Iklan bilang, "Nggak kotor ya nggak belajar". Kalau orang tua bilang "Nggak salah ya nggak belajar" - walopun nyatanya mereka tetep aja ngamuk-ngamuk sama anaknya kalo mereka melakukan kesalahan. Orang tua yang aneh...


BTW, kalau mau jadi blogger yang profesional, harus siap semuanya. Siap-siap kecewa. Siap-siap kaget. Apalagi kalo urusannya sama makanan. Sudah berani kasih label sebagai tukang makan, tukang review makanan, tapi masih pula amatiran, kaya saya, yang kalau makan musti bayar sendiri, berarti ya emang harus siap. Siap kecewa, siap ternganga-nganga. Ngoook!


Tapi, walaupun saya bukan tipe blogger kuliner yang lidahnya udah terasah, dan reviewnya terpercaya dan jadi acuan makan orang-orang, tapi saya juga tipe blogger yang modelnya suka penasaran. Nah, malam ini ceritanya saya jalan-jalan nih sama temen-temen. Satu berkawat gigi, satunya berkacamata. Sama-sama kurus, cuma beda kelamin. (sssstt..kayaknya mereka berdua ini ada ehem...)


Nah, berhubung di dompet saya ada voucher diskon makan 30%, malam ini saya ajak mereka makan di sebuah restoran sunda bernama Sembara...eh salah, kalau itu musuhnya Mak Lampir. Yang bener adalah Sambara. Mbuh kui artine opo. Urang sunda? neng geulis? akang kasep? Sambara teh naon artina ya?


Ceritanya itu voucher adalah hasil dari "perez" sama temen yang hobinya jalan-jalan. Secara skala jalan-jalannya udah dalam tahap tingkat dewa, gimmicknya pun macem-macem dia ini. Dari mulai voucher hotel sampai voucher makan. Hidupnya penuh dengan voucher! beruntung sekali dia...Nah, 30% buat dia mah belum apa-apa. Tapi buat saya, 30% diskon itu sudah luar biasa! Meskipun di bawahnya ada syarat dan ketentuan berlaku "Hanya berlaku untuk pembelian 100 ribu keatas."


Nyahok!!! makan apalagi biar kuotanya terpenuhi? akhirnya 2 teman saya, yang sama-sama kurus ini saya culik buat makan malam bersama. Berharap mereka bisa memenuhi kuota belanja dan voucher 30% benar-benar punya makna.


Terus terang, walo deket dengan rumah, tapi resto ini baru sekali ini saya kunjungi. Begitu masuk, sudah disuguhi lagu bernuansa sunda yang kental dengan tiupan serulingnya. eleuh...eleuh...rasanya seperti berada di sawah, dengan hamparan padi  nan menghijau, burung-burung gelatik kesana kemari, dan angin yang bertiup sepoi-sepoi.


seorang eneng menyambut kami berdua - awalnya cuma saya dan si kurus berkawat gigi, karena si kurus berkacamata nyusul kemudian. Si eneng menawarkan mau duduk dimana, di area merokok atau yang bebas asap rokok. Padahal sih kalo saya lihat juga nggak ada bedanya. Masih satu ruangan. Cuma beda disekat sama divider yang bolongnya juga gede. Hmmm..ndak tahu apa ya kalau asap rokok juga bisa nembus kemana-mana. Tapi ya sudahlah, kesopanan si eneng yang bikin saya seneng.


Lalu di sisi kiri pintu masuk ada meja panjang berisi menu makanan yang bisa dipilih. Beneran bingung karena jumlahnya banyak kayak di warteg. Ada ayam goreng, ayam bakar, iga bakar, sup ikan, tempe, tahu, segala macam sambel, wah..pokoknya macem-macem lah. Cuma karena kami datang udah agak malem, jadi ya tampilannya sih agak kurang menarik yakh? soalnya jumlah dikit gitu, tinggal cuma buat berapa porsi..berapa porsi, jadi yaaaa..agak keliatan kurang seger sih. Mungkin kalo datengnya siang bisa lebih mengundang selera kali ya?


nah, setelah bingung dan rada ndeso, saya dan temen saya, si kurus berkawat gigi memesan menu ini :


1. Nasi panggang ikan asin


2. Ikan mas Bakar lada hitam


3. Iga sapi Lada Hitam


4. Bandeng Cabut Duri


5. Tempe goreng 2 biji


6. Tahu Goreng 2 biji


7. Terong Balado


8. Jus Tomat


9. Jus Cikurai - mix markisa, strawberry dan apa tadi lupa isinya.


sementara si kurus berkacamata nyusul dan pesen menu


1. Paru Goreng


2. Ikan asin jambal


3. Tahu Goreng


4. dan Jus Tomat


Menurut perhitungan sih ini udah lebih dari 100 ribu jadi ya nggak sia-sia vouchernya.


