IMG_20141023_075628Ini buku sastra. Dan entah kenapa saya memilih buku berjenis seperti ini untuk jadi bahan bacaan. Mungkin saya sudah gila karena saya tak sepintar itu untuk mencacah dan melumat buku tentang sastra. Tapi nemu The Old Man And The Sea karya Ernest Hemingway jadi salah satu "wow moment" tersendiri buat saya. Bukan karena saya mengincar buku ini, tapi karena bukunya sendiri yang saking terkenalnya dan bikin saya jadi excited ketika melihatnya di sebuah rak di toko buku.


Sebuah masterpiece dari Ernest Hemingway yang diakui sebagai salah satu karya terbaik dari si penulis. Banyak penghargaan yang sudah didapat, termasuk Pulitzer dan Nobel Sastra untuk kemampuan Mr. Hemingway dalam merangkai kata menjadi kalimat. Mungkin banyak yang bilang kalau bobotnya agak berkurang ketika yang saya baca adalah sebuah buku terjemahan. Tidak terlalu terasa indah. Akan tetapi tetap saja ketika dibaca, terasa kalau ini bukan novel biasa saja. Terima kasih pada penerjemah yang berusaha sedemikian rupa untuk memilih kata-katanya dengan cermat.


Bercerita tentang lelaki tua bernama Santiago, yang dimasa senjanya bergelut dengan banyak hal,termasuk harga dirinya sebagai manusia. Sebagai pria berusia lanjut yang makin dekat dengan kematiannya, Santiago merasakan bahwa kehidupan berlalu begitu cepat di depan matanya. Masa-masa muda yang penuh dengan kenangan. Ujian dan tantangan yang berbuah pujian, tak dirasakan lagi olehnya. Diusia senja Santiago, perlahan dia dilupakan dan menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya.


Meski hidupnya dianggap tak beruntung karena sebagai nelayan tua ia tak pernah berhasil membawa hasil tangkapan yang memuaskan, tapi seorang temannya si Manolin kecil menaruh kepercayaan padanya. Bahwa suatu hari keberuntungan akan berpihak pada si Lelaki Tua, dan dia akan pulang dengan membawa ikan yang belum pernah ditangkap oleh siapapun di desa nelayan kecil itu.


Bergelut dengan harga dirinya, dan kepercayaan Manolin akan keberuntungannya, Santiago pergi melaut di suatu malam cerah. Dalam berbagai kesempatan yang terlewat, bertemulah ia dengan seekor ikan marlin besar yang menggigit umpan yang sudah dia siapkan. Tak lekas menyerah pada kekuatan kail, Marlin itu pun melawan dan berusaha adu kekuatan dengan Santiago tua, yang dimasa mudanya dulu dijuluki pria terkuat setelah berhasil mengalahkan seorang pria kulit hitam dalam sebuah adu panco.


Ikan Marlin itupun memaksa Santiago untuk berlayar makin jauh dari desanya di Havana. Memaksa Santiago untuk memikirkan banyak hal dalam penantiannya di tengah samudera. Melihat bintang-bintang, bulan, dan berpikir tentang matahari. Marlin membuat Santiago hampir kehilangan kewarasannya sampai akhirnya Santiago memutuskan bahwa Marlin itu adalah saudaranya di tengah laut.


Meski begitu, saudara itu harus dibunuh. Dan setelah 2 hari mengapung dalam keadaan berjuang, Santiago menombak si ikan Marlin yang sudah mulai menyerah. Ketika Santiago membunuh si Marlin, ia sempat meminta maaf padanya.


Santiago hendak berlayar pulang, ketika segerombolan hiu haus darah mencium keberadaan bangkai Si Marlin. Tanpa mempertimbangkan perasaan Santiago, mereka mulai memburu daging Marlin yang diikat di salah satu sisi dari perahu si Nelayan Tua. Santiago yang tak rela saudaranya dihabisi, mulai menghalau gerombolan ikan hiu itu dengan tombak dan pentungan. Hiu-hiu itupun pergi menjauh. Bukan karena pentungan dan tusukan tombak, tapi karena daging Marlin yang sudah tak tersisa selain hanya tulang belulang yang masih terikat kuat di buritan kapal.


Ketika kapal Santiago berhasil merapat di pantai Havana dan si nelayan tua terbaring lemah di tempat tidurnya, banyak orang tak percaya dengan apa yang sudah dicapai oleh Santiago. Hilang 2 hari dan pulang membawa bangkai ikan yang berukuran besar. Lebih besar dari yang pernah ditangkap oleh nelayan di Havana. Semua orang merasa menyesal telah meragukan kemampuan dan keberuntungan Santiago. Manolin pun mendapati pesan dari banyak orang yang meminta maaf pada Santiago dan bersimpati padanya.


...


The Old man and the sea menjadi novel yang terasa luar biasa. Bukan hanya karena gaya bahasanya, tapi cara bertutur Mr Hemingway yang mampu mendeskripsikan sesuatu dengan detil dan "menyeret" saya pada kehidupan si Tua Santiago. Ketika membaca, saya mampu merasakan pergulatan hidup Santiago sebagai seorang tua yang terlupakan dan masih ingin menyatakan eksistensinya manusia. Seperti apa yang selama ini dia percayai bahwa "Manusia bisa saja dihancurkan, tapi manusia menolak untuk dikalahkan". Dan begitulah ia. Bersama dengan Manolin yang juga mengajarkan tentang persahabatan dan kepercayaan antar manusia, kisah Santiago juga membawa saya pada satu hal yang sangat substansial sebagai seorang manusia, yaitu pertanyaan mendasar "Untuk Apa Kita Hidup?"

0 Comments