Hari ini, saya melihat banyak teman-teman di Path saya yang mengirimkan pesan-pesan positif melalui postingannya. Ada yang menulis #JanganLupaBahagia #PokoknyaBahagia atau #KitaSemuaWajibBahagia, padahal ini bukan tanggal 20 maret ketika "Hari Bahagia Sedunia" dirayakan.


Tetapi apakah perlu menunggu sampai tanggal 20 bulan ketiga untuk selalu mengingat bahwa kita perlu merasa bahagia? Tidak juga. Momen tertentu hanya digunakan untuk mengingatkan akan pentingnya sesuatu dan selebihnya sesuatu yang penting itu harus tetap penting sepanjang waktu. Termasuk mengingatkan pada diri sendiri untuk merasakan bahagia dan menemukan kebahagiaan.


Kemudian muncul pertanyaan ini di kepala saya : Apakah saya bahagia hari ini?


Mungkin saya berkumpul dengan teman dan tertawa-tawa karena guyonan yang nggak banget dan orang lain melihat saya sedang bahagia. Mungkin juga saya makan banyak hari ini dan itu dianggap sebagai manifestasi dari hati dan pikiran yang sedang lega. Bisa jadi saya berfoto selfie dengan senyum yang lebih lebar dari senyum Indra Bekti yang terkenal dengan senyum 3 jarinya hanya untuk menunjukkan bahwa saya benar-benar bahagia.


Tetapi apakah benar saya sedang bahagia hari ini?


Saya tidak yakin bisa menjawabnya.


...


Apakah bahagia itu? Seperti apa kebahagiaan itu?


Kalau kita cari di google, kita akan menemukan banyak rujukan mengenai apa arti dari bahagia dan kebahagiaan.


Wikipedia menulis : bahagia adalah salah satu bentuk perasaan. Bagian dari sekian banyak emosi yang manusia miliki. Sebuah perwujudan dari rasa senang yang intens. Sesuatu yang membuat orang tersenyum bahkan tertawa. Tapi tidak jarang pula ada yang menangis karena bahagia.


Dan kebahagiaan mungkin adalah sebuah benda abstrak yang merupakan kumpulan dari banyaknya perasaan bahagia, yang menjadi satu dan terkumpul dalam waktu yang lama, dan dirasakan secara konstan oleh manusia yang bersangkutan.


Praktisi kejiwaan, para filsuf, dan pemuka agama, mempunyai definisi yang berbeda tentang bahagia dan kebahagiaan. Agama mengatur sendiri bentuk dan jenis kebahagiaan menurut ajarannya masing-masing. Tidak jarang definisi ini menimbulkan diskusi antara mereka-mereka yang kompeten dalam merumuskan arti yang sebenarnya dari bahagia dan kebahagiaan.


Begitu juga dengan saya dan Anda.


Saya mungkin punya definisi yang berbeda dari sudut pandang Anda mengenai bahagia dan kebahagiaan. Sesuatu yang kecil menurut saya, dan bisa membuat saya tersenyum, belum tentu bisa menyenangkan Anda dan membuat Anda tersenyum bahagia. Begitu juga sebaliknya. Sesuatu yang mampu membuat Anda menangis bahagia, bisa jadi saya anggap sebagai sesuatu yang berlebihan.


Seseorang dengan pekerjaan mapan, gaji besar, rumah mewah, mobil berderet bak showroom, pasangan yang cantik atau ganteng, anak yang lucu dan pintar, teman-teman yang (menurutnya) adalah jenis terbaik dari yang Tuhan bisa ciptakan, bisa jadi merasa bahagia. Tapi apakah orang tersebut sudah benar-benar menemukan kebahagiaan?


Entahlah.


Lain halnya dengan mereka yang tinggal di gundukan sampah dengan gubuk reyot seadanya, bertubuh kotor dan jarang sekali wangi, dengan pasangan yang (mungkin) sama dekil dan baunya, apakah sudah pasti tak pernah merasa bahagia dan selalu sengsara? Apakah orang-orang seperti itu dikatakan tak pernah menemukan kebahagiaan?


Entahlah.


Ilmuwan mungkin memiliki banyak macam metode yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Ada sesuatu yang mereka sebut sebagai The Subjective Happiness Scale, atau yang mereka berinama The Positive And Negative Affect Schedule, yang sama-sama digunakan untuk mengukur level bahagia baik secara individu maupun global.  Atau The Satisfaction With Life Scale, yang akan melihat seberapa bahagia kita dengan mengisi jawaban berupa persetujuan. Setuju atau tidak setuju, adalah skala yang digunakan untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan kenyataan hidup orang tersebut.


