[Saat saya memulai tulisan yang bukan review ini, suara ed Sheeran sedang mengalun dengan All Of The Stars. Sebuah backsound yang paling pas saya rasa :) ]

thefault

Alasan (saya) membeli buku biasanya didasarkan pada Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama. Entah itu pada cover buku yang bersangkutan, atau pada sinopsis yang sepertinya menarik. Beberapa kasus menunjukkan bahwa review di berbagai media memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli. Lebih pada rasa penasaran mungkin. Jika kita bukan termasuk si pembaca segala, hal-hal tadi jadi semacam panduan sebelum membeli buku. Beda dengan mereka yang membeli buku apa saja, dan membaca jenis buku apa saja (bahkan mungkin termasuk yang bergenre erotis sekalipun!), biasanya mereka tidak akan keberatan membeli buku secara random. Walaupun ada acara mikir mau beli buku yang mana, tapi tidak secara spesisifik seperti kita yang hanya senang pada genre tertentu saja.

Tidak pernah terpikir untuk membeli The Fault In Our Stars sebelumnya, kalau bukan karena lihat trailer filmnya. Tahu kalo ternyata diangkat dari sebuah novel, dan lumayan heboh di social media membuat saya tertarik membeli.

Novel ini bukan jenis favorit saya sih. Oh, lebih tepatnya, mungkin saya bukan pangsa pasar utama dari The Fault In Our Stars. Seingat saya, di usia sekarang, novel remaja yang saya baca cuma Harry Potter and The Prisoner Of Azkaban. Selain itu tidak. Boleh dilihat deh koleksi buku saya, nggak ada novel remaja. Udah ketuaan kali ya?

Tetapi, membaca The Fault In Our Stars membuat saya berpikir ulang, bahwa mungkin saya masih bisa menikmati cerita di buku-buku serupa. Mungkin masih ada remaja yang butuh hiburan di dalam sana, jauh di dalam sana. Atau barangkali, sesungguhnya saya memang tak setua itu? Haha.

Oke, The Fault in Our Stars bercerita tentang Hazel Grace, seorang remaja berusia 16 tahun penderita kanker tiroid yang mengalami masalah dengan paru-parunya. Menjadi salah satu penyintas (survivor) kanker (yang sebenarnya masih berjuang dengan segala macam pengobatan) Hazel merasa terpaksa harus menghadiri perkumpulan penderita kanker di kota Indianapolis. Kelompok yang menurut Hazel sangat membosankan tapi tak bisa ditolak ini mempertemukan Hazel dengan seorang remaja pria bernama Augustus Waters. Penyintas kanker tulang yang harus kehilangan sebelah kakinya karena amputasi ini menjadi sahabat baru Hazel. Bisa ditebak, keduanya saling jatuh cinta.

Hazel yang menjadi penyendiri sejak divonis kanker, dan Augustus yang kepribadiannya begitu hidup merasa saling cocok satu sama lain. Hazel mulai jatuh cinta dengan permainan video game Kontra Pemberontakan, bahkan membaca trilogi novel petualangan yang bercerita tentang Kolonel Mayhem. Begitu juga dengan Augustus, yang kisah gadis bernama Anna di novel Kemalangan Luar Biasa karangan seorang penulis bernama Peter Van Houtten. Karena novel itu pula Hazel dan Augustus punya kesempatan pergi ke Belanda atas bantuan Angel Foundation, dan bertemu dengan Peter.

Perjalanan ke Belanda membawa hubungan mereka pada tingkat selanjutnya. Walaupun pada awalnya Hazel berusaha menjaga perasaannya agar tak lebih jauh jatuh cinta pada Augustus, tapi pada akhirnya Hazel menyadari bahwa perasaan seperti itu tak bisa ditahankan. Pesona seorang Augustus Waters membuat Hazel takluk.

Selama ini Hazel merasa bahwa dia adalah sebuah granat yang siap melukai orang lain karena suatu saat dia akan "meledak" dan meninggalkan luka. Tapi yang tak diketahui Hazel, bahwa Augustus juga menjadi sesuatu yang sama. Dan ketika Augustus meledak, Hazel pun terluka. Ternyata Augustus mengalami kekambuhan. Kanker tulangnya menyerang dengan cepat dan menurunkan tingkat kesehatan Augustus hingga ke titik paling rendah.

Agustus meninggal dan Hazel pun terluka.

...

The Fault In Our Stars mungkin bukan novel pertama yang bercerita tentang remaja berpenyakit yang saling jatuh cinta. Nicholas Sparks pernah menulis A Walk To Remember (itu saja yang saya tahu - hahaha), dan penulis lainnya mungkin pernah menjadikan tema ini sebagai bahan tulisan mereka. Tapi karena saya tak pernah membaca cerita-cerita itu, The Fault In Our Stars menjadi bacaan pertama saya yang bertema tentang kematian dan cinta.

Tokoh Hazel dan Augustus yang "luar biasa" menurut saya, remaja-remaja cerdas yang hidup dalam dunia penuh filosofi, punya pandangan dan ide-ide tentang banyak hal di dunia ini. Pembicaraan mereka menjadi sesuatu yang bisa jadi bahan renungan bagi pembaca.

Alur ceritanya juga tidak terlalu rumit. Tapi entah kenapa, buku ini punya kekuatan "Page Turning" di setiap bab-nya. Buku ini menjadi sedikit buku yang saya baca hanya dalam hitungan jam. Bukan karena "terlalu mudah" tapi menjadi "terlalu sayang untuk berhenti berlama-lama".

Dan buku ini juga menjadi buku kedua setelah Recto Verso karya Dee, yang mampu membuat saya menangis di tengah malam karena sedih. Cerita tentang kematian, ketegaran Hazel yang ternyata rapuh bikin hati sakit.

*malu

Tapi beneran lho, ceritanya mengharukan. Saya jadi takut mau nonton filmnya. Takut kalo keluar ruangan bioskop nanti mata sudah sembab. Hahaha.

*cengeng ~ lanjut baca Confession-nya John Grisham

~ gambar diambil dari IMDB ~

0 Comments