The Yearling


Kadang-kadang, kalau pergi ke toko buku, suka nggak niat buat beli ini itu. Pengennya cuma jalan-jalan, liat-liat...tapi mostly selalu berujung pada nenteng 1 atau 2 buku pas pulang. Nyesel? dikit. Tapi seperti kata orang bilang "Harga bagus untuk sebuah buku bagus tak akan membuatmu menyesal" Entah, orang mana yang saya maksud.


Tapi saya setuju. Harga yang saya bayar untuk sebuah buku bagus tidak akan pernah membuat saya sedih berlama-lama. Dan buku ini - lepas dari embel-embel tulisan "Pemenang Pulitzer Tahun 1939" - yang mana itu sudah lama sekali, tapi sejak dari pandangan pertama The Yearling memang membuat saya tertarik. Walaupun saya akui sedikit banyak saya juga terpengaruh dari klaim tersebut.


Saya tahu cerita dalam buku ini pasti sangat sederhana. Kebaca dari sinopsisnya. Tapi cerita sederhana yang mampu meraih penghargaan Pulitzer pastilah sebuah cerita sederhana yang menggugah, penuh dengan nilai-nilai baik dan apalah itu. Dan whoala! Buku ini pun saya beli - dengan harga diskon tentunya. [teteup ya maunya yang diskonan]


The Yearling - atau yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Jody dan Anak Rusa adalah sebuah novel karangan Marjorie Kinnan Rawlings. [Entah ada hubungan apa dengan JK Rowlings] Profil lengkapnya bisa dibaca disini. [males nulisnya]


The Yearling sendiri bercerita tentang sebuah keluarga. Adalah Ezra "Penny" Baxter atau yang biasa dipanggil Pa Baxter, dan istrinya Ora Baxter atau Ma Baxter. Berdua mereka tinggal di sebuah rumah di pinggiran hutan bersama dengan anak semata wayangnya Jody Baxter. Jody adalah anak keempat dan satu-satunya yang berhasil bertahan hidup setelah 3 saudaranya meninggal karena sakit.


Sebagai anak yang bertahan Jody sangat disayang oleh Ayahnya. Sementara Ma Baxter tidak dengan terang-terangan menyayangi Jody. Dalam hatinya yang paling dalam tersimpan rasa takut kehilangan anak satu-satunya. Dan ini membuat dia bersikap overprotektif.


Jody adalah anak yang ceria. Meski begitu Ma Baxter sering melihatnya sebagai anak yang manja dan sedikit malas. Ma sering menyalahkan Pa karena terlalu memanjakannya. Tapi Pa tahu Jody sedang belajar sesuatu.


Kehidupan mereka sebagai petani dan peternak sangat tidak mudah. Ada masa dimana mereka berkelimpahan dengan makanan, tapi ada masa dimana hasil tani dan ternaknya membuat mereka harus berhati-hati dengan persediaan. Ditambah lagi dengan ancaman hewan buas. Salah satunya adalah beruang besar yang mereka beri nama Slewfoot Tua dan beberapa serigala.


Di daerah itu Keluarga Baxter tidak sendirian. 6 kilometer dari rumah mereka tinggallah keluarga Forester. Mereka adalah keluarga besar yang doyan pesta dan mabuk-mabukan. Tapi mereka sangat baik terhadap keluarga Baxter. Mereka sering membantu disaat Pa mengalami kesulitan. Terutama ketika Pa Baxter harus istirahat total karena seekor ular rattle menggigit tangannya. Beberapa anggota keluarga Forester tinggal selama beberapa hari untuk membantu menggarap lahan pertanian milik Baxter.


Jody juga berteman dengan salah satu anggota Forester. Fodder wing namanya. Fodder adalah anak bungsu dari keluarga Forester. Kondisi tubuhnya tidak sempurna. Dia terlahir bungkuk, tapi hatinya sangat baik. semuanya orang menyayanginya. Jody selalu bilang bahwa Fodder Wing punya kemampuan khusus yang membuat semua hewan menyukainya. Sayang sekali umur Fodder wing tidak lama. Dia meninggal karena sakit.


Sebelum Fodder Wing sakit, Jody menemukan seekor anak rusa yang induknya ditembak oleh Pa Baxter saat dia digigit ular, dimana hati dari sang induk digunakan untuk pengobatan. Karena permintaan Jody dan kebijaksanaan dari Pa Baxter, Jody pun diperbolehkan untuk merawat anak rusa yang yatim piatu itu, meskipun Ma Baxter tidak menyukainya.