Kebanyakan orang mungkin akan terkejut dengan hasilnya. Fakta yang ada bisa saja menunjukkan bahwa kita tidak sepenuhnya bahagia. Ada sesuatu yang selama ini mungkin berusaha kita tekan dan ternyata membuat kita digolongkan ke dalam orang-orang berkategori Tak Terlalu Bahagia, atau berkategori Bahagia, Tapi....


Jadi apakah metode-metode ini tidak sepenuhnya bermanfaat? Diserahkan kembali pada penerimaan masing-masing orang sih.


Selama ini saya dan Anda mungkin sering berkomentar (atau hanya membatin) ketika melihat hidup orang lain yang terlihat begitu menyenangkan. "Enak ya jadi dia, suami ganteng, istri cantik, kaya raya, anak lucu-lucu, jalan-jalan mulu, terkenal, bahagia banget kayak nggak punya masalah." adalah salah satu yang meluncur dari mulut kita, atau setidaknya melintas dalam benak dan pikiran kita.


Diluar soal sawang sinawang, benarkah gambaran yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri adalah kenyataan yang sesungguhnya? Bagaimana jika kita tidak melihatnya, apakah kebahagiaan itu masih dirasakan oleh orang yang bersangkutan, yang hidupnya terlihat begitu sempurna di mata dunia?


Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik pintu.


Meski begitu manusia memang berhak untuk merasa bahagia dan menemukan kebahagiannya sendiri, bagaimanapun caranya, diterima atau tidak oleh masyarakat, yang penting diri sendiri bisa merasa senang. Bruce Jenner mengaku hidupnya jadi terbebaskan dan lebih bahagia setelah dia memutuskan untuk berubah menjadi Caitlyn Jenner. Jenner mengklaim telah menemukan kebahagiaannya dengan menjadi seorang wanita. Banyak masyarakat mendukung, dan sebanyak itu pula ada yang mengutuk.


Tapi apa hak kita untuk menentukan jalan kebahagiaan orang lain?


Ya, karena merasa bahagia dan tidak, menemukan atau kehilangan kebahagiaan, adalah urusan pribadi seseorang. Satu manusia bisa saja memotivasi manusia lain dengan beribu cara dan kata supaya orang lain menemukan kebahagiaannya dan berusaha membantunya. Tapi kalau memang belum waktunya, apa yang bisa dilakukan?


Tetapi mari kita lihat rangkuman dari seorang Psikolog bernama Martin Seligman yang menemukan 5 hal yang bisa membuat orang menjadi bahagia :




  1. Pleasure atau kesenangan. Hal-hal yang mampu membuat kita senang ketika melakukannya. Makan makanan yang enak, mandi air hangat, tidur nyenyak, dan masih banyak lagi.

  2. Engangement atau yang dalam istilah psikologi disebut sebagai Flow/Zone yaitu kondisi mental seseorang ketika sedang melakukan sesuatu yang membuatnya tertarik. Dimana ketika melakukan kegiatan tersebut, yang bersangkutan mengerahkan kemampuan dan fokusnya untuk mengerjakan hal tersebut sampai selesai. Dan ketika berhasil, dia pun akan bahagia.

  3. Relationship atau hubungan dengan orang lain. Bisa jadi ini menjadi salah satu indikator yang bisa mengukur apakah seseorang bahagia atau tidak. Mereka yang punya kehidupan sosial yang relatif baik cenderung lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang lebih individualis.

  4. Meaning atau Perasaan Berarti. Banyak orang merasa bahagia ketika diterima oleh masyarakat. Seseorang merasa mempunyai makna dalam hidupnya ketika berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dan perasaan berdaya ini juga menjadi salah satu tolak ukur apakah seseorang dikatakan bahagia atau tidak.

  5. dan yang terakhir adalah Accomplishment atau pencapaian. Dalam hidup yang makin kompetitif, dimana kita secara diam-diam memerhatikan orang lain dan mengukur mereka dengan diri kita sendiri, sebuah pencapaian sangatlah penting. Karena pengakuan dari orang lain lah yang mampu membuat seseorang bahagia. Karena dengan diakui, seseorang akan dianggap mampu. Seseorang akan dianggap ADA.


Setuju tidak setuju tapi memang begitu pada kenyataannya dan jika kelima-limanya mampu diraih, bukan tidak mungkin orang tersebut sudah mendapatkan perasaan bahagianya. Tapi apakah sudah menemukan kebahagiaannya? belum tentu.