Nyam-Nyam....lalu kami mulai makan...



yang ini adalah iga sapi lada hitam. Dibandingin sama iga penyet di warung sebelah Sambara, yang ini menurut saya sih jauh lebih enak. dagingnya lembut. Nggak sekedar tengkorak sapi yang disuguhkan. walo yang di warung sebelah juga nggak tengkorak-tengkorak juga sih, tapi yang ini dagingnya lebih banyak. Rasanya pedas meski bumbunya nggak selegit punya warung iga penyet yang ada di sebelah. Nah, ada lebih ada kurangnya. Kalo suka iga yang emang legit bumbu dan banyak kecap, bisa ke warung Leko. Tapi kalo suka yang berbumbu spicy tapi nggak begitu juicy, bisa ke Sambara. satu porsi iga ini harganya 26 ribu.



ini adalah menu pesenan si kurus berkawat gigi. Ikan Mas Bakar Lada Hitam. kalau menurut saya bumbunya lumayan. Tumbukannya kasar, jadi beneran kerasa ladanya. Meski nggak pedes-pedes banget juga si. Cumaaaa, buat saya tastenya terlalu asin. Ndak terlalu cocok di lidah saya. Ikannya juga terlalu kering. Buat saya, ikan bakar itu jangan terlalu kering. Yang ini dagingnya hitam sampai ke dalam. Mungkin gorengnya kelamaan sebelum dibakar, jadinya nggak empuk dan...kelihatan kurus kering tuh ikan. Ini ikan segar lho, karena didisplay beneran di meja. Untuk seporsi ikan emas bakar dengan ukuran yang nggak terlalu besar, harga 50 ribu buat saya sih terlalu mahal ya? tapi nggak tahu juga ikan mas itu dipasaran berapa per ons-nya (biasanya sih dihitung per ons) cuma ya...untuk ikan segitu, 50 ribu bikin saya agak terkejut : Ngook!



Bandeng Fitnes Cabut Duri..hehehe...itu nama pemberian saya sendiri. Kenapa? karena dagingnya getas! Bukan salah olah sodara-sodara. Bandeng ini mungkin memang sudah melewati proses pengasapan dan pengeringan terlebih dulu sepertinya karena daging bandeng cabut duri ini benar-benar kering dan padat. Bandeng adalah salah satu ikan dengan tekstur daging yang empuk dan cenderung "ambyar", tapi yang satu ini mampat. sehingga apabila anda makan dengan sendok, seperti saya, anda juga bakal ikut kenceng karena harus berusaha sedikit ekstra keras untuk mendapatkan daging bandeng yang besarnya juga nggak seberapa. Jadi saran saya, makan dengan tangan kosong dan nggak usah menthel...sikat saja! oh btw, bandeng cabut duri ini memang bener-bener tanpa duri. Tapi masih nyisain sirip. Nah, sirip bandeng yang saya makan ini kebetulan masih keras dan sangat mengganggu. Image "tanpa duri" yang akan memudahkan kita makan, akan sedikit tercemar dengan keberadaan sirip yang sama sekali nggak garing dan "berbahaya". Jadi you musti ati-ati. Soal rasa, yaaaa..biasa saja menurut saya. Kalau seporsi bandeng ini dihargai 31 ribu, mahal nggak?



sesungguhnya ini adalah makanan favorit saya sejak jaman dulu kala. Terong Balado. Sama nasi putih panas, kerupuk, sudah..dan saya akan merasa berada di puncak dunia. Bahagia itu sederhana. Hanya karena sebuah terong balado. Tapi bisa jadi nggak enak kalau nggak bisa ngolahnya. seperti terong balado bikinan tukang masak di kantor saya...amburadul. Nah, yang ini hampir mirip dengan buatan mama di rumah. Terong balado ala Sambara ini bertekstur agak renyah dan kering. Dengan sambal yang juga tidak terlalu juicy karena dimasak dengan sedikit minyak. Tak masalah. Saya suka. Saya malah ndak terlalu "into" terong balado yang minyaknya "naudzubillah". Nha, terong ini, saya ndak tahu harganya..hehehe..soalnya di strook nggak tercantum. Tapi sepertinya sih ini lauk pendamping yang memang disajikan tanpa dijual per porsi.


