Jadi orang yang nggak punya alergi terhadap makanan tertentu itu menyenangkan. Anda bisa makan apa saja tanpa takut tubuh bereaksi terhadap zat-zat tertentu. Paling-paling yang harus diperhatikan adalah lingkar pinggang dan perut yang berpotensi tambah "mancung" kalau kuantitas makan nggak dijaga. Hehehe.


Kalau hidup di Indonesia, yang luas lautnya tergolong luar biasa, tapi nggak suka makan ikan, rasanya sayang seribu sayang. 2/3 wilayah yang isinya air ini luar biasa kaya akan hasil laut. Saking kayanya, nelayan rampok dari negeri tetangga ikut "ngiler" lihat hasil laut kita.


Tau nggak sih kalo konsumsi ikan kita bahkan lebih rendah dari Malaysia? Kalau kita menghabiskan "hanya" 31,5 kilo gram per kapita, Malaysia sudah lebih dari 55 kilo. Nggak usah dibandingin sama Malaysia, komparasi konsumsi ikan masyarakat kita juga masih kalah sama singapura. Mereka 6 kilo lebih banyak dibanding konsumsi kita per kapitanya.


Padahal kalo mau lebih doyan ikan, generasi kita bisa jauh lebih pintar lho dari anak muda negara tetangga. Percaya nggak?


Q : Sek sebentar, ini mau pelajaran IPS Geografi atau mau review makan-makan? 


A : Lha mbok ya nggak papa...ngasih sedikit info kan nggak ada salahnya gitu lho? review makanan juga kalo bisa juga yang rada mencerdaskan, gitchuuu...jangan cuma bilang enak nggak enak..hihihi



#Laludikeplakbloggerkulinersenior
 

Saya bukan blogger kuliner. Nggak pernah review makanan yang macem-macem. Wong makan aja lebih sering di warteg ketimbang makan di resto. Lha kalo makan nasi warteg apa nasi kucing, apa yang mau direview? dimana-mana bentukannya sama. Ya tho?


Nha kalo makan-makan yang semalem, lumayan lah...udah gretongan, makannya banyak, #nggaktahudiri, jadi bisa direview.


BTW, undangan yang semalem dari Sampan Resto itu emang tujuannya buat ngereview menu baru mereka. Rumah Makan Sea Food yang sempat tutup karena renovasi beberapa waktu lalu itu hadir kembali dengan beberapa menu andalan.


Thanks to @thianongnong yang menyertakan saya dalam daftar undangan dari Sampan Resto. Saya jadi bisa ngerasain gimana pedesnya Sup Kwan Cho yang diklaim sebagai menu sup paling pedas se-Indonesia. Khusus untuk yang punya lambung kuat. disclaimer ini layak dikeluarkan, just in case ada yang nyoba terus diare 3 hari 3 malam, you can not blame the restaurant anyway. :D


Bukan apa-apa, sup yang isinya kerang ijo sama irisan cumi ini memang luar biasa! Cocok sekali dimakan saat musim hujan begini. Badan jadi anget, keringet keluar semua, dan gairah hidup seakan muncul kembali..#Halah




[caption id="attachment_1182" align="aligncenter" width="730"] "Sup Kwan Cho"[/caption]

Anda bisa lihat betapa berserakannya bumbu sup kwan cho. Buat saya yang lumayan suka pedas, makan sup ini dan nggak bawa handuk itu adalah sebuah kesalahan fatal! terlebih saat makan bersama, itu sangat memalukan. Wong saya ini, ibarat kata : makan es di ruangan ber AC aja bisa keringetan, lha apalagi makan sup ini? Jangan ditanya...


Kwan Cho Soup diklaim oleh Sampan resto sebagai salah satu sup terpedas. Bahan yang bertanggung jawab dalam sup ini adalah bubuk cabe yang entah apa namanya - tapi termasuk ke dalam 10 cabai terpedas di dunia. Kalau menurut ownernya, cabai ini dibawah pedasnya Jalapeno chilli, so...kalau menurut saya sih anaheim pepper...atau si cabe Setan.


