[caption id="attachment_2568" align="aligncenter" width="300"]shutterstock_79049779-300x190 taken from www.adweek.com[/caption]

Jadi ceritanya begini : awalnya saya follow akun IG seseorang. Isinya sih tentang resep masakan. Secara saya lagi seneng-senengnya belajar masak, butuh resep yang gampang-gampang aja donk ya? So far sih belum pernah nyoba resep dari situ, karena selama ini lebih sering bertanya : Ini resep kok bukan resep asli dari si empunya akun ya? Ini yang punya resep tau nggak ya? Walapun sebenarnya dalam bio nya si pemilik akun ini sudah menjelaskan kalau resep-resep yang diposting adalah hasil googling sana sini dan sudah mencantumkan sumbernya.


Saya cuma mbatin Oooo kalo gitu berarti boleh ya? Secara kalau sudah kesebar di google, dicomot tanpa permisi pun oke. Tapi yang menggelitik adalah suatu saat si IG ini jualan. Menjelang lebaran jualannya makin jadi. Jualan baju lah, makanan kecil lah, pokoknya mayan kenceng deh. Terus saya heran, lha katanya akun resep, kok jadinya jualan juga?


Ternyata emang masih musim begitu. Akun instagram meraih follower sebanyak-banyaknya dengan tujuan berjualan. Meraihnya ini juga dengan berbagai macam cara. Ada yang beli follower, dan ada juga yang berusaha untuk menjadi akun yang menarik perhatian pengguna. Ya salah satunya dengan memberikan informasi menarik. Akun resep ini sih menarik buat saya, makanya saya follow. Cuman kok nggak murni sharing, tapi ujung2nya jualan juga. Enggak lantas jadi sebel sih, tapi pertanyaan itu masih tetap ada. Si empunya resep tau nggak ya kalau resep sama fotonya dicomot tanpa permisi?


Lalu berkenalanlah saya dengan grup Indonesian Food Blogger. Suatu ketika temen2 di grup ini ngebahas soal hak cipta foto, secara banyak anggota IDFB yang pada jago ngambil fotonya. Sumpah deh, bikin dengki tuh foto2. Bagus-bagus! Nah, untuk mengambil foto sedemikian bagus kan nggak gampang prosesnya, itulah kenapa ada yang protes fotonya diambil tanpa permisi (walopun kalo ngobrol di grup pake "wkwkwkwkw" tapi aslinya mangkel). Malah ada juga yang pernah punya pengalaman negur seorang pemilik web resep masakan yang ngambil foto hasil karya sekaligus resepnya tanpa ijin, bahkan nggak ngasih back link sama sekali, dan eh malah dimarah-marahin. Padahal si empunya web konon kabarnya adalah seorang copywriter (menurut cerita dari temen saya ini) yang notabene pasti tahu lah soal pelanggaran hak cipta?


Tapi nggak sedikit yang akhirnya pasrah dan (mau nggak mau) nyerah karena sudah tak bisa lagi melakukan apa-apa. Iya juga sih ya? kalau mau riwil malah menghabiskan tenaga. Lagipula kalau mau ngetracking satu-satu kok ya selo banget gitu lho? AKhirnya ya sudahlah, anggap saja beramal meski hati periiiih...


Nah, berawal dari situlah akhirnya saya iseng2. Beberapa kali ngelihat foto salah satu temen saya nongol di akun IG resep tersebut. Awalnya, ketika saya mention si temen saya ini, beliaunya santai kayak dipantai. Menanggapi dengan sambil lalu dan lenggang kangkung. Dan siang ini, ketika saya nemu foto lainnya dan mention beliau, langsung deh...keluarlah taringnya - begitu sih istilah dia. :D


RAWWWWRRR dan terjadilah drama "penggerebekan" ala-ala. *ngakak* Fotopun dihapus, saya pun diblock sama akun IG tersebut karena mungkin dianggap comel dan pengadu. Sebenarnya sih saya nggak enak juga sama si pemilik akun, tapi ya gimana ya...? Padahal si temen saya ini ngerasa biasa aja habis ngomel-ngomel. *ngakak lagi*


...


Saya akui saya sendiri bukan 100% manusia suci yang tak pernah melakukan tindakan pelanggaran hak cipta. Sering kali saya melakukan tindakan mengambil gambar untuk diposting di blog sebagai ilustrasi. Kadang saya cantumkan sumbernya, dan kadang juga enggak (karena faktor lupa sih sebenernya).


Jujur saja, saya ini juga sering mendownload berbagai macam lagu dari internet. Kadang kalau materinya sudah lawaaaaaas sekali dan susah nyarinya, internet menjadi sumber yang cukup bisa diandalkan. Tapi tidak selalu, hanya sesekali dan bisa dikatakan sangat jarang sekali. Karena saya juga punya sumber resmi yang legal. Teman-teman saya juga cukup bisa diandalkan untuk dimintai tolong jika saya butuh lagu yang saya sendiri belum punya.


Saya tahu saya melanggar dan bersalah. Saya tidak akan membela diri dengan mengatakan, "hey! semua orang juga melakukannya. I'm not the only one! Temen-temen saya juga!". No, saya tidak akan melakukannya meskipun saya ingin. Hihihi. Yang salah ya tetep aja salah. Tapi suatu hari temen saya pernah bilang "Nggak papa kalo mengunduh dari internet, yang salah itu adalah kalo kamu sudah mengunduh, lalu diunggah lagi ke internet. Nah itu yang salah. Kalau mau dinikmati sendiri untuk keperluan terbatas ya nggak masalah."


...saya yakin yang punya lagu pasti mencak-mencak!


Tapi tolong dimaklumin lah ya? Hahahaha.


