Mari kita sejenak menengok pada sejarah dari Kota kita tercinta. Dimana salah satu bagiannya menjadi saksi dari peninggalan akulturasi budaya, yang ironisnya didapat dari proses yang tidak menyenangkan. Tidak ada yang setuju pada perang. Tidak ada yang menyenangkan dari apa yang disebut sebagai penjajahan. Tapi itu terjadi. Dulu. Pada negeri ini, pada kota ini. Dan sisanya, saksi dari apa yang terjadi berpuluh tahun lalu, semakin tergerus jaman, meski kadang masih menghadirkan nostalgia tersendiri bagi banyak orang.


Bagi Semarang, kawasan kota lama adalah bagian yang seperti dibuang sayang. Punya banyak kenangan, tapi sekaligus nyaris terlupakan. Kota lama menjadi landscape yang hanya sekedar dikunjungi tapi terasa tak dimengerti. Pesan sejarah itu hilang pelan-pelan. Warisan itu seperti tak berarti.


Banyak peninggalan sejarah kota lama yang tak terawat dengan baik, hingga rusak dimakan jaman. Padahal di waktu dulu, kawasan ini menjadi bagian yang "bermartabat". Salah satu sudutnya bahkan mampu membuat Semarang disebut sebagai Venesia dari Asia. Tapi itu dulu. Sekarang denyutnya tentu saja berbeda. Tidak ada yang salah dari ini. Tapi kota lama seakan kalah dengan aroma moderenisasi. Dan akhirnya, hanya mampu membisu tanpa bisa berbuat apa-apa.


Dibutuhkan kepedulian dari banyak elemen masyarakat untuk membuat kawasan ini kembali bermartabat. Setidaknya, mampu membuat kota lama kembali bercerita tentang sejarah dimasa silam. Untuk itulah Festival Kota Lama ada.


Perayaan pada kebanggaan sejarah kota semarang diwujudkan dalam suatu kegiatan yang digagas oleh pemuda-pemuda yang peduli pada kawasan ini. Paling tidak begitulah niatan awalnya. Mereka ingin menghidupkan kembali kawasan kota yang selama ini hanya dianggap antik karena namanya dan sekedar jadi landscape untuk berburu gambar. Harapannya dalam jangka waktu yang cukup panjang, impact nya bisa lebih baik daripada itu.


Sejak dibuka tanggal 5 lalu, Festival Kota Lama mampu menghadirkan rasa penasaran tersendiri bagi banyak warga Semarang. Berkat kekuatan dari media sosial, Festival ini mendapat perhatian yang cukup bagus, dan sebagian besar dari massa berusia muda. Kota lama "dibangunkan" selama 2 hari ke depan dengan banyak agenda. Dari mulai yang komersil hingga yang bermisi khusus.


Meski nama dan nuansa yang dibangun terkesan kuno, tapi festival ini tetap menyuguhkan nafas modern. Karena bagaimanapun juga festival ini tak hanya menghadirkan nostalgia bagi mereka yang dulu sempat menikmati masa jaya kawasan ini diwaktu muda, tapi juga menjadi ajang pengenalan bagi generasi sekarang.




Gereja Blenduk masih menjadi daya tarik utama dari tempat ini. Gereja tertua di Jawa Tengah yang dibangun tahun 1793 ini (wikipedia-red), menjadi landscape utama dari Festival Kota Lama. Bahkan tak hanya sekedar menjadi latar belakang semata, tapi ada pula kegiatan yang dilangsungkan di dalamnya. Salah satunya adalah acara music for charity.




Hal menarik lainnya adalah kehadiran beberapa kendaraan kuno yang tidak hanya bisa digunakan sebagai latar belakang foto, tapi bisa juga digunakan pengunjung untuk berkeliling kawasan kota lama dengan tarif 20-50ribu. Untuk Anda yang ingin merasakan bagaimana naik mobil kuno, pilihan kegiatan ini menjadi sesuatu yang menarik dan tentu saja akan memberikan kesan tersendiri.



