Sebenarnya saya nggak gitu into sama film-film jenis ini. Tapi yang namanya penikmat film - amatiran dan bukan real movigoer- saya sih ndak nolak buat nonton film hollywood.


2 malam berturut-turut saya sama Reza nonton film remaja zaman sekarang. Karena sama-sama  nggak ada kerjaan, sebagai sesama personil Pandean Lamper 2-314 kami berdua berkongsi demi mengisi malam-malam sepi di kos.


Film pertama yang ditonton adalah Mortal Instruments : City Of Bones.


mortal_instruments_movie_poster



film yang diangkat dari novel fantasi fiksi untuk remaja ini mengangkat kisah tentang malaikat dan iblis. Lalu ada penyihir, ada kaum ini dan itu. Agak males nih nyeritainnya. Intinya gitu deh..Seorang gadis bernama Clary, yang setelah berulang tahun ke 16 dia menemukan dirinya jadi saksi pembunuhan di sebuah klub malam. Ini adalah sebuah rangkaian kejadian setelah dia menggambar sebuah tanda aneh selama berulang-ulang.


Belakangan Clary tahu kalo dia adalah seorang manusia dengan kemampuan khusus yang diturunkan oleh sang ibu. Shadowhunter, begitu istilahnya. Clary bertugas mencari dan memusnahkan iblis yang selam berabad-abad bermusuhan dengan kaum malaikat.


Seperti biasa, kurang "greng" kalo nggak ada kisah cinta mengharu biru. Kali ini Clary terlibat kisah cinta dengan Jace Wayland, sesama Shadowhunter yang pertama kali  melihatnya. Padahal sahabatnya sendiri Simon Lewis selama ini memendam perasaan pada Clary. Jadilah cinta segitiga diantara remaja-remaja tanggung itu.


Terus terang, saya kecewa dengan film ini. Saya tidak membaca bukunya. Jika saya membaca bukunya, mungkin akan lebih kecewa lagi karena pasti akan membandingkan dengan karya literaturnya. Tapi secara visual The Mortal Instrument memang mengecewakan. alur yang tumpang tindih, terlalu cepat dan tidak menjelaskan ini dan itu, akhirnya meninggalkan saya dalam kebingungan yang luar biasa. Banyak "lubang" yang dihasilkan yang membuat kisah perseteruan antara Malaikat dan Iblis ini menjadi sesuatu yang tidak masuk akal.


Kisah drama nya nanggung, actionya juga. Semuanya tidak menggigit. Untuk sebuah film yang digadang-gadang bakal sukses, film ini sama sekali tidak meninggalkan jejak selain kebingungan saya sebagai penonton. Film ini sama sekali tak bisa dinikmati. Saya keluar dari teater dengan perasaan TIDAK BAHAGIA.


Film yang kedua adalah Percy Jackson Sea Of Monster


Percy-Jackson-Sea-poster



Dibandingkan dengan The Morta Instrument, Percy Jackson lebih tertata secara alur. penyajian visualnya juga lumayan. Saya juga nggak baca novelnya. Tapi nonton film yang pertama. jadi sedikit banyak tahu tentang Percy dan teman-temannya.


Cerita berawal dari kamp Half-Blood, sebuah kamp pelatihan untuk anak setengah manusia setengah dewa. Termasuk percy, annabeth, dan grover. Di kamp ini Percy dapat saingan dari putri sang Dewa Perang Ares, yaitu Clarisse. Cewek yang satu ini emang demi god yang cukup tangguh. Suatu saat, ada sosok Cyclops bernama Tyson muncul di kamp. Tyson ngaku kalo dia adalah anak dari Poseidon dan peri air. Awalnya Percy nggak percaya karena tahu kalo Poseidon nggak punya anak selain dia, tapi lama-lama dia percaya karena Tyson berulang kali menyelamatkan nyawanya.


suatu hari, dinding pertahanan hutan di kamp Half-Blood itu dijebol oleh seekor banteng kiriman dari Luke, musuh bebuyutan Percy yang bertekad akan menghancurkan gunung olympus dan membangkitkan kronos - dedengkotnya para dewa Yunani. Untuk melindungi kamp half blood, Percy harus mencari wool emas di daerah yang disebut sebagai Sea Of Monster. Wool inilah yang juga akan digunakan oleh Luke untuk membangkitkan Kronos. Dan terjadilah petualangan mengejar mas-mas mencari wool sakti.


Jujur saja, saya lebih menikmati Percy Jackson dibanding The Mortal instruments City Of Bones. Meskipun tidak bisa dibilang saya bahagia juga ketika keluar dari gedung bioskop. Tapi setidaknya saya tidak kebingungan karena alur cerita yang nggak jelas dan tumpang tindih.


...


Minggu lalu menjadi minggu yang kurang menyenangkan karena 2 film yang saya tonton. Berharap nanti ada sedikit "kebahagiaan" ketika Insidious 2 dirilis. Tapi dari trailernya sihh...agak kurang meyakinkan ya?


Tapi kita lihat saja nanti.

0 Comments