selain beberapa menu di atas, saya dan sikurus berkawat gigi juga pesen nasi panggang asin jambal. Menurut saya, nasi bakar yang enak itu ya cuma bikinan Bu Dibyo, pendengar radio yang asalnya dari kudus. Itu baru enak! Hahaha. Etapi yang ini juga lumayan, meski masih berpenampilan layaknya serupa nasi berbumbu biasa. Di dalam sebungkus nasi ini anda akan menemukan sepotong sereh. Yang abis dari mak erot atau cucu-cucunya dan belum ada seminggu dilarang makan nasi ini karena "terong" Anda bisa mendadak kembali mini. Kata orang sih begituuu...pantangannya makan sereeeeh. Wallahu alam. Tapi yang pasti selain sereh ada juga "seiprit" jambal asin dan beberapa potongan cabe rawit matang. Buat yang nggak suka pedes, ati-ati dengan ranjau ini. Yang suka pete, ada juga beberapa iris pete. tapi kalo yang enggak sebaiknya nggak usah nyoba. Seporsi nasi panggang ini harganya 12500. Lumayan sih bentuknya. Gede...bulat..panjang..padhet...bungkusnyaaaaa.


Oh ya, si kurus berkacamata pesen jambal asin, paru goreng dan tahu. Saya ndak tahu rasanya...ndak nyobain. Tapi parunya sih anyep. Yaaaa..harusnya sih makan ama sambel, tapi dasar si kacamata nggak doyan pedes kali ya, makanya dia makan cuma nasi sama paru doang. Bisa-bisanya....tsk..tsk...tsk...


Nah,menurut saya nih, yang paling enak dari menu yang saya makan tadi adalah minumnya. Jus Cikuray! Juara segernya! Sampai ampas terakhir tuh jus endes markendes...seger. Manisnya pas, asemnya pas, dinginnya juga pas. Porsinya yang buat saya nggak pas. Karena saya mau lagiiiiiii!!! yang itu kekecilan! Saya mau gelas yang jumbo!!! #LaluSayaDigamparSamaYangPunyaResto


Makan-makan kami bertiga berakhir dengan sukses. Si kurus berkacamata yang bernama Thia itu memberikan saya banyak cerita dan informasi. Bahwa dalam beberapa hari ke depan saya berkesempatan untuk makan seafood di Sampan resto. Yes!! Gratis! Dan tentu saja makan malam ini memberikan saya pelajaran bahwa kalau sudah niat jadi blogger, ya memang harus nyemplung total sampai bangkrut. Eh, maksudnya...ya kalo udah basah, nyebur aja sekalian.


Berhubung saya ini blogger amatir dan belum punya nama (mungkin juga nggak bakal punya, sampai kapanpun tetep aja amatiran), saya harus bayar makan malam itu. Karena nggak diundang buat ngereview, hehehe. Dan saya jadi tahu kalau tingkatnya masih pemula, blogger kudu siap. Siap kecewa, siap kaget.


Kecewa karena makanannya biasa-biasa aja...


Kaget karena harganya luar biasa....


dan malam ini saya habis 149 ribu...


setelah dipotong voucher 30%...



Update : Sambara resto Semarang sudah tutup dan tidak beroperasi lagi


6 Comments

  1. huahahah.. makasih lho mas traktiranyyaa..

    hihiii..

    menurut aku yg pernah 13 tahun hidup di sunda, agak kurang gimana gt makanannya, sundanya masih kurang dapet, karena ga ada oncom leuncaaa

    ReplyDelete
  2. kamu ditraktir pasangan yang baru jadian itu apa malah kamu traktir mereka No ?

    ReplyDelete
  3. tidak masalah siapa yang traktir kakak, yang penting saya bahagia, mereka juga #eh

    ReplyDelete
  4. lha kui mas....hahaha, kok isa g inget dirimu ya si Thia itu? tsk..tsk..tsk.. #aduDomba

    ReplyDelete
  5. ih, kamu frontal..padahal aku mau nulis "makanannya kurang enak..." tapi aku ga tega..hahaha

    ReplyDelete

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.