Makanan enak adalah relatif. Ada orang yang malah tidak suka dengan makanan tertentu yang dianggap fancy dan keren. Dia lebih memilih makan pecel dibanding burger. Ada orang yang lebih suka mandi air dingin dibanding dengan air hangat. Ada yang lebih senang mandi pakai gayung dibanding harus berendam di bath tub. Tapi saya yakin, tidur nyenyak adalah satu-satunya kebutuhan yang memang bisa membuat orang bahagia. :)


Tidak jarang seseorang justru merasa tertekan ketika diakui dan dianggap mampu. Seseorang yang berprestasi merasa dituntut untuk meningkatkan, atau minimal mempertahankan prestasinya demi eksistensi. Orang yang berhasil mencapai posisi tertentu dalam hidupnya tidak jarang merasa harus naik lebih tinggi lagi hingga tak terkejar. Perasaan bahagia berubah jadi stress, dan kebahagiaan yang sudah ada di depan mata pun mendadak berubah menjadi maya.


Bukan sekali dua kali juga kita mendengar berita mengenai orang kaya yang tak bisa menikmati harta kekayaannya karena satu dan lain hal. Atau keluarga yang terlihat sempurna mendadak berantakan karena perceraian.


...


Mungkin yang paling benar mengenai konsep kebahagiaan sejati adalah konsep yang diberikan oleh panduan agama. Diluar dari pendapat para atheis yang mengatakan kalau agama justru membuat manusia saling bunuh dengan mengatasnamakan agama dan saling menyebarkan teror yang pada ujungnya membuat hidup orang lain jadi tak bahagia, tapi konsep mengenai kebahagiaan sejati memang ada pada tataran spiritual.


Buddha mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai apabila seseorang sudah terbebas dari baragam keinginan. Karena keinginan pada dasarnya adalah jalan menuju kesengsaraan. Bebas dari "rasa lapar" akan sesuatu dan menciptakan keselarasan dan harmoni dalam berhubungan sosial dengan sesama makhluk, dipercaya mampu membawa seseorang ke Nirwana, dimana kebahagiaan sejati berada.


Yahudi bahkan mendorong umatnya untuk merasa bahagia karena dengan bahagia, mereka mampu melayani Tuhannya dengan baik, dan pada akhirnya akan menemukan kebahagiaan tersendiri.


Sementara umat Katolik bahwa ketaatan pada Tuhan akan membawa seseorang pada kebahagiaan sejati yang ada pada kehidupan setelah mati. Barangkali sama dengan agama Islam yang saya percayai. Bahwa ketaatan pada Tuhan dan aturan-aturannya akan membawa kita pada kebahagiaan sejati yang menunggu kita di surga. Kami percaya bahwa ada kehidupan setelah mati. Akhirat yang masih harus dilalui sebelum kita diputuskan akan tinggal di neraka, atau nantinya cukup beruntung untuk menjalani kehidupan kekal kita di surga.


Mungkin terdengar utopis, tapi kembali pada Bahagia dan Kebahagiaan. 2 hal yang sama-sama tak berwujud, tapi bisa dirasakan. Namun begitu bukan berarti tak bisa ditunjukkan atau diciptakan.


Senyum dan tawa adalah sesuatu yang bisa kita bagi. Lepas dari apakah jauh di dalam hati kita merasa merana, tapi setidaknya senyum yang tertangkap kamera adalah sesuatu yang mungkin akan membuat orang merasa senang, dan kemudian mereka pun bisa merasa bahagia.


Sesuatu yang baik yang kita lakukan untuk orang lain, akan membuat mereka senang dan bahagia. Dan diharapkan pada saat itulah kita juga akan merasakan hal yang sama, dan bukan tidak mungkin kita akan menciptakan kebahagiaan kita sendiri.


Karena konon kabarnya, kebahagiaan itu tidak bisa dicari, tapi diciptakan.


...


Pertanyaan berikutnya setelah 'Apakah saya merasa bahagia' adalah....


BERANIKAH KITA MENGAKU BAHWA KITA TIDAK BAHAGIA DAN BELUM MENEMUKAN CARA UNTUK MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN KITA SENDIRI?


PS : maaf jika tulisan ini dangkal. Saya memang tidak tahu apa-apa, ini hanya sekedar buah pikir dengan sedikit dasar. Saya harap Anda tidak marah dan kecewa.

0 Comments