Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral. - Dante


IMG_2154Setelah menunggu selama beberapa lama, akhirnya karya terbaru Dan Brown yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia terbit juga. Setelah sebelumnya hak edar karya Brown dipegang oleh Serambi, kali ini Bentang Pustaka menjadi publisher yang dipercaya untuk menyebarluaskan karya terbarunya. Bahkan beberapa karya sebelumnya juga diterbitkan ulang. Inferno menjadi pelengkap koleksi Robert Langdon. Hampir semua karya Brown saya punya, kecuali Deception Point. Mulai dari Lost Symbol, saya jatuh cinta dengan kisah professor simbologi Harvard ini, dan beberapa bukunya pun saya cari. Termasuk DaVinci Code dan Angel And Demon.


Kali ini Robert Langdon terlibat dengan sebuah konspirasi rumit yang kembali mengajaknya untuk berkeliling dunia, ke tempat-tempat bersejarah yang penuh dengan karya seni bernilai tinggi. Kisah dimulai ketika Robert Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence Italia dalam keadaan lupa ingatan. Belum juga kondisi kesehatannya pulih, seorang wanita yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran mengejarnya hingga ke rumah sakit. Langdon harus melarikan diri dari kejaran pembunuh tersebut. Dengan dibantu seorang dokter cantik bernama Sienna Brooks dia harus menyelamatkan nyawanya. Terlebih ketika akhirnya Langdon tahu bahwa dia memegang sebuah benda aneh yang terselip di saku jas italianya. Benda serupa proyektor itu berisikan sebuah gambar yang sangat dikenal Langdon. Gambar tersebut adalah Inferno, karya seni yang menunjukkan tentang seperti apa bentuk neraka dan para penghuninya. Lukisan tersebut dibuat berdasarkan karya seni terkenal berjudul The Divine Comedy dari seniman Italia ternama, Dante.


Dugaan bahwa gambar itu menyimpan sebuah teka-teki, Langdon dan Sienna harus berjuang untuk memecahkan teka-teki tersebut sekaligus menyelamatkan nyawa mereka dari kejaran pihak-pihak yang mengincar benda yang sama.


Belakangan Langdon dan Sienna menemukan bahwa gambar Inferno sudah dimodifikasi. Dan di dalamnya tersimpan sebuah rencana jahat dari seorang ilmuwan bernama Bertrand Zobrist. Ilmuwan ini adalah ahli dalam bidang rekayasa genetika yang juga seorang Tranhumanis. Zobrist berencana membuat sebuah senjata kimia yang akan digunakan untuk membunuh banyak orang dengan tujuan mengurangi populasi manusia di muka bumi.


Bagaimanakah perjuangan Robert Langdon dalam menggagalkan rencana ilmuwan gila tersebut? Anda harus mencari tahu sendiri dengan membaca lembar demi lembar buku Inferno ini.



Dalam karya terbaru Dan Brown ini, Robert Langdon masih berkutat dengan simbol-simbol yang ada di banyak karya seni dunia. Kali ini dia kembali lagi ke Italia, setelah di buku Lost Symbol, Langdon lebih fokus untuk menguak rahasia tentang Amerika dan harta terpendam Freemason. Masalah yang melibatkan Langdon ternyata jauh lebih rumit. Bahkan badan kesehatan dunia WHO pun termasuk di dalam rangkaian cerita.


Tentu saja karena kali ini isu yang ingin diangkat oleh Dan Brown adalah mengenai manusia dan kondisi bumi. Lebih tepatnya adalah isu over populasi. Sebuah isu yang diyakini memang menjadi masalah, akan tetapi banyak disangkal oleh pihak-pihak tertentu. Tingkat pertumbuhan penduduk dunia yang dari waktu ke waktu semakin cepat, menjadi alasan kenapa ilmuwan seperti Bertrand Zobrist mempunyai rencana gila, yaitu mengurangi sebagian besar penduduk dunia demi mengurangi kepadatan. Zobrist berkaca pada kejadian wabah hitam yang menyerang sebagian besar wilayah dunia pada awal abad ke 19. Konon kabarnya, wabah hitam atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Pes ini mampu menyeimbangkan kondisi bumi dengan berkurangnya populasi manusia.


Brown ingin menunjukkan beberapa hal, dan tentu saja dia juga membawa-bawa agama dalam hal ini. Over populasi, juga diyakini terjadi karena dogma agama yang mengatakan bahwa membatasi kelahiran adalah sebuah dosa, dan kontrasepsi adalah haram hukumnya. Tapi Inferno sepertinya membatasi keterlibatan dogma ini lebih jauh. Tidak banyak yang disinggung oleh Brown mengenai bagaimana dogma agama bertanggung jawab pada terjadinya over populasi di dunia.


Membaca Inferno, cukup membuka mata saya, lepas dari plot yang menarik dan kadang juga membingungkan. Isu tentang semakin sesaknya bumi karena padatnya penduduk dengan tingginya angka kelahiran dan semakin menurunnya angka kematian normal karena usia harapan hidup yang semakin meningkat, sepertinya memang menimbulkan masalah baru.


