Bicara soal finansial selalu menggetarkan. Menggedor syaraf dan membangkitkan kesadaran. Topik kemerdekaan secara finansial selalu menarik untuk didiskusikan. Jujur saja saya ingin jadi orang yang merdeka secara finansial. Tidak terikat hutang dan cukup dengan banyak kebutuhan, bahkan keinginan.


Diawal tahun ini seorang nara sumber menyempatkan untuk datang dan berbincang tentang resolusi keuangan. Namanya Jufi Sufi Iskandar. Dia adalah seorang Financial Planner di sebuah perusahaan asuransi ternama di Indonesia. Kami ngobrol tentang bagaimana melihat kembali ketahanan kapital keluarga kita demi menghadapi tantangan keuangan di masa depan.


Bicara selama kurang lebih satu jam - saya tahu ini tidak cukup, setidaknya saya jadi tahu bahwa selama ini banyak kesalahan-kesalahan fatal yang sering dilakukan banyak orang, termasuk saya.




  • Tidak punya tabungan yang cukup

  • Memperlakukan kredit dengan langkah yang salah

  • Masih belum melek investasi

  • bergaya hidup besar pasak daripada tiang

  • merasa cukup settle dengan uang yang sebenarnya tidak seberapa dibanding dengan angka inflasi yang tiap tahun makin naik

  • Nggak punya asuransi


Dan tentu saja masih banyak. Kesalahan-kesalahan semacam ini sering tidak disadari dan pada akhirnya merugikan.


Saya bilang bahwa syaraf saya digedor dan memang benar adanya. Demi melihat banyak hal yang sudah saya lakukan di tahun-tahun belakangan ini rasanya sangat menyesal. Kenapa? karena setelah dihitung-hitung, saya sudah bisa lho punya rumah dari 5 tahun yang lalu!!! Sementara saya masih bingung pindah kesana-kemari, seandainya saya melek dari awal saya sudah tak harus menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak perlu seperti sekarang.


Menyesal? iya. Merasa terlambat? sedikit. Tapi tidak ada salahnya untuk memulai.


Mari lihat lagi kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dan cukup berbahaya bagi keuangan :




  • terlalu banyak ber sosial life di tempat-tempat yang "wah" dan mengharuskan kita mengeluarkan lebih banyak uang

  • Sering membeli barang-barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan, hanya karena mata saya melihatnya sebagai sesuatu yang indah

  • Berpendapat bahwa kartu kredit adalah alat pembayaran. Padahal bukan. Kartu Kredit hanya SALAH SATU alat pembayaran yang seharusnya jadi opsi terakhir.

  • Tidak mengetahui angka yang seharusnya ideal saat menggunakan kartu kredit. Tahukah Anda kalau plafon 5 juta seharusnya hanya bisa anda gunakan 3,5 juta maksimal supaya anda tidak terjerat hutang lebih banyak lagi?

  • Dan tahukah Anda bahwa membayar tagihan kartu kredit sebaiknya 30% dari total hutang? membayar minimum payment hanya akan memperpanjang usia kontrak Anda dengan hutang. Dengan disiplin menyisihkan 30% untuk membayar CC, maka anda akan menikmati hidup lebih lama 10-18 bulan tanpa tagihan.

  • Kesalahan yang paling umum adalah mengira Gadget mahal hanya untuk keren-kerenan. Sesungguhnya gadget itu hanya untuk para business man! Because they need it! kita yang masih ecek-ecek ini supposed to be nggak harus punya gadget paling canggih yang cuma akan kita gunakan untuk telepon dan SMS-an, atau mentok-mentoknya buat twitteran atau browsing hal-hal yang nggak perlu.

  • Selain gadgetnya yang mahal, belanja pulsa jadi lebih bengkak. Ah, social life memang menggerus uang kita tanpa kita sadari ya? :')


Sungguh itu adalah kesalahan-kesalahan yang selama ini saya lakukan. Saya merasa "Ah, santai aja, toh saya nggak kere-kere banget. Masih punya tabungan sekian juta di rekening." But hey! lihat kembali apa yang bisa uang itu lakukan di masa datang? nothing! uang sekian juta yang kita bangga-banggakan dan hanya jadi uang statis tidak akan banyak menolong kita.


Bayangkan saja, dengan gaya hidup yang kita jalani saat ini, hitung berapa rupiah yang kita habiskan tiap bulannya dan kemudian hitung kembali jumlah yang ada di tabungan. Berapa lama kita akan bertahan dengan uang segitu? Nggak lama.


Inilah yang kemudian agak bikin sedih. Saya nggak pernah berpikiran seperti itu. Sungguh. Apa yang saya punya saat ini ya itu yang saya nikmati. Tentu saja saya adalah orang yang setuju dengan falsafah "Masa Depan adalah Misteri". Kita tidak hidup untuk masa lalu, tapi yang penting adalah saat ini. I do Agree.


Tapi hal seperti ini tampaknya tidak berlaku untuk urusan keuangan. Soal finansial pola pikir kita memang harus melangkah jauh terlebih dulu dari diri kita saat ini.


Dari perbincangan dengan Mbak Jufi saya jadi sadar bahwa tidak ada salahnya menikmati hidup, tapi pikirkan juga kesenangan dimasa depan. Nggak mau juga kan senang-senang sekarang lalu bingung kemudian?


