[spoiler alert]


Tahun 2014 menjadi tahun sibuk bagi Hercules, gimana enggak, pahlawan mitologi Yunani ini harus tampil dalam 3 film sekaligus. Hercules Reborn yang dibintangi oleh salah satu petarung dari WWE John Hennigan yang rilis hanya untuk konsumsi home video, kemudian Hercules versi Kellan Lutz di The Legend Of Hercules yang flop di box office, dan satu lagi adalah yang paling mending dibanding keduanya. Karya terbaru Brett Ratner : Hercules.


Film yang ketiga disebut diatas dibintangi oleh Dwayne "The Rock" Johnson. Bikin kening berkerut sih kenapa harus The Rock. Tapi mungkin Brett atau pihak studio punya pertimbangan sendiri. Apalagi kalau bukan nilai jual yang bersangkutan.


Oke, saking banyaknya kisah tentang Hercules, tentu saja bikin Brett dan penulis naskah Ryan Condal dan Evan Spiliotopoulos harus bekerja extra untuk mengambil sudut pandang yang berbeda, dan menuliskan kisah yang belum pernah didengar atau diangkat ke layar kaca dari petualangan sosok setengah manusia setengah dewa ini.


herculesDiawali dengan cerita asal usul Hercules yang lahir dari perpaduan Dewa dan Manusia. Ayahnya Zeus adalah dewa tertinggi dalam mitologi Yunani, sedang ibunya Alcmene adalah seorang manusia biasa. Hera, istri Zeus yang seorang dewi berusaha melenyapkan Hercules dari muka bumi. Tapi konon dia tak pernah berhasil. Setelah beranjak dewasa Hercules berpetualang dan menjalankan 12 tugas utama yang diberikan oleh para raja dan dewa. Salah satunya adalah perintah dari Raja Eurythius untuk membunuh Hydra. Keberhasilan hercules menaklukan ular naga berkepala 5 itu membuatnya disanjung-sanjung sebagai pahlawan oleh rakyat Athena. Hal inilah yang membuat Eyrthius iri. Diapun berusaha menjatuhkan nama baik Hercules dengan memerintahkan beberapa pembunuh untuk menjebak Hercules. Saat Hercules pingsan karena diracun, pembunuh bayaran suruhan dari Raja Eurythius menghabisi nyawa istri dan ketiga anaknya. Kesalahan ditimpakan pada Hercules. Rumor disebarkan kepada masyarakat bahwa Hercules membunuh keluarganya sendiri.


Demi memulihkan nama baik dan menyembuhkan diri dari trauma, Hercules menjadi pembunuh bayaran. Bersama dengan keempat rekannya Autolycus - petarung yang ahli menggunakan pisau, Atalanta - seorang wanita pemanah jitu, Tydeus - seorang pria pendiam yang ahli menggunakan sepasang kapak, dan Amphiarus - seorang peramal bertongkat yang meramalkan banyak kemenangan dari pertarungan-pertarungan Hercules. Dan ada satu lagi sosok yang ikut serta dalam rombongan mereka, Iolaus, keponakan Hercules yang senang bercerita. Dialah yang selama ini menyebarkan kisah kepahlawanan Hercules dalam menaklukan lawan-lawannya.


Suatu hari ketika sedang berpesta menikmati kemenangan dari pertarungan terakhirnya, seorang wanita datang menemui Hercules. Dia adalah Ergenia, putri dari Raja Cotys, raja dari sebuah kerajaan bernama Thrace. Dia menyewa Hercules dan kawan-kawannya untuk membantunya mengatasi pemberontak yang mengancam keutuhan Thrace. Diceritakan sepasukan Centaur - makhluk separuh kuda separuh manusia yang dipimpin oleh Rhesus melakukan pembataian di wilayah Thrace dan mengacau keamanan. Bahkan menurut kabar Rhesus menggunakan kekuatan gaib untuk mengubah manusia menjadi pasukan zombie. Hercules pun setuju untuk melatih pasukan Thrace menghadapi mereka.


Dalam sebuah pertarungan, Hercules dan pasukan Thrace hampir saja kalah karena Raja Cotys memaksa pasukannya yang belum siap untuk berangkat berperang. Tapi latihan yang diberikan oleh Hercules dan kelima temannya membuat pasukan yang tersisa menjadi lebih kuat.


Legenda soal Centaur ternyata salah besar. Makhluk jadi-jadian ini ternyata adalah pasukan Rhesus yang mengendarai kuda dan terlihat seperti manusia setengah kuda. Ketika pasukan Thrace dan pasukan yang dipimpin oleh Rhesus akhirnya bertemu, terjadilah pertarungan yang dengan mudah dimenangkan oleh pihak Thrace. Dan Rhesus pun ditawan sebagai tahanan perang.


