gradeTergelitik oleh sebuah status BBM sepupu saya beberapa hari lalu, saya akhirnya memutuskan untuk sedikit menuliskan apa yang ada di pikiran saya.


Sebuah kalimat “Apa? Menteri lulusan SMP? Merokok dan tatoan pula? Mau jadi macam apa Negara ini? Makin liar aja kayaknya Indonesia”


~ kurang lebihnya begitu. Saya cuma mikir, hampir persis sama saya, emosional, dan suka nyeplos apa adanya tanpa tahu latar belakang masalahnya. Tapi bedanya, karena saya sudah semakin tua, sudah agak berkurang kadar emosionalnya untuk urusan yang begituan. Kecuali kalo sepeda saya disenggol mobil, baru saya mencak-mencak! Hehehe.


Saya paham siapa yang dimaksud sama sepupu saya ini. Tak lain dan tak bukan pasti soal Susi Pudjiastuti, Menteri kelautan dan Perikanan yang dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat selama 5 tahun ke depan. Sosoknya memang sedang jadi bahan perbincangan. Ya tentu saja karena latar belakangnya yang nggak biasa. Mantan pengepul ikan di Pangandaran sampai kemudian sukses menjadi pengusaha dan pemimpin perusahaan besar di bidang perikanan dan aviasi ini dikabarkan cuma lulusan SMP. Nggak hanya itu, sosoknya yang nyentrik juga jadi perhatian banyak orang. Katanya dia punya tato dan merokok. Salah satu berita yang sempet beredar adalah ketahuan saat merokok di lingkungan istana. Emang jadi bikin geleng-geleng kepala sih.


Tapi mungkin memang begitulah Susi Pudjiastuti. Agak susah meubah kebiasaan yang bersangkutan, itu bisa dipahami sebenarnya. Kita tak bisa meminta dia meninggalkan kebiasan merokoknya dalam sekejap mata hanya karena dia sudah jadi menteri. Kita tak bisa memintanya untuk menghapus tato yang ada di tubuhnya hanya karena kemudian dia jadi menteri. Memangnya kenapa kalo menteri merokok dan bertato? Memangnya harus selalu yang berbadan bersih dan tak merokok?


Saya bukan perokok, tapi mendapati fakta bahwa ini jadi masalah, kok rasanya agak gimanaaa gitu ya? Ya sudah sih, wong merokok itu kan pilihan, meskipun saya sendiri akan lebih bahagia kalau akhirnya Bu Susi bisa mengurangi konsumsi rokoknya. Demi kesehatan, katanya sih begitu. Tapi siapa menjamin kalo tanpa rokok kerjanya bisa maksimal? Siapa tahu malah sebaliknya?


Yang agak mengganggu juga adalah ketika ada orang yang membicarakan soal tingkat pendidikan yang bersangkutan. Memangnya kenapa kalau cuma lulusan SMP? Di dunia ini, banyak orang sukses yang malah nggak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Mereka yang tak pernah belajar banyak teori, tapi langsung terjun dengan banyak aplikasi kerja yang efektif sampai kemudian sukses seperti sekarang. Bahkan seorang Bob Sadino saja konon cuma lulus SD. Memangnya ada jaminan kalo lulusan Sarjana bisa jadi orang sukses yang mampu bekerja demi kemaslahatan orang banyak? Belum tentu, meskipun Bob Sadino, Susi Pudjiastuti, atau siapapun orang sukses di dunia yang nggak pernah jadi sarjana setuju bahwa pendidikan bagaimanapun adalah sesuatu yang penting untuk didapatkan setiap orang. Dan saya yakin mereka akan mendorong orang-orang untuk mendapat pendidikan setinggi-tingginya.


Banyak dari kita yang masih melihat seseorang berdasar dari selembar ijasah yang dipunya. Tak pernah ada kesempatan diberikan untuk mereka yang punya kemampuan, tapi tak cukup beruntung untuk merasakan bagaimana bersekolah atau kegiatan perkuliahan. Lihat saja, mereka-mereka yang “cuma” lulusan SMA kadang merasa jatuh percaya diri ketika harus bersaing dengan lulusan sarjana, meskipun secara pengalaman mungkin lebih dibandingkan yang kuliah. Ya gimana enggak, pengalaman kerja pasti lebih banyak wong begitu lulus sekolah langsung cari duit demi keluarga, sementara yang lain masih jadi mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang, duit abis nodong lagi sama orang tua, lulus berlama-lama karena terlalu banyak kegiatan, dan macem-macemnya. Begitu lulus, susah cari kerja juga. Lha gimana mau dapet pengalaman kerja?


Menuntut ilmu setinggi-tingginya tak pernah memberikan kerugian apa-apa. Ada banyak hal yang dipelajari dan didapat dari bangku kuliah. Mungkin tentang organisasi? Mungkin tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin? Tapi bukan berarti yang nggak kuliah nggak dapet ilmu seperti itu kan? Bahkan saya rasa, lewat praktik langsung di dunia nyata, semua ilmu itu malah lebih oke dibanding hanya yang sekedar teori.


Tapi marilah kita mengesampingkan perdebatan semacam itu. Jika memang seorang Susi Pudjiastuti jadi menteri karena Jokowi percaya dia punya kemampuan, kenapa tidak? Kenapa harus ada keraguan hanya karena dia nggak lulus SMP, Bertato, dan merokok? Picik sekali.


Terus terang, saya tidak membela siapa-siapa. Saya tidak berada dalam kubu manapun. Tidak KMP, tidak pula KIH. Saya abstain dalam pemilu kemarin. Malu? Tidak. Saya tetap akan jadi warga Negara yang baik. Bayar pajak, taat hukum, tak berusaha jadi kriminil, dan lain sebagainya. Dan saya juga cukup sadar, karena saya abstain, hak protes saya pada Negara otomatis dihapuskan. Saya tak berhak koar-koar mencela atau mencak-mencak ketika tidak setuju dengan keputusan para penyelenggara Negara. Paling juga ngomel sendiri kalo ngeliat kelakuan para anggota dewan yang suka nggambus. Tidur di ruang rapat, jalan-jalan karena alasan studi banding dan lain sebagainya.


Sekali lagi yang perlu dipikirkan adalah yang terjadi sekarang adalah salah satu yang mungkin terbaik. Mana bisa kita maju kalo ada yang mau ngajak kita lari aja udah dijegal? Mana bisa kita maju bareng-bareng kalo yang itu mau lari tapi kita lebih milih duduk hanya karena nggak suka sama si pemimpin marathon? Kenapa kita nggak lantas sehat bareng-bareng?


Ya yang penting kita lihat kerjanya dulu. Nggak usah ribut soal hal-hal remeh yang nggak relevan sama kerjaan. Baru nanti kalau ada yang salah, kita peringatkan. Mau protes silakan, mencak-mencak ya monggo aja, silakan nggak akan ada yang keberatan. Gitu kan?


 Eh btw, saya kan abstain? Mana boleh ya ngomong beginian?

4 Comments

  1. hajiguuuuuuurrr.....aku jek meh nulis tentang iku kok yo wes kedisik'an lhooo hahaha kita memang sehati tenan hihihihi
    Tulisanmu selalu menginspirasi aku hahahaha apik....

    ReplyDelete
  2. Hahaha, lha kamu mung numpang dipikir thok owk Mak...ra ditulis2 makane kedisikan. Yp rapopo, beda orang kan beda sudut pandang. Tulis! Hihihi

    ReplyDelete
  3. aku juga suka tuisan ini.. berkelas :)

    ReplyDelete
  4. Aaaaakkk...makasih Kak Goiq...*salim*

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.