Sebenarnya sih rasa sup ini ringan, tidak jauh dari penampakan Tom Yam. Bumbu rempahnya cukup kaya. Jahe, Laos, sereh, sepertinya masih jadi andalan untuk bikin sup ini terasa lebih hangat.


Cuma sayang minyak yang ada di kuah cukup mengganggu buat saya. Itu yang bikin berat. Selebihnya sih sup ini just fine buat saya. Walau saya berharap ada udang juga di dalamnya. Hehehehe.


Yang selanjutnya adalah Nasi Tumud. Ada yang bilang ini kependekan dari Tugu Muda. Hahaha. Ada-ada saja.



Isi dari Nasi Tumud adalah nasi putih, udang goreng tepung, sepotong cumi asin dan ubi manis goreng teri. Rasanya kalau menurut saya sih standar. Saya tidak terlalu suka ubi gorengnya. Tapi cumi asinnya...wuh! enak sih sebenernya...sayang cuma satu biji. Hahaha. Sementara udangnya...uhm...udangnya sih fine. Cuma adonan tepungnya yang agak keras. Untuk ukuran udang, balutan tepung segitu menurut saya terlalu tebal dan ketika sudah agak dingin, tepungnya jadi keras. 2 potong udang, satu potong pertama sukses bikin rahang saya pegel. Teman sebelah juga bilang kalau tepungnya keras. Nah, kebetulan udang yang kedua ini tepungnya nggak terlalu tebal dan enak kok. Matang udangnya pas, masih manis ketika digigit. Nggak kering dan dagingnya masih "moist".


Makanan yang datang selanjutnya adalah ikan bakar. Ini ikan bakar yang menurut ukuran saya sudah pas. Luarnya nggak terlalu kering, dalamnya juga masih empuk. Tampak foto di atas juga ada terng goreng tepung. hampir sama dengan tepung di udang goreng - dan sepertinya memang satu adonan, tepung yang ini juga "agak berat", tidak terlalu renyah bahkan cenderung agak keras. tapi terongnya matang pas, nggak terlalu "kriyak" juga nggak benyek-benyek banget karena over cook.


Bahasakuuuuuuuuu, udah kayak apa aja :D



Yang namanya resto seafood, sambal adalah menu sampingan yang justru boleh dibilang sebagai menu utama. Rasa sambal nggak boleh asal. Apalagi kalau urusannya sudah sama orang indonesia yang nggak lengkap kalau nggak makan sambal dan kerupuk, resep sambal memang jadi jualan.


Di sampan seafood resto, ada 2 sambal yang namanya unik. Sambal tuwud Tidak Sopan dan Sambal Tuwud Sopan. Dinamai begitu karena disesuaikan dengan tingkat kepedasan dari 2 macam sambal yang dimaksud. Tapi, menurut saya, Sambal Tuwud Tidak Sopan justru lebih enak dibandingkan "saudara tiri" nya. Pedasnya juga tidak terlalu. Masih tergolong normal untuk ukuran sambal. Berhubung saya lebih suka sambal yang cenderung bercitarasa agak manis, yang nggak sopan lebih saya suka dibanding satunya.



Kalau Anda termasuk penggila kerang ijo, menu yang satu ini endang bambang. Namanya Kerang Ijo Bumbu Lumpur. Kerang dalam ukuran cukup besar berbalut bumbu halus dengan rasa manis yang dominan. saya rasa ada gula aren di dalamnya. Ada nuansa "legit" soalnya. Dan saran saja, kalau makan menu sebaiknya nggak usah pake sendok, sesapi kerang ijonya dan rasakan nikmat bumbu lumpurnya.