Tapi kemudian Hercules merasa ada yang salah ketika akhirnya Ergenia mengungkapkan bahwa Codys adalah raja yang berambisi untuk menjadi pemimpin dan rela melakukan apa saja demi duduk di atas tahta. Bahkan dia membunuh raja Thrace yang berkuasa secara sah dengan meracuninya dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja. Codys sendiri sudah menyiapkan cucunya Arius untuk menjadi Tiran. Ergenia sebenarnya tidak setuju dengan langkah yang ditempuh oleh Codys. Ergenia ingin Arius menjadi raja yang jujur dan baik untuk rakyatnya kelak. Tapi Codys punya rencana lain dan bahkan rela menyingkirkan anaknya sendiri.


Hercules dan teman-temannya ditangkap dan dikurung di penjara bawah tanah. Disinilah akhirnya Hercules tahu kalau Codys bekerjasama dengan Eurythius untuk menjebaknya. Dengan kemarahan yang luar biasa akhirnya Hercules dan pasukannya bertarung melawan raja Codys yang jahat dan membalaskan dendamnya pada Eurythius.


...


Lepas dari cocok tidaknya The Rock memerankan Hercules, film ini sendiri LEBIH BISA dinikmati dibanding film terakhir yang saya tonton, Lucy. Twist diakhir cerita sendiri sudah mulai kebaca disepertiga akhir film sih, tapi tetap saja sebenarnya itu bukan bagian yang terlalu penting. Tapi seperti yang saya bilang kalau film ini cukup menghibur. Sedikit kebayang sih sosok The Rock sebagai Scorpion King, tapi ya sudahlah, hal-hal seperti itu memang tak bisa dihindari. Ketika seorang aktor harus memerankan 2 tokoh yang berbeda, dengan satu nuansa dan tema.


Plot kisahnya sendiri enak diikuti. Mudah dan tak bikin mikir. Dan penggambaran Hercules kali ini cukup normal. Tidak ada sosok dewa dewi yang biasanya muncul di film-film tentang mitologi, tak ada sihir dan kekuatan supranatural, semuanya tangan kosong. Sosok Hercules sepertinya memang ingin diceritakan sebagai "Mortal" dibanding sebagai "Demi God" seperti kita tahu. Buat saya, ini jadi seperti "olok-olok" dan ingin meluruskan kisah legenda yang selama ini beredar tentang siapa sebenarnya Son Of Zeus ini.


Dan yang lebih bikin seger adalah humor-humor yang hadir melalui sosok peramal Amphiarus yang mampu memancing tawa. Meskipun humornya terasa sangat Amerika sekali. Padahal ini adalah cerita tentang kisah Yunani. Itulah yang terasa agak janggal, meski memang tak bisa dihindari. Rasa "british" dan "Amerika" nya kental sekali. Salah satunya ya dari aksen para bintangnya, dan humor yang disajikan. Jadi bisa dibilang "ini adalah kisah Yunani dengan taste of Paman Sam". Anyway, kita tak perlu lagi memikirkan aspek yang satu ini. Kadang bikin kita kurang sreg, tapi ya mau gimana lagi. Jadi ujung-ujungnya "film ini cuma buat sekedar hiburan".


Oh ya, satu lagi, kehadiran Irina Shayk, supermodel yang juga pacar dari Ronaldo ini sempat digembar-gemborkan akan bergabung di film ini. Bagi Irina ini adalah peningkatan karir yang luar biasa. Meskipun sebenarnya, perannya sebagai Megara sendiri tak terlalu signifikan. Dia tampil nyaris tanpa dialog, hanya numpang senyum dan sedikit adegan bugil, dan kemudian mati. That's it. So kita nggak bisa lihat kualitas aktingnya dia. Tapi saya berharap bisa melihat dia diproyek lain yang lebih menantang.


Kesimpulan saya pada Hercules versi The Rock ini adalah "Way Much Better" than the previous movies. Bahkan dari versi Kellan Lutz sekalipun. Sebagai film hiburan, Hercules milik Brett Ratner adalah sebuah film yang cukup lengkap. Dan durasi 1 1/2 jam (kurang lebih) cukup menyenangkan dan bisa dinikmati. Mungkin (jika film ini sukses dibox office) kita akan melihat sequel nya dimasa datang, dan melihat kisah "normal" lain dari Hercules dan kawan-kawannya.

0 Comments