Soal hak cipta ini memang akan selalu dibahas sampai kapanpun. Meskipun ada undang-undangnya tapi pelanggaran akan terus terjadi. Situs-situs mp3 download yang sudah diberangus toh tak mampu mengurangi kegiatan unggah-unduh ilegal. Karya-karya literatur yang diunggah secara serampangan, film-film yang saya tonton, juga hasil dari kegiatan tersebut. Ya gimana ya? Secara ada kebutuhan, pastinya suplai masih akan terus berjalan.


Meksipun begitu saya kemudian paham sih dengan sikap temen saya yang keluar taringnya ini, secara mengambil gambar makanan itu enggak gampang. Prosesnya nggak se-simsalabim yang kita kira. Ada proses masak, platting, menata prop yang dibeli dengan hunting kesana kemari, belum lagi jungkir balik nyari angle yang pas, ngatur lighting yang oke, sampai urusan edit mengedit via photoshop. Jadi, gambar indah nan menggiurkan yang muncul di lini masa itu ternyata sudah melewati berbagai macam tahap yang rumit.


Makanya si empunya foto bisa kebakaran jilbab (karena dia perempuan tanpa jenggot) ketika tahu gambarnya diambil dengan tujuan yang tidak sepenuhnya sharing.


Dari pengalaman ini saya jadi (sedikit) sadar bahwa urusan hak cipta ini agak rumit, meskipun kalau mau dibuat mudah ya bisa jadi mudah. Maksudnya, tinggal minta ijin ke yang punya karya saja apa repotnya sih ? *dijitak orang se India*


"Males tauuuuuuuuu pake acara ijin-ijin segala, kaya mau kawinan minta ijin"


Ya jaman sekarang udah serba mobile ya? Tinggal mention aja sih (semoga cepet) beres dan dapat ijin. Kalau belum dapet ya tahan dulu aja, jangan disebarluaskan apalagi untuk keuntungan pribadi. Saya yakin kok jarang ada yang pelit kalo ada yang minta dengan prosedur yang benar. Betul enggak?


Asal nggak ngakuin karya orang sebagai karya kita, si empunya karya pasti mau lah bantu-bantu kalau bisa sama-sama berfaedah. Betul enggak?


Betul enggak, betul enggak...buruan gih kunjungi blog temen saya ini >> www.momylicious.com dan contek semua resepnya sekaligus boleh minta ajarin foodtography.


*enggak bisa ngomong panjang lebar soal undang-undang hak cipta. Males baca, males belajar. Barbie sudah pusing soal hidup Barbie yang tak jelas....ampun dah! Silakan cari sumber lain yang lebih akurat dan bisa diandalkan. Ini mah cuma postingan nggak penting.


Sekian.

8 Comments

  1. Soal hak cipta ini memang harus dimulai dari kita pribadi mas, sekecil apapun pelanggaran yg kita lakukan, yg kemudian kita biasakan, lama2 akan menciptakan modus permisif yg terus menerus. Pakai foto juga harus seijin yg punya, paling enggak sebutin sumbernya, jangan cuma tulis 'dapat dari gugel' ;) Kalau ga mau nyebutin sumbernya, bisa cari foto gratisan di web2 yg memang menyediakan, yg membolehkan penggunaan foto tanpa harus mencantumkan sumbernya.

    ReplyDelete
  2. Baca artikel ini sambil ngikik pagi2 dikantor kebayang serunya group WA itu.
    Sepertinya memang benar masalah penghargaan terhadap hasil karya dan hak cipta itu sesuatu yang kompleks. Sebagian orang memang belum paham tentang aturannya tapi yang bikin mangkel adalah orang-orang yang tahu dan ngerti tapi cuek dan nggak perduli, apalagi kadang kala setelah ditegor malah galakan dia padahal dia jelas yang salah. Lagian apa susahnya sih nulis sourcenya cuman ngetik satu url , masih kalah jauh dibanding bikin foto atau masak dan moto sendiri. Semoga makin banyak orang sadar tentang pentingnya menghargai karya orang lain.

    ReplyDelete
  3. Masalah paling sering terjadi ya. Hehehe. Sampai akhirnya saya pun memasang yang namanya anti copas dari wordpress - tapi khusus untuk yang wordpress.org gara-gara satu tulisan saya dicopy semua.

    Kalau mau tulisan atau foto atau apapun itu dipakai sih sebenarnya gak apa ya, asalkan sebut dong itu bukan hasil karya'e sendiri melainkan karya si seseorang

    Salam.
    Febriyan

    ReplyDelete
  4. yakh...yang bisa cuma yang berbayar ya? Huuhuhuhu

    ReplyDelete
  5. :D sebagian cerita disini juga pengalamanmu lho Mbaak

    ReplyDelete
  6. Setuju! Makanya mulai dari kejadian ini saya akan memastikan kalo semua bahan yang saya comot dari gugel dan diposting di blog ini akan saya cantumkan sumbernya. Kalau perlu backlink juga sih.

    ReplyDelete
  7. Saya juga pernah ngalamin. Dan kayaknya hampir semua food blogger yang awalnya masak sendiri, styling sendiri, motret sendiri, ngetik2 blog sendiri itu pernah ngalamin kasus seperti ini. Awal2 memang jengkel, tapi lama2 capek negorin orang begini.
    Akhirnya, kalo ada kasus colong2an cuma bisa berdoa, dan In sya Allah, Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Dan saya percaya sekali itu, rejeki tidak pernah tertukar :)
    Karena segala hal yang dilakukan dengan cara yang tidak baik, maka hasilnya pun tidak baik.

    ReplyDelete
  8. Nah lho, itu quote terakhir jleb banget dan harusnya dibaca sama yang suka asal comot ya Mbak?

    :D

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.