Cuma sayang, ketika temen saya sempet minta tambah seporsi  (ditawarin soalnya) saya ikut makan untuk yang kedua kalinya, bumbunya agak terasa "mblengeri" ya? Mungkin karena dominan manis? Barangkali akan lebih nikmat lagi kalau ada sedikit nuansa "hangat" di bumbu lumpurnya ini. Hmm, toleransi saya pada citarasa manis memang terbatas saudara-saudara.



Dan sebagai penutup - yang justru dihidangkan pertama kali :D, ada es ijo. Campuran serutan timun suri, biji selasih, jelly dan air sirup (entah sirup apa...mungkin coco pandan atau melon karena rasanya kok nggak familiar ya). menggunakan timun sebagai bahan minuman atau makanan memang agak tricky. Karena kalau memilihnya agak kurang bener saja, bisa bikin timun muda yang dagingnya masih agak pahit bisa sedikit mengganggu. Kebetulan semalem saya dapet serutan yang agak pahit. Untung saja saya tidak terlalu keberatan dengan rasa pahit pada minuman.



Sampan Seafood ada di Jl. Dr. Wahidin No. 91. Kalau bingung, cari saja gedung Harley Davidson yang segede gaban, nha, sampan ada persisi di sampingnya. Banyak paket menu yang ditawarkan. Selain itu tempatnya juga lumayan cozy lho. Desain restonya bisa dibilang cukup homy. Harganya juga standar resto seafood lah ya? Ikan dijual per ons, sesuai dengan harga pasar, jadi konsumen bisa bayar sesuai dengan porsi berat ikan atau seafood yang dimakan.


Masih terlalu awal buat saya mengatakan kalau makanan di resto ini enak. Karena saya baru menikmati beberapa varian menunya saja. Beberapa menu andalan lain masih menanti untuk dicoba. Tapi kesan pertama...bolehlah. Mungkin kalau saya cukup beruntung, punya cukup waktu dan punya cukup duit, saya mau mampir lagi.


Membandingkan dengan resto seafood lain yang ada di semarang pun seperti bukan porsi saya. Berhubung saya ini juga belum menjelajah dari satu resto seafood ke resto lainnya. Jadi yaaaa...masih belum bisa memutuskan mana yang lebih enak, mana yang lebih murah, mana yang lebih banyak porsinya, dan mana yang sebaiknya dijadikan langganan.


Tapi yang pasti, makan seafood itu memang harus bijak.


1. Bijak pada kolesterol tubuh Anda. Kalau termasuk yang kadar kolesterol jahatnya tinggi, sebaiknya konsultasi ke dokter. Karena menu seafood sebagian besar juga mengandung banyak kolesterol.


2. Bijak pada kantong. Kalau emang cuma buat makan berdua, sebaiknya pilih yang ukuran porsinya standar. Nggak usah ribet menjaga image di depan pacar Anda dengan memesan porsi yang besar. Apalagi kalo pacar anda termasuk yang menthel luar biasa, makan cuma seiprit. Sayang-sayang. Cuma buang duit.


3. Bijak pada jenis menu seafood yang anda konsumsi. WWF mengeluarkan daftar seafood mana yang layak dan tidak layak, terkait dari bagaimana makanan-makanan itu dipanen dan dibudidayakan. Kunjungi situs WWF untuk info lebih lanjut.


Bon Apetite...



terima kasih untuk Owner Sampan Seafood atas undangannya, dan terima kasih untuk @thianongnong karena sudah menyertakan saya jadi salah satu tamu undangan re-opening Sampan Seafood. Untuk info lebih lanjut soal resto ini silakan hub. 024-8509880/81 atau follow twitternya di @sampanseafood dan situsnya www.sampanseafood.com pin BB : 25752f85
 
Update : Sampan Resto sudah tutup dan tidak beroperasi lagi 

2 Comments

  1. tulisannya udah keren nih, temanya simple dari ini pasti keren :D

    ReplyDelete
  2. temanya apa enaknya mas? hehehe..thx in advance

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.