20151023_142820-01

Tadinya nggak tahu lho kalau bukan Daniel yang ngasih tahu. Oh ya? reader's digest indonesia menyudahi masa tayangnya setelah 12 tahun? Oh Noooo... (mulai deh lebaynya). Lagian, baru tahu kalau RDI ternyata sudah 12 tahun terbit di Indonesia. Secara kenalnya baru beberapa tahun belakangan ini sampai kemudian langganan. On and off sih langganannya, tapi lumayan lah kalo bisa ngumpul sampai 2 kardus gede berisi majalah saku satu itu.


Tapi ya bener juga apa yang ditulis sama Mbak Imelda seperti yang terpampang dalam foto, kalau kebiasaan manusia memang berubah. Termasuk dalam konsumsi media. Dari yang semula analog, sekarang banyak beralih ke media digital. Sekarang semuanya serba online. Mau dapet informasi saja nggak perlu langganan koran atau majalah. Tinggal buku situs penyedia informasi dalam sekali klik dan bertaburanlah informasi yang kita butuhkan.


Mau denger musik saja sudah banyak portal penyedia musik dari yang legal sampai yang ilegal. Orang bisa beli atau unduh gratis hanya dengan menyisihkan sedikit waktu dan (hampir) nol rupiah untuk memiliki satu dua lagu, atau bahkan sealbum penuh!


Apasih sekarang yang nggak Go Digital? Semuanya serba digital. Apa-apa online, apa-apa online. Dan dibalik kemudahan ini ternyata banyak yang kemudian jadi "korban". Sekarat menunggu waktu, terseok-seok berjuang dalam persaingan yang makin ketat. Ya salah satunya RDI.


Kalau kemudian dalam judul saya tulis Disctarra Citra, ya memang pada kenyataannya demikian. Gerai CD musik yang dulu jadi andalan tiap kali belanja CD harus menutup 1 lagi cabangnya setelah 2 cabang lain tutup.


Dulu di Semarang ada sekitar 5 gerai, 1 di Java, 1 di Gramedia, 1 di matahari, 1 lagi di citra, dan 1 lainnya di Carrefour, sekarang tinggal 2. 1 di Paragon mall (buka cabang dalam beberapa tahun lalu) dan yang lainnya di Carrefour. Itupun (katanya) udah nggak nyetok CD2 baru untuk sementara karena permintaan yang menurun. Sedih kan dengernya?


Selain Disctarra, Bulletin Musik yang ada di Pandanaran juga tutup beberapa bulan lalu. Apalagi kalau bukan kalah saing sama musik digital?


Mungkin yang masih akan bertahan adalah jualan CD via gerai ayam goreng krispi cap Kakek Tua dari Amerika.


Jadi seperti yang ditulis, mungkin berhenti tayangnya RDI juga karena mulai sepi peminat. Entahlah. Yang namanya bisnis percetakan kan memang keras katanya. Pernah baca bukunya si Nina Moran, CEO nya GoGirl yang cerita soal jatuh bangunnya dalam bisnis penerbitan majalah. Jaman dulu saja masih yang pontang panting, tantangannya berat. Nah, gimana dengan sekarang ya? Dimana semua orang semakin dimudahkan dengan teknologi yang ada dalam genggaman mereka, dengan biaya yang lebih sedikit.


Tapi bisa jadi meskipun tantangannya makin berat, ada yang masih coba bertahan dengan kepercayaan bahwa masih ada orang-orang yang senang memegang fisik sebuah majalah atau buku, membaca koran lembar demi lembar, atau mendengarkan musik via pemutar CD, menyentuh kepingan compact disc lalu menempatkannya di player, lalu pencet tombol ini dan itu. Kalau bosan bisa disimpan untuk koleksi. Mungkin masih ada orang-orang seperti itu. Tapi entah berapa banyak jumlahnya.


...dan seberapapun jumlahnya, masih tidak sesuai dengan hitungan ekonomis para produsen.


Saya sendiri jujur lebih senang membaca buku atau majalah via fisiknya ketimbang baca online. Terhubung pada portal hanya kalau butuh cepat saja. Tapi keasyikan membaca lembar-lembar koran, buku, atau majalah memang tak tergantikan. Nggak hanya scrolling layar, tapi membolak-balik halaman dengan bunyi kertas yang "kemresek" itu adalah sebuah seni yang indah dari membaca. *lebaaaaaaaayyy!


Urusan musik?


Ya memang ribet sih kalau harus mendengarkan musik lewat kepingan cd, musti prepare ini dan itu. Tapi namanya kolektor CD pasti lebih senang mengumpulkan fisiknya di sebuah rak ketimbang menyimpan file dalam hard disk komputer. Ada kepuasan tersendiri gitu lho. CMIIW, tapi begitulah kepuasan yang saya rasa dengan koleksi buku2 saya. Jadi mungkin kepuasannya bakalan sama kali ya?


20151022_122654-01


20151022_122504-01Itu adalah CD2 yang saya beli terakhir kali dari Disctarra Citraland Mall Semarang, dan Reader's Digest edisi terakhir.


Hiks..jadi sedih.


ya sudah, Sayonara. Sampai bertemu lagi di edisi2 selanjutnya...kalau memang mau naik cetak lagi.


:D

3 Comments

  1. Jadi potenso radio ke depan gimana ya Mas seiring tersedianya banyak konten audio di Internet?

    ReplyDelete
  2. Potensi ke depan masih sangat baik sebenarnya. Meskipun konten audio di internet banyak, tapi radio tetap tak tergantikan. Intensitas mendengarkan radio dalam sehari per orang mungkin turun, tapi aspek sentimentil dan nostalgia mendengarkan radio itu yang nggak bisa digantikan hanya dengan mendengarkan lagu di youtube atau di mp3 handphone misalnya. Terlebih lagi kalau kualitas jaringan internet kita masih belum bisa diandalkan, pasti orang masih akan mendengarkan radio secara konvensional.

    meski begitu tetep sih, radio juga harus aware sama kondisi sekarang. Sama seperti blogging, Content is a king. Program dan pengemasannya adalah hal yang penting saat ini. Selain itu ya kita mulai mikirin buat nyasar pasar pendengar yang senang berselancar di dunia maya dengan menyediakan layanan radio streaming. Ibarat kata 2-2nya diurusin. Pendengar yang mendengarkan radio sambil masak di dapur dan juga mereka yang denger radio sambil mantau pergerakan saham di depan laptopnya.

    Kok dadi dowo ya mas? Hahaha

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.