Bagi kolektor barang antik, tak ada salahnya melihat-lihat beberapa stand yang pastinya akan membuat Anda terngaga. Mungkin saja Anda bertanya, "darimana barang-barang ini berasal". Tentu saja Anda tak akan mendapatkan jawaban yang pasti dan memuaskan. Tapi biarlah "mereka" yang bercerita tentang sejarahnya sendiri.




Sekilas, ketika Anda berkunjung ke festival ini, ada kesan bahwa kegiatan ini tak lebih dari ajang komersialisasi kawasan kota lama. Tak salah jika ada pendapat yang mengatakan Festival ini tak ubahnya hanya sekedar kegiatan yang tujuannya ekonomis karena saking banyaknya pilihan tenda yang hampir semuanya menjajakan makanan. Tapi bagaimanapun juga ini sebuah kebutuhan. Dan setidaknya kehadiran stand-stand ini mampu memberikan gambaran bahwa geliat bisnis di Semarang mampu bersaing dengan kota lainnya.



Satu hal yang patut disayangkan dan sudah seharusnya menjadi perhatian kita bersama adalah keberadaan sampah yang berserakan di sekitar kawasan ini. Kota lama yang seharusnya menjadi objek utama dari kegiatan ini seakan hanya menjadi sekedar tempat berlangsungnya acara, tidak lebih. Saya merasa Kota Lama dimanfaatkan. Dicatut namanya untuk kegiatan komersil yang pada ujungnya justru merugikan Kota Lama itu sendiri.


Saya banyak melihat sampah disana-sini. Kuantitas tempat sampah yang tak sepadan dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Tindakan yang kurang cepat dari panitia pelaksana, dan rendahnya kesadaran pengunjung justru menciderai keberadaan Kota Lama. Itulah kenapa saya bilang, "Kota Lama dimanfaatkan".


Masalah sampah adalah masalah yang laten dimanapun kegiatan berlangsung. Dibutuhkan perencanaan yang matang untuk masalah ini, terutama untuk kegiatan sekelas Festival Kota Lama. Tempat yang seharusnya menarik, justru menjadi tak menyenangkan untuk dilihat karena keberadaan sampah yang tak ditempatkan pada tempat yang semestinya.


Panitia harusnya siap dan sigap dengan hal ini. Penyediaan tempat sampah yang memadai. Pembersihan yang terjadwal sehingga mampu menjaga tempat berlangsungnya acara tetap bersih, apalagi terlihat pengunjung kegiatan tak hanya dari penduduk lokal saja, tapi beberapa turis asing pun terlihat mengunjungi kegiatan ini. Apa yang kelak mereka bagi ke orang tentang Festival ini? saya yakin salah satunya adalah betapa kotornya Kota Lama dan betapa tak pedulinya kita.


Ini adalah pekerjaan rumah yang perlu dievaluasi demi kemajuan event dimasa datang. Mungkin dalih "karena baru pertama kali" masih bisa diterima. Wajar jika masih ada kekurangan disana-sini. Tapi semoga kelak, jika kegiatan ini kembali dilaksanakan, semuanya bisa lebih baik lagi.


Bagaimanapun juga, lepas dari ktidaksempurnaan disana-sini, kegiatan seperti ini layak untuk diapresiasi. Geliat kaum muda kota semarang dalam memperkenalkan Semarang, yang tak hanya sekedar slogan sebagai "Pesona Asia" - yang dianggap gagal oleh banyak pihak, mampu memberikan nafas tersendiri bagi kota Atlas tercinta sehingga kota Semarang sejajar dengan kota-kota lain yang dianggap lebih maju. Meski kemajuan itu adalah mutlak, tapi cita-cita untuk mempertahankan budaya dan nilai-nilai sejarah masih perlu untuk dilakukan. Karena generasi mendatang harus belajar tentang masa depan, dari masa lalu.


Sekedar oleh-oleh untuk Anda, dari festival kota lama....enjoy!




Sampai Jumpa di kegiatan-kegiatan lainnya.

1 Comments

Punya uneg-uneg? Jangan disimpan. Tulis di sini.