Angriest Man


[Spoiler Alert!]


Apa jadinya jika kamu punya sebuah daftar dengan banyak hal yang kamu benci dalam hidup ini? Bahkan untuk hal-hal kecil dan remeh temeh sekalipun? Pasti hidup rasanya sumpek dan uring-uringan. Hal ini bisa dilihat dalam kehidupan seorang Henry Altman, seorang pria tua asal Brooklyn yang berprofesi sebagai pengacara properti di firman Altman Altman & Altman. Dari sekian banyak hal, Henry merasa masih kurang banyak dan berniat untuk menambahkan lebih banyak lagi hal ke dalam daftar sesuatu yang paling dibenci dalam hidupnya.


Sebenarnya dulu Henry Altman adalah seorang pria yang bahagia dengan keluarganya. Istri yang cantik dan 2 anak lelaki yang diharapkan akan menjadi penerusnya kelak. Kondisi berubah ketika dia mendapat kabar bahwa anak pertamanya Peter meninggal ketika sedang berburu. Hidup Henry berbalik 180 derajat. Dia selalu marah-marah dan membenci banyak hal hingga hubungannya dengan sang istri memburuk. Bahkan dia membenci anak keduanya Tommy, yang lebih memilih untuk berkarir sebagai penari daripada bekerja sebagai pengacara. Padahal dulu Henry mendukung apapun pilihan dalam hidup Tommy. Tapi semua berubah dan sejak itulah Henry merasa kesepian.


Pagi dimana ketika Henry hendak ke Rumah Sakit karena ada janji temu dengan dokternya, mobilnya ditabrak oleh sebuah taksi. Berniat untuk melakukan cek up di rumah sakit tersebut, Henry ditangani oleh seorang dokter pengganti bernama Sharon Gill. Hari itu adalah hari yang buruk untuk Sharon. Kehidupan cintanya tak berjalan mulus, dan kucingnya baru saja mati. Dan bertemu dengan Henry dalam situasi yang kurang menyenangkan makin memperparah harinya.


Setelah melakukan scan pada otak Henry, Sharon mengatakan padanya kalau dia menderita Aneurisme Otak. Berhubung Henry selalu pahit dalam memandang hidup, dia tidak bisa terima dengan kabar buruk ini dan marah-marah. Henry menanyakan sampai kapan dia punya waktu untuk hidup. Karena kesal dengan sikap Henry yang dianggap menyebalkan, ditambah dengan mood yang buruk, Sharon pun asal ceplos bilang kalau waktunya hanya tinggal 90 menit.


Henry kabur dari rumah sakit dengan kondisi syok. Tempat pertama yang dia datangi adalah kantornya. Dia bertemu dengan adiknya Aaron Altman yang saat itu sedang melakukan meeting penting dengan klien. Henry mendapat saran dari kliennya tentang beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sekarat. Henry pun berpikir untuk melakukan hal-hal tersebut.


Sementara itu Sharon Gill menyadari kesalahannya dan segera mencari Henry untuk menjelaskan kondisinya. Henry sendiri berkeliling Brooklyn mengejar waktu sebelum dia meninggal. Ketika dia berkunjung ke rumah mantan istrinya yang sudah berpisah untuk mengajaknya bercinta, Henry harus menerima kenyataan bahwa mantan istrinya sudah menjalin hubungan spesial dengan tetangganya. Dia pun mencoba menghubungi Tommy untuk memperbaiki hubungannya, bahkan membeli sebuah kamera video untuk merekam pesan terakhir bagi anaknya.


Pada akhirnya semua orang tahu kalau kondisi kesehatan Henry memburuk dan mereka mencoba untuk menemukan Henry. Henry yang putus asa karena semua usahanya tak berhasil berniat untuk bunuh diri dengan terjun dari jembatan brooklyn. Sharon yang menemukannya menolong Henry dan membawanya ke rumah sakit. Hubungan Henry dengan keluarganya pun perlahan membaik. Henry bertahan selama 8 hari setelah menjalani operasi otak dan meninggal setelahnya.


Film ditutup dengan adegan keluarganya menebarkan abu kremasi milik Henry ke sungai Brooklyn dan merayakan kenangan atas Henry dengan...marah-marah.


...


Film ini memang bukan film yang luar biasa. Meskipun di situs review Rotten Tomatoes termasuk yang masuk kategori jelek, tapi buat saya pribadi cukup bagus. Memang bukan film pertama dengan tema kematian dan tentang bagaimana memperbaiki hubungan yang memburuk setelah tahu dirimu sekarat, tetap saja Angriest Man In Brooklyn membuat saya terharu. Apalagi mengingat sosok Robin Williams yang baru saja meninggal karena overdosis kurang lebih sebulan lalu, rasanya semuanya jadi terlihat lebih masuk akal dan penuh greget. Akting Robin sebagai pria sekarat yang frustasi jadi terasa hidup, dan sepertinya saya melihat bagaimana perasaan Robin menjelang keputusannya untuk mengakhiri hidup dengan obat-obatan. Dan saya malah jadi berpikir,jangan-jangan Robin mendapatkan inspirasi untuk bunuh diri setelah peran dalam film ini? Well, tak ada yang tahu.


Satu hal yang menarik dari film ini adalah ketika terjadi percakapan antara Henry dan Sharon tentang kematian. Kurang lebih begini...




Henry : "Apakah kamu ingin tahu kapan kamu akan mati?"


Sharon : "Tidak"


Henry : "Lalu bagaimana jika kamu tahu kalau kamu akan mati? Apa yang akan kamu lakukan?"


Sharon : "Aku akan mencari kebahagiaanku"



Dan saat itulah Henry sadar apa yang bisa membuatnya bahagia. Berkumpul kembali bersama dengan keluarganya.


:)

4 Comments

  1. udah lama ngga nonton film nih.. aaak kangen bioskop banget :))

    ReplyDelete
  2. Aku suka 'spoiler alert' mu....
    Kadang,sejelek-jeleknya film,bahkan komentarmu gak bagus utk film itu,malah bikin aku pengen nonton :((
    Aku kan emang selalu pengen di ceritain dulu kalau mau nonton film. Cen aku aneh kok. Yoben... :||

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.