tidak dipungkiri sepertinya Obonk memang kalah bersaing dengan keberadaan Waroeng Steak yang pertumbuhannya luar biasa itu. Tapi jika ditanya apakah saya akan kembali ke resto ini, mungkin saya akan menjawab iya, karena saya belum nyoba Iga-nya. Padahal kan ini restoran spesial iga juga ya?


Next time deh ya? Dan mungkin Anda tertarik untuk datang? Silakan lho mampir kesini




[caption id="attachment_2848" align="aligncenter" width="620"]ini lho alamatnya ini lho alamatnya[/caption]

Disclaimer :

review ini dibuat secara independent sesuai dengan apa yang saya rasakan. Tidak ada endorsement. Kesan terhadap kondisi resto dan rasa masakan bisa saja relatif pada masing-masing orang. Pengalaman berbeda bisa saja Anda rasakan. Jadi silakan mencoba sendiri.


*wink wink*


19 Comments

  1. Memang tidak bisa dipungkiri kalau steak obonk kalah cepat pertumbuhannya dengan Waroeng Steak, di Makassar waroeng salah satu yang diminati kalau pengen makan stik, setahu saya

    ReplyDelete
  2. Sebenarnya bukan kalah cepat lagi, karena obonk sendiri disini lebih dulu ada dibanding waroeng steak. Jadi ya, memang sudah kalah saing.

    ReplyDelete
  3. ini di solo juga ada, tapi sepi..kalah sama steak steak lainnya..

    ReplyDelete
  4. Oya? Wih, saya pikir cuma ada di semarang :))

    ReplyDelete
  5. Di Bogor pernah ada, dari dulu pengen nyoba, tapi sampai warung nya tutup gak kesampaian nyoba. Lebih seneng makan shabu di sebelahnya soalnya :-D

    ReplyDelete
  6. Lah?! Di Bogor juga ada? Dan sudah tutup juga?! Btw makan shabu lebih sehat dong ya...:D

    ReplyDelete
  7. Pernah ada beberapa mas. Tutupnya sih beberapa factor menurutku ya, salah satunya adalah karena tempatnya yang kurang strategis. Tapi kalau lihat ulasanmu, bisa jadi juga karena menu nya yang kurang sip diolahnya. Menurutku steak itu enaknya yang orinisil dan gak terlalu dimodifikasi macam-macam penyajiannya. Yang terpenting daging yang digunakan kualitasnya bagus, dan pengolahannya pas.

    Kalau di Bogor sendiri mulai ada Steak Abuba, yang dari segi rasa dan penampilan resto nya jauh jauh lebih ok. Sementara aku meskipun jarang makan steak, lebih suka makan di Holy Cow Cilandak Town Square, karena entah gimana steak yang mereka sajikan itu enak banget. Gurih dan kelembutannya pas.

    Hmmm makan shabu sehat siiih, cuma gak sehat buat kantong kalau sering-sering hahahaha. Dan akhirnya aku akalin dengan, beli kompor meja dan panci shabu. Akhirnya lebih sering nyabu sendiri di rumah. Kaldu nya udah modifikasi. Mulai dari yang orisinil pakai Katsuobushi (nitip temen yg liburan ke Jepang), sampai kaldu karangan sendiri.

    Eeeehh kok malah jadi cerita di sini. Maafkan :-D

    ReplyDelete
  8. Hahaha..tak apaaa..ini kan perspektif baru dari sudut pandang yang berbeda *tsah* disini ada Holy Cow, tapi sepertinya bukan Holy Cow punyanya si Lucy Wiryono itu...

    ReplyDelete
  9. iya mas putra, itu steak obonk kayaknya merk lama ya..jogja kayaknya juga ada..

    ReplyDelete
  10. lama banget gak makan di obonk, terakhir pas masih kuliah di Malang. Biyuuhh masih ada gak ya outletnya sekarang?! :D

    ReplyDelete
  11. Ya Alloh, ternyata Obonk ini ada dimana2 yaaaa..hahahha...tobaaat deh saya kupernya

    ReplyDelete
  12. Ini yang kalo dari arah Simpang Lima kanan jalan bukan mas?
    persis bangjo. kalo iyaa.. dulu udah pernah nyoba disitu.. tapi lupa waktu itu namanya 'Steak Obonk' apa bukan. Tempat kuliner kan kadang brandnya ganti2.

    Kalo memang bener itu, eingetku dulu tempat makannya dilantai satu. Dekorasi yg apaadanya mungkin disebabkan karena pemanfaatan ruang, jadi bukan bangunan yang sejak awal pembuatannya memang untuk resto.

    ReplyDelete
  13. Bener..yg kanan jalan kalo dr simpang 5....bisa jad kosongnya juga begitu. Lantai 1 jd gudang sekarang...

    ReplyDelete
  14. Beneran sampai sekarang masih suka rancu membedakan waroeng steak ama obonk. Terakhir makan kayaknya 10 tahun lalu yang lokasi nya ada dibelakang hotel cempaka putih. Steak nya beneran nga ada istimewanya sama sekali selain dagingnya alot trus bumbunya juga kayak hangus gitu. trus nyobain milkshake berasa bukan susu tapi santan gitu dech. Tapi nga tau juga masih ada apa nga yach itu obonk disana.

    ReplyDelete
  15. Benar Nuno. Kalau di jakarta steak model obonk banyak berjamuran dan enak2 lagi.

    ReplyDelete
  16. Di Medan sempat ada, dan sepi banget. Akhirnya tutup karena kalah saing sama Waroeng Steak :D

    ReplyDelete
  17. Waroeng Steak sampai medan juga?!??!?! Huebat!

    ReplyDelete
  18. Jelaaaaassss! Wong sampe pindah ke tempat yang lebih gede karena peminatnya banyak :D

    ReplyDelete
  19. ws sama obonk? obonk lbh mantap la..syg medan ttp..buka lagi plsss

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.