Jody berniat memberitahu Fodder Wing. Tapi dia tidak sempat memperlihatkan anak rusa itu kepada sahabatnya. Tapi Ma Forester bilang Fodder Wing sudah memberikannya nama. Flag. Itulah nama dari anak rusa itu.


Flag tumbuh menjadi anak rusa peliharaan yang sehat dan lincah. Dalam setahun perubahan bentuk badannya luar biasa. Bahkan Pa dan Ma Baxter pun kewalahan. Flag merusak tanaman-tanaman jagung dan memakan bibit-bibit tanaman lainnya. Dan ini membuat Ma Baxter marah. Walaupun Jody dan Flag tidak terpisahkan tapi dia harus dihadapkan pada kenyataan dimana Flag memang bukan hewan peliharaan yang cocok untuk mereka.


Pa Baxter semakin lemah karena sakit ototnya, dan keadaan menjadi tidak menguntungkan setelah badai menyerang wilayah itu. Sementara mereka harus menghemat bahan makanan dan menghasilkan hasil tani untuk dibarter, Flag mengacaukan semua rencana yang sudah disusun oleh keluarga Baxter.


Dan Jody pun akhirnya harus memilih apakah dia akan menyelamatkan keluarganya dengan membunuh Flag ataukah menyelamatkan Flag dan mengorbankan kepentingan keluarganya?


[tumben nggak spoiler]


...


The Yearling adalah sebuah novel yang menurut saya...sederhana dalam cerita, tapi punya sebuah gambaran kuat tentang sebuah perjuangan. Pa Baxter adalah sosok dengan karakter yang disegani oleh banyak orang berkat kejujuran, tanggung jawab, dan kebijaksanaannya. Sementara Ora Baxter adalah seorang ibu rumah tangga yang keras tapi penuh kasih sayang. Dia selalu memastikan bahwa suami dan anaknya mendapatkan makanan yang layak. Sementara Jody sendiri digambarkan sebagai anak dengan karakter kebanyakan. Ceria dan juga manja.


Cerita di novel ini, sepanjang buku dari awal hingga akhir berkutat di area peternakan dan hutan tempat tinggal keluarga Baxter. Dari musim ke musim, kegiatan-kegiatan keluarga Baxter selalu berkaitan dengan bercocok tanam dan beternak. Konflik yang ada tidak terlalu banyak. Paling hanya seputar beda pendapat antara Pa dan Ma Baxter tentang tingkah laku Jody dan Flag, sedikit perseteruan dengan beberapa anggota Forester, dan bagaimana kemudian Jody harus mengambil keputusan sulit berdasarkan permintaan dari orang tuanya.


Mungkin membosankan. Tapi dengan plot yang tidak melebar, justru si penulis mencoba untuk menyelipkan beberapa pesan positif melalui dialog-dialog antara Pa Baxter dengan Jody, Pa dengan Ma Baxter, bahkan bagaimana seorang Penny Baxter menghadapi masalah. Kebijaksanaannya membantu keluarga Baxter untuk lepas dari banyak kesulitan.


Inti dari buku ini adalah tentang bagaimana sebuah keputusan sulit dibuat. Jody dihadapkan pada situasi dimana dia harus belajar untuk menjadi seorang pria dewasa dengan berhenti main-main dan siap menghadapi kerasnya kehidupan nyata dengan pilihan : kesenangannya sendiri atau kelangsungan hidup keluarganya.


Akhir buku ini mengharukan. Sempet nangis juga sih [maaf saya cengeng..] tapi kisah dalam buku ini memang disajikan dengan hangat dan membumi. Tidak ada yang terlalu fantastis. Hanya sebuah kisah biasa tapi sarat dengan pelajaran tentang kebaikan dan kehidupan. Kadang diselipi juga dengan humor-humor ala redneck yang kasar tapi apa adanya.


Saya tak bisa membuat sebuah review buku yang bagus. Tapi semoga bisa membantu memberikan gambaran tentang isi buku ini. Dan saya membayangkan kalau buku ini difilmkan pasti akan sangat bagus. Oops, ternyata memang sudah difilmkan di tahun 46. Lawasnyaaaa....


BRB - mau nyari file filmnya dulu di internet kali aja ada.


^^V


NB : Saya lagi baca buku A Tree grows In Brooklyn karangan Betty Smith. Nanti boleh saya review ya? *wink*

2 Comments

  1. Artikel menarik. Seperinya tidak ada yang ingat kalau serial kartun The Yearling pernah ditayangkan TVRI era 80an. Berupa anime berbahasa inggris...

    ReplyDelete
  2. Terima kasih :) tentu saja saya tidak pernah ingat atau tahu, era segitu saya masih jadi janiiin..baru nongol akhir 81. Hahaha.

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.