Sebenernya, saya ini bukan pencinta komik superhero. Satu-satunya buku komik yang suka saya baca dulu adalah Superman. Itu saja gegara dapat hadiah dari Lifebuoy. Masih ingat kan? jaman dulu beli sabun hadiahnya komik - kalau Anda termasuk yang mengalami jaman-jaman itu sih.


Tahun ini dan hingga beberapa tahun ke depan, film yang didasarkan cerita komik - terutama keluaran Marvel - masih akan mendominasi. Sementara DC Comic masih mengandalkan Superman dan Batman, Marvel sudah gerak cepat dengan memproduksi banyak kisah ke layar lebar. Salah satunya adalah Guardian Of The Galaxy.


GuardiansoftheGalaxyOkay, sebagai orang yang berstatus bukan pembaca komiknya, saya tidak begitu akrab dengan karakter dalam Guardian Of The Galaxy. Malahan saya juga baru tahu kalo ternyata ada tho karakter superhero yang tergabung dalam Penjaga Semesta. Hehehe. Jadi, kalau dibilang mau ngerevew secara "lebih dalam" sepertinya saya kurang modal untuk membahasnya.


Yang pasti Guardian Of The Galaxy menghadirkan petualangan luar angkasa yang fun. Bercerita tentang seorang Peter Quill, seorang pencuri dari kelompok The Ravagers yang merupakan sosok setengah manusia setengah alien. Bergabung dengan kelompok The Ravagers setelah Yondu Udonta menculiknya, dimalam ketika sang ibu meninggal dunia. Kisah berkembang ketika Peter mencuri sebuah bola kecil bernama The Orb. Benda ini berisikan batu berkekuatan sakti yang mampu menghancurkan semesta sekaligus membuat orang yang menguasainya bisa hidup abadi.


Ternyata batu ini juga dicari oleh banyak pihak, salah satunya adalah Ronan The Acuser, seorang bangsa Kree yang fanatik, yang tidak menginginkan perdamaian tercipta diseantero semesta. Dengan batu ini Ronan berencana menghancurkan musuh-musuhnya dan menjadi penguasa. Ronan mengirimkan Gamora, anak angkat Thanos Raja Kree untuk merebut The Orb dari tangan Peter.


Selain Peter, Ronan dan Gamora, di wilayah Xandar, seekor rakun hasil eksperimen bernama Rocket dan teman yang juga pengawal setianya, Groot yang berbentuk pohon juga ingin merebut The Orb dan menjualnya ke penadah yang berani memberikan harga tinggi. Dalam sebuah perkelahian di Xandar, mereka pun ditangkap oleh pihak keamanan dari wilayah Nova yang dipimpin oleh Nova Prime dan pasukannya.


Saat ditahan di penjara Xandar, mereka bertemu dengan Drax the destroyer, dimana dia punya dendam dengan bangsa Kree, terutama Ronan yang telah membunuh istri dan anaknya. Itulah kenapa dia dan Gamora sering terlibat percekcokan mengingat Gamora juga berasa dari Kree. Namun belakangan mereka tahu kalau Gamora ternyata punya rencana lain untuk menyelamatkan Xandar dengan menyembunyikan The Orb dari Ronan. Usut punya usut, ternyata keluarga Gamora dan bangsanya dulu dihabisi oleh Kree dan Gamora diangkat anak oleh Thanos.


Perbedaan karakter dari Peter, Rocket, Drax, Gamora dan Groot disatukan di penjara dengan tekad ingin menghalangi Ronan yang ingin menguasai The Orb. Dan petualangan Guardian Of The Galaxy pun dimulai. Mereka mulai merencanakan peperangan dengan Ronan yang mulai menginvasi Xandar dengan pesawatnya Dark Aster. Ronan yang dibantu oleh putri Thanos yang lain, Nebula, menjadi sulit untuk ditaklukan. Tapi kerjasama dari Guardian Of The Galaxy dan pihak Nova Corps akhirnya mampu menghalangi niat jahat Ronan dan pasukannya.


Guardian of The Galaxy tak bisa dibilang sebagai film yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak. Sebenarnya, secara rating saja sudah PG-13, mengingat ada beberapa adegan yang perlu Parental Guidance. Tapi film ini memang menyuguhkan petualangan penghuni galaksi yang seru dan menyenangkan. Mungkin saja jika saya adalah penikmat komiknya, saya bisa mengalami semacam nostalgia yang indah bersama dengan Peter dan kawan-kawannya. Meski bukan, film ini tetap bisa dinikmati kok. Memang sih, dibagian awal-awal saya ngerasa agak kurang nyaman dengan plotnya yang cukup cepat, tapi sedikit tertolong dengan tingkah laku Rocket dan Groot yang urakan dan mengundang tawa.


Buat saya, karakter si Rakun Rocket dan temannya Groot malah lebih banyak mencuri perhatian, bahkan dibandingkan dengan Peter Quill sendiri. Entah kenapa si rakun bandel yang taktis dan selalu punya rencana ini malah mampu menghidupkan suasana dengan dialog-dialognya. Terutama interaksinya dengan Groot, yang sama sekali bertolak belakang dengan dia. Sementara Rocket ceplas-ceplos, Groot adalah pohon yang lugu dan hanya tahu kalimat "I Am Groot". Apalagi ketika Rocket menangis saat Groot harus rela hancur berkeping-keping demi melindungi teman-temannya, terlihat sangat manis....


Dibandingkan dengan rilisan Marvel beberapa tahun lalu, film produksi marvel yang belakangan rilis, selalu menyelipkan humor-humor khas Amerika melalui dialognya. Bahkan trilogy X Men dulu dan sekarang terasa berbeda. Bahkan The Avengers dan Captain America pun tak lupa menyajikan humor. Dan humor yang disajikan di Guardian Of The Galaxy porsinya cukup banyak. Sepertinya film-film superhero Marvel jadi terpengaruh oleh karakter Toni Stark yang selengekan dan easy going. Dan bisa jadi malah bikin penonton jadi suka. Karena karakter superhero pun jadi terlihat cukup dekat dan normal dengan kita.


Yang pasti sebagai film yang konon kabarnya akan menjadi "bridging" ke The Avengers Age Of Ultron, Guardian Of The Galaxy dinilai sukses baik secara finansial dan juga kritik dari penonton dan kritikus film. Sajian ringan yang oke secara visual dan bisa membuat penontonya senang ketika keluar dari gedung bioskop.


Buat saya, film ini "it's ok" lah...tidak mengecewakan, tapi tidak juga yang bikin saya senang sampai segitunya. Senyum saya sih nggak lebar-lebar banget, cukuuuup..."just ok laaaah...


http://www.youtube.com/watch?v=B16Bo47KS2g

0 Comments