Sebagai makhluk sosial, sertifikat kelulusan saya pada subjek BERSOSIALISASI mungkin tidak akan pernah diterbitkan. Sejak dulu saya memang punya masalah dengan hal ini. Introvert yang lebih senang menyendiri dibanding rewo-rewo. Padahal sebagai bagian dari masyarakat saya dituntut untuk proaktif dalam bergaul. Karena bagaimanapun saya nggak akan pernah tahu kapan saya akan membutuhkan orang lain.


Ketidakmampuan saya dalam bersosialisasi dengan baik mungkin sudah ada sejak kecil. Teman dekat bisa dihitung dengan jari. Kegiatan yang melibatkan banyak orang sering terlewat. Saya akan mencari seribu satu alasan untuk bisa "skip" dari kegiatan yang dilakukan bersama-sama. Saya akan lebih memilih tinggal di rumah dan menonton TV atau tidur, daripada harus duduk bersila membahas sesuatu. :D


Ayah pernah mengatakan bahwa saya adalah orang yang sangat egois. Nggak mau ikut ngumpul-ngumpul. "Padahal suatu saat kamu akan jadi kepala keluarga yang mau  nggak mau harus ikut yang namanya arisan warga, kerja bakti, rapat RT RW..dan bla...bla...bla..." begitu dia bilang.


Entah sampai kapan hal seperti itu akan berlangsung, tapi yang pasti sampai saat ini pun saya masih punya masalah yang sama, meski kadarnya sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu. Mungkin karena semakin bertambahnya usia, semakin terbuka pola pikir saya yang sempit. Masih agak suka males dan nggak pede-an sih, tapi sekarang saya sudah mulai membuka diri dengan banyak kegiatan. Saya pikir, berkomunitas toh bukan satu jenis kegiatan yang buruk asalkan memang untuk tujuan yang bermanfaat.


Bicara soal komunitas, saya tidak tergabung dalam komunitas tertentu. Tapi melihat banyaknya komunitas yang digagas anak muda sekarang ini cukup memberikan efek yang cukup baik pada perkembangan mental saya. :D ada beberapa yang menarik minat saya untuk bergabung, meskipun pada akhirnya saya lebih memilih untuk berdiri di luar lingkaran dan netral untuk ikut sana-sini daripada fokus pada satu komunitas saja.


Bukan apa-apa. Berkomunitas itu butuh aturan yang jelas. Ini menurut saya. Jaman sekarang orang bisa dengan mudah membentuk satu komunitas berdasarkan hobi dan kegiatan tertentu, tapi kadang-kadang suka nggak punya daya tahan. Ngumpul sana-sini, kegiatan ini dan itu, namun kemudian tenggelam tanpa jejak. Hanya tinggal nama.


Membentuk sebuah komunitas itu gampang. Menjalankannya dan tetap terus aktif, itu perkara lain.


Saya sendiri menyadari bahwa saya bukan orang yang berdaya tahan cukup tinggi untuk bisa bertahan dengan satu kumpulan orang dan jenis kegiatan tertentu. Dan tidak banyak orang yang bisa berdaya tahan menjalankan komunitas sesuai dengan tujuan awalnya. Sering saya jumpai, sekumpulan orang begitu aktif tampil dengan komunitasnya, tapi kemudian satu dan lain hal kondisi membuat mereka tak bisa lagi mengurus apa yang dulu mereka mulai. Dan kemudian berhenti.


Sayang sih...Karena saya yakin, ketika seseorang sudah membentuk sebuah komunitas, pastinya ada visi dan misi disana. Ada niat baik yang paling tidak ditujukan untuk kepentingan orang banyak.


Membentuk sebuah komunitas saat ini masih dipandang sebagai tren saja. Okelah kemudian ada banyak kegiatan yang dilakukan, tapi sampai kapan? Orang yang berani membentuk komunitas juga harus berani mengorbankan waktunya untuk memastikan bahwa perkumpulan ini akan benar-benar bisa terus melakukan sesuatu yang sesuai dengan visi dan misi awalnya.


Hal yang mungkin perlu diperhatikan adalah tidak menjadikan komunitas yang terbentuk ini hanya sebagai sekumpulan orang yang lepas dan bebas melakukan apa saja. Tapi memikirkan juga tentang bagaimana manajerialnya. Komunitas yang awalnya dibentuk untuk kepentingan senang-senang dan saling berbagi pun mungkin butuh AD-ART. Tidak hanya ketua yang akan mengatur dan anggota yang akan menjalankan berbagai agenda kegiatan, tapi perlu dipikirkan juga perlukah dilakukan pembibitan pengurus? Perlukah dilakukan suksesi demi kontinuitas dari komunitas ini sehingga sampai kapanpun kegiatan akan terus berjalan dan tidak hanya sekedar anget-anget tai ayam.


Banyak tuh komunitas yang kemudian mandek karena pendirinya sibuk sendiri-sendiri dengan kegiatannya. Nggak nyalahin sih. Namanya juga hidup, harus bergerak maju. Suatu saat mungkin menginginkan pekerjaan yang lebih baik, suatu saat menikah dan mengurus keluarga, tapi bagaimana dengan tanggung jawab sebagai pihak yang sejak awal menggagas? Apakah cukup sekian dan silakan dilanjutkan dan kemudian pergi begitu saja tanpa ada sesuatu yang bisa dilakukan demi kelangsungan komunitas ini?


Maaf-maaf saja nih, jaman sekarang orang sibuk bikin komunitas cuma buat nyari nama dan membentuk portofolio pribadi. Begitu sudah lengkap, apa yang awalnya pengen begini pengen begitu akhirnya hanya jadi wacana dan sejarah.


Itulah kenapa tadi saya tulis bahwa sedianya sih komunitas pun perlu dipikirkan secara serius. Kalau perlu bikin AD-ART, sehingga tongkat estafet penggeraknya bisa berjalan dengan baik, sehingga anggotanya tidak akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


Seru kok bikin komunitas. Seru kok bikin gerakan. Asal jangan nyelip kepentingan pribadi aja sih. Karena sedianya sebuah komunitas dibentuk demi memberikan sesuatu untuk orang banyak. Yang tergabung di dalamnya, dan orang-orang yang bahkan tidak ada disana. Demi apa sih? demi kehidupan bersama yang lebih baik kan? Bukan hanya kehidupan satu orang, tapi banyak lainnya.


Tulisan ini mungkin hanya sekedar opini pribadi. Agak skeptis dan baunya agak nyinyir. Bisa saja salah dan bisa jadi tak ada benarnya, tapi semoga saja sih bisa sedikit memberi pertimbangan sebelum membentuk komunitas.


Yang dibutuhkan hanya KOMITMEN, KOMITMEN dan KOMITMEN.


....bisa nggak kita komit demi kontinuitas?

1 Comments

  1. "komunitas dibentuk demi memberikan sesuatu untuk orang banyak" thank you so much you inspire me a lot!

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.