Salah satunya adalah mengenai pertanyaan apakah sumber daya yang ada di muka bumi ini masih akan mampu memberikan kehidupan bagi manusia yang makin banyak? Padahal kita tahu bahwa sumbernya terbatas. Mungkin pendapat orang mengenai “makin kesini nyari makan makin susah. Makin kesini nyari kerja makin susah” juga merupakan salah satu masalah dari over populasi. Entahlah. Tapi yang pasti ini menarik untuk dibahas, meskipun jika kita membahasnya dari sudut pandang agama, kita pasti akan menemukan jawaban bahwa kita tak perlu cemas, Tuhan sudah atur semuanya dan tidak akan ada manusia di dunia ini yang akan kelaparan atau kesusahan.



Saya rasa tidak perlu mendebatkan isi buku ini atau barangkali sedikit tentang pikiran saya mengenai isu yang menjadi inti dari buku ini. Karena bagaimanapun juga ini adalah sebuah cerita dalam novel setebal lebih dari 600 halaman. Menurut saya Inferno masih menyajikan formula yang sama seperti karya Dan Brown sebelumnya. Teka-teki, simbol, karya seni, misteri dan petunjuk, menjadi sesuatu yang menarik untuk ditelusuri. Yang kuat dari tiap karya Dan Brown adalah risetnya. Brown tidak sembarangan menggambarkan simbol-simbol atau situasi di sebuah tempat tanpa melakukan riset terlebih dahulu. Sehingga apa yang digambarkan cukup akurat dan mampu  membuat pembacanya penasaran. Beberapa kali saya melakukan searching pada beberapa hal yang ada di buku ini. Seperti karya-karya seni yang ada digambarkan oleh Brown dan tempat-tempat bersejarah yang menjadi setting latarnya.


Selain itu, Brown masih menempatkan side kick, yang dalam hal ini adalah seorang wanita cantik, yang tak pernah digambarkan secara jelas apakah wanita tersebut terlibat secara fisik maupun emosional dengan sang professor. Selama ini saya malah berpendapat, bahwa Langdon adalah seorang gay. Meskipun dia terlibat dengan banyak wanita tapi tak pernah ada asmara yang  jelas disana. Hanya sedikit digambarkan bahwa Langdon pernah jatuh hati pada Vittoria Vetra, yang pernah ditemuinya saat mencoba menyelamatkan Vatikan di buku Angel And Demon.


Formula lain yang menjadikan kisah Langdon menarik adalah adanya kejar-kejaran antara Langdon dan beberapa pihak yang mengincar sesuatu dari sang Profesor.


Memang, di hampir semua buku karangan Dan Brown, formula ini selalu ada. Tapi untungnya, Brown selalu punya sebuah tema yang menarik untuk dikembangkan, meskipun sebagian besar memang cukup kontroversial. Tapi justru itulah yang membuat karyanya sukses di pasaran.


Jika dibandingkan dengan beberapa kisah Robert Langdon, saya masih bisa bilang kalau The Lost Symbol adalah yang paling bagus. Bahkan jika dibandingkan dengan Inferno. The Lost Symbol memang punya tema yang average. Tentang harta karun, simbol dan perkumpulan freemason. Tapi unsur sejarah dan pengetahuannya lebih banyak dengan alur yang lebih enak untuk diikuti. Meskipun saya bisa bilang, apa yang disajikan di Lost Symbol lebih butuh banyak pemikiran, karena disana, isu tentang agama dan dunia lebih banyak. Bahkan seorang teman bilang bahwa The Lost symbol berisi tentang ajaran Bid’ah. Bisa jadi.


Menurut saya, inferno terlalu banyak twist yang membingungkan pada akhirnya. Saya memang tak bisa bilang disini, karena Anda harus membacanya sendiri. Tapi buat saya, twist yang terlalu banyak justru akan mengganggu alurnya sendiri. Apalagi jika terkait dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya dan peran mereka dalam membangun alur cerita. Tapi bagaimanapun juga Inferno tetap punya cerita yang cukup apik. Dan yang paling penting adalah isu yang menjadi dasar cerita dari buku ini.


Pada akhirnya, Inferno cukup memuaskan rasa penasaran saya, meskipun saya tidak mengerti kenapa justru malah buku ini yang diangkat ke layar lebar, bukan justru the lost symbol terlebih dulu. Mungkin, karena produser Hollywood merasakan intensitas yang lebih pada cerita Inferno, yang membuat akan lebih mudah dikembangkan secara visual, atau bisa jadi mereka merasa bahwa ide tentang harta karun amerika dan Freemason sudah terlalu sering. Atau bisa jadi, mereka juga memikirkan tentang isu over populasi dan ingin dunia tahu bahwa saat ini, kita sedang mengalami sebuah krisis yang jika tidak segera kita tanggulangi, anak cucu kita kelak yang akan menanggung akibatnya.


Filmnya sendiri akan dirilis pada semester pertama 2015. Masih harus sabar menunggu.

0 Comments