Saya sendiri sih nggak pengin jadi orang yang kenceng banget megang duit. Tapi jujur saja saya ingin merasakan kemerdekaan finansial di masa datang, dengan orang-orang yang saya sayang. Istri saya kelak, mungkin? atau anak-anak saya? Saya tidak ingin meninggalkan mereka dalam keadaan kere.


No Way!


Sering kita bersembunyi di balik kata "KEBUTUHAN"..alih-alih menjadi pembenaran dari apa yang sebenarnya masih sebatas "KEINGINAN". Dan kita sering tidak mau menerima kenyataan bahwa sebenarnya kita sendiri tidak tahu apa yang akan kita lakukan dengan benda yang sudah kita beli dengan sangat mahal.


Sering pula kita tidak menyadari bahwa bukan masalah seberapa banyak yang bisa kita hasilkan, tapi seberapa banyak sih yang bisa kita habiskan? Semakin banyak pendapatan jika tidak diimbangi dengan semakin sedikit kita "spending" ya sama juga bohong.


Kita sering berpikir semakin banyak uang kita akan semakin bisa begini dan begitu. Aha! bellum tentu. Karena yang terjadi adalah semakin banyak uang,kita tak bisa begini dan begitu. Kenapa? karena keinginan untuk begini begitu selalu saja muncul lebih banyak seiring dengan bertambahnya income yang kita terima.


Berpikir punya mobil? nggak. Karena nggak punya duit. Coba aja megang duit banyak dikit, pasti bakal mikir buat punya. Buat apa? buat transport lah..biar nggak repot. Beneran butuh? beneran lah...masa iya hari gini saya nggak butuh mobil. berpikir untuk jalan-jalan ke luar negeri? nggak. Coba aja megang duit banyak dikit, pasti udah pengen kemana-mana. :D


It happens to me!


Keinginan itu muncul seiring dengan "perasaan" semakin banyaknya uang yang kita punya. Dan kita pun nggak pernah cukup. Karena pada dasarnya kita memang tak pernah punya rasa puas akan sesuatu. selalu menginginkan lebih dan lebih.


Saya pikir tidak ada salahnya jadi orang kaya. Kita juga tak ingin terlahir miskin. Yang penting sebenarnya sih adalah rasa cukup dan syukur. Dan tentu saja menggunakan logika selogis-logisnya bahwa bagaimanapun juga kita tetap butuh uang untuk melakukan banyak hal. Kita bukan dijaman dimana semuanya bisa didapat dengan barter. Ada yang mungkin bisa dilakukan, tapi mostly semuanya memang harus pake duit.


meski katanya sekolah gratis, toh masih muncul juga itu berita soal biaya pendidikan yang makin mahal di negeri ini. Lalu mana yang benar?


meski katanya ada subsidi kesehatan, toh masih juga ada pasien yang ditolak karena nggak punya duit. Lalu mana yang benar?


Intinya sih kalau menurut saya, nggak perlu pusing mikirin duit sampe segitunya. Pikirin saja dengan benar dan cermat. Apalagi yang bisa kita lakukan supaya uang yang kita punya bisa "nyari temen" dan pulang bawa lebih banyak keluarga tanpa mesti ngepet.


Mungkin sekarang saya perlu cermat melihat kembali kemana larinya uang-uang saya dan berpikir soal priorotas spending saya. Buat orang-orang yang mentalnya tempe seperti saya dan rada takut untuk meninggalkan zona nyaman - karena satu dan lain hal, maka yang bisa dilakukan adalah dengan lebih pintar mengatur apa yang ada. Syukur-syukur saya bisa menghasilkan lebih banyak tanpa membelanjakan lebih banyak lagi.


Ah, seorang bijak pernah berkata :



"Tak apa lahir miskin, tapi kalau bisa, berusaha jangan mati dalam kondisi yang sama."


Untuk banyak hal soal pengaturan keuangan silakan bisa buka webnya mbak Jufi Sufi disini.



nb : resolusi kurus udah mustahil, saya mau ganti dengan resolusi keuangan saja. 

4 Comments

  1. aku suka tulisanmu kakak... Penggila belanja macam aku ini memang harus dijewer.. aku baru saja mematahkan satu kartu kreditku supaya tidak terus terusan ngutang... wakakakakaka.. Tapi baru berani matahin kartukredit yang limitnya kecil. Yang limitnya besar masih betah bobo dalam dompet... wakakakaka

    ReplyDelete
  2. :))))))) gapapa kok kakak punya CC, tapi seperti kata mbak Sufi, bijak2lah memakainya. Karena tahu diri dan habit belanja saya, maka sayapun memutuskan untuk tidak punya CC. Takut jebol kakaaaaak. Hahaha

    terima kasih karena telah membaca dan menyukai tulisan saya kak. :) Love ur blog too

    ReplyDelete
  3. deeiimm!!!! nuno kayaknya terinspirasi dari curhatanku soal finansial...
    hmmmm......oke baiklah.....
    ini sama aja aku baca pikiranku sendiri......*sigh

    ReplyDelete
  4. Hohoho...ini masalah